Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

KBRI Swiss Siap Jelaskan Skema Keberlanjutan Sawit

Kamis, 9 Juli 2020 | 11:42 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id - Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman Hadad mengatakan KBRI telah melakukan pendekatan ke berbagai pemangku kepentingan untuk memperbarui perkembangan dan menjelaskan data dan fakta yang sesungguhnya terkait kelapa sawit.

"Dalam waktu dekat KBRI dan Kadin Swiss akan melakukan business conference dengan seluruh pengusaha Swiss untuk membicarakan pentingnya Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE-CEPA) bagi Swiss dan Indonesia," kata Muliaman Hadad, dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (7/7).

Menurut dia, lahirnya referendum sawit karena ada kelompok yang tidak setuju dengan IE-CEPA karena minyak sawit masuk di dalamnya.

Ketua DK OJK Muliaman D Hadad.
Muliaman D Hadad.

"Sebelum Pemerintah Swiss meratifikasi suatu perjanjian dengan negara lain, diberi kesempatan kepada masyarakat untuk mengemukakan pendapat atas perjanjian tersebut. Dalam hal IE-CEPA, kita harus menghormati proses politik di Swiss dan tidak bisa mencampurinya," katanya.

Namun demikian, kata Muliaman, pemerintah, parlemen, dan mayoritas masyarakat Swiss pada prinsipnya sangat mendukung dan tahu bahwa sawit yang diekspor dari Indonesia adalah sawit yang berkelanjutan.

"Skema keberlanjutannya akan didiskusikan dan disetujui bersama antara Indonesia dan Swiss," katanya.

Muliaman menambahkan minyak sawit merupakan sektor penting dengan kontribusi pendapatan ekspor yang cukup besar bagi Indonesia, untuk itu Indonesia akan menjelaskan kepada Pemerintah Swiss bahwa keberadaan minyak kelapa sawit tidak bermasalah.

Bahkan, lanjutnya, dengan produktivitasnya yang tinggi per hektare, pemanfaatan minyak sawit hanya menggunakan lahan yang lebih sedikit dibandingkan produksi minyak nabati lain.

Muliaman mengatakan Pemerintah Indonesia taat dalam mengikuti berbagai aturan internasional untuk mengurangi laju deforestasi global, antara lain dengan memberlakukan moratorium sawit dan kewajiban penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). (gr)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN