Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Logo Kadin Indonesia. Foto: IST

Logo Kadin Indonesia. Foto: IST

Kadin Minta Pengusaha Tingkatkan Kerja Sama dengan Pakistan

Kamis, 29 Oktober 2020 | 15:16 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Wakil Ketua Komite Tetap Timur Tengah dan OKI Kadin, Mufti Hamka Hasan, meminta pengusaha Indonesia mempererat kerja sama dengan pengusaha Pakistan. Menurut dia, peluang bisnis bersama Pakistan tidak hanya datang dari ekspor, tetapi juga impor. Pasalnya, selama ini Pakistan mengalami defisit neraca dagang yang cukup besar dengan Indonesia sehingga mereka kerap meminta defisit tersebut dipersempit.

"Untuk bisa punya hubungan dagang yang nyaman, kami membawa jeruk kino, yang merupakan salah satu produk ikon mereka, masuk ke Indonesia. Tapi ada kendala juga karena jeruk kita sebdiri juga banyak sehingga kita hanya bisa mengimpor kalau sebelum musim panen saja," kata Mufti dalam webinar "Peluang Indonesia dalam Transformasi Ekonomi Pakistan", Kamis (29/10).

Apalagi, Indonesia telah memiliki perjanjian Preferential Trade Agreement dengan Pakistan. Dengan perjanjian ini, beberapa komoditas Pakistan tidak terkena tarif masuk ke Indonesia. Pengusaha tinggal memetakan komoditas yang potensial dijual di pasar dalam negeri.

Selain itu, pengusaha kedua negara juga bisa bekerja sama untuk berinvestasi di sektor pengolahan kelapa sawit. Karena selama ini Indonesia menjadi pemasok utama kelapa sawit ke Pakistan. Hanya saja, Indonesia tetap belum terlalu dikenal di Pakistan karena hanya mengimpor bahan mentah.

Sektor makanan, kata Mufti, juga potensial untuk dikembangkan oleh pengusaha Indonesia di Pakistan. Menurut dia, dengan jumlah penduduk mencapai 220 juta, warga Pakistan tidak mungkin hanya mengkonsumsi makanan dalam negeri. Potensi ini dapat diambil pelaku usaha Indonesia lantaran masakan Pakistan serupa dengan masakan Indonesia yang membutuhkan banyak bumbu.

"Seperti ayam geprek, kenapa kita nggak franchising dengan perusahaan-perusahaan di Pakistan. Selain low material, itu juga bisa meningkatkan branding produk Indonesia di sana. Kita harus berani mengajak UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dalam hal ini," imbuh Mufti.

Dalam kesempatan yang sama, Dubes RI untuk Republik Islam Pakistan, Iwan Suyudhie, mengakui bahwa produk Indonesia, selain kelapa sawit, belum seterkenal produk asal Malaysia dan Thailand. Pangsa pasar kelapa sawit Indonesia di Pakistan mencapai hingga 80% dari total kebutuhan. Sisa 20% kebutuhan kelapa sawit Pakistan diimpor dari Malaysia. Saat ini, pemerintah pun tengah berusaha mendiversifikasi produk yang diekspor ke Pakistan.

Iwan juga meminta pelaku usaha memanfaatkan peluang ekonomi di Pakistan yang tengah membangun China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) dan infrastruktur strategies lain. Pengusaha Indonesia juga bisa berinvestasi di sektor yang potensial di Pakistan, seperti transportasi, transmisi listrik, dan pembuatan vaksin. Untuk komoditas yang masih potensial diekspor antara lain minyak sawit, teh, jahe, pestisida, dan otomotif.

"Pakistan juga bisa menjadi hub ekspor sawit ke Timur Tengah dan Asia Tengah," ucap Iwan.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, sepanjang 2015-2019, nilai perdagangan Indonesia dengan Pakistan naik rata-rata 5,11% per tahun. Sepanjang periode tersebut, Indonesia terus mencatatkann surplus, tetap nilainya turun rata-rata 3,09% per tahun. Pada Januari-Augustus 2020, Indonesia mencatatkan surplus nerca dagang dengan Pakistan senilai US$ 1,17 juta.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN