Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Banking School (IBS) menggelar Sustainable Finance: From Niche to New Normal, Jumat (7/8) .

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Banking School (IBS) menggelar Sustainable Finance: From Niche to New Normal, Jumat (7/8) .

Keberlanjutan Jadi Filosofi Investasi di Masa Pandemi

Jumat, 7 Agustus 2020 | 16:45 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id  – Pandemi Covid-19 telah mengubah paradigma konsumen, dunia bisnis, dan pemilik aset (investor) mengenai pentingnya aktivitas yang bertanggung-jawab. Banyak investor yang kemudian memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap keputusan investasi dan alokasi modal dengan menjadikan keberlanjutan sebagai filosofi investasi mereka.

"Bagi dunia bisnis dan pemilik aset, investasi berkelanjutan bukan sekadar nice to invest tetapi menjadi sebuah new-normal. Sehingga diperlukan strategi dan inovasi untuk menjadikan keuangan berkelanjutan sebagai filosofi dan tujuan investasi dalam kegiatan investasi new-normal mereka," ungkap Ketua IBS Kusumaningtuti Sandriharmy Soetiono dalam seminar online (webinar) umum bertajuk Sustainable Finance: From Niche to New Normal, yang digelar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Indonesia Banking School (IBS), Jumat (7/8) .

Webinar kali ini menghadirkan Muliaman D. Hadad yang pernah menjabat sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2006 - 2011 dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2012-2017. Sedangkan moderator, yakni Ira Geraldina dosen Prodi S1 Akuntansi STIE IBS.

Disebutkan bahwa hal ini sejalan dengan roadmap OJK mengenai Keuangan Berkelanjutan yang memasuki tahapan Strengthening Resilience (periode 2019-2024). Pada tahapan ini, industri jasa keuangan ditargetkan untuk memperkuat manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik pada aspek sosial dan lingkungan.

Di acara webinar ini dipaparkan bagaimana dukungan OJK agar keuangan berkelanjutan menjadi praktek yang mainstream pasca pandemi Covid-19, untuk mempercepat penguatan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan untuk aspek sosial dan lingkungan.

Dalam kesempatan tersebut, Muliaman mengatakan, sangat penting bagi kita untuk membuat agenda susulan sustainable finance pasca Covid-19 nanti. “Covid ini berubah banyak hal. Sangat mempengaruhi kemanusiaan di seluruh dunia. Semua negara terganggu. Ini luar biasa, ekstra ordinary, jauh lebih dahsyat dari krisis sebelumnya,” paparnya.

Menurut dia, justru pandemi ini yang menyadarkan kita betapa pentingnya isu-isu sustainable finance ke depannya. Selain itu, Covid juga memunculkan kesempatan untuk membuat langkah-langkah persiapan, terutama di industry keuangan pada saat recovery pasca Covid. Sustainable finance itu menyangkut isu-isu lingkungan, sosial dan pemerintahan.

Terkait dengan UMKM, di saat sekarang UMKM justru terpukul cukup berat tidak seperti krisis sebelumnya dimana kita masih bisa berharap UKM menjadi lokomotif. “Kita perlu usaha khusus agar UMKM kembali jadi lokomotif. Saya pikir, pemerintah sudah banyak membantu melalu program binaan, bantuan, pinjaman, dan sebagainya. Tentu saja, kedepan tidak hanya sampai pada level resilience,” tandasnya.

Sivitas akademika IBS berharap agar seluruh peserta webinar mendapatkan deep insight dari tangan pertama tentang bagaimana kebijakan itu dirumuskan dan diterapkan, sebagai langkah antisipasi untuk meredam dampak Pandemi Covid 19.

IBS juga menyediakan program beasiswa untuk mahasiswa berprestasi baik akademik dan non akademik. Salah satu beasiswa itu, antara lain berupa keringanan uang pangkal. Dengan adanya program beasiswa ini memberikan kesempatan kepada seluruh siswa SMA dan sederajat untuk memperoleh pendidikan yang layak.

Dalam kesempatan webinar kali ini, dan di masa pandemi covid-19, IBS bekerjasama dengan Bank BRI, Bank DKI, Bank Sinarmas, Bank Ganesha dan Fintech ALAMI Sharia memberikan beasiswa pendidikan dari Fintech Alami Sharia dan Sertifikasi kepada mahasiswa yang secara ekonomi kurang mampu dan berprestasi.

Adapun program beasiswa ini meliputi Beasiswa Pendidikan Start senilai Rp 19 juta, di mana calon mahasiswa yang terpilih dibebaskan biaya tes, uang pangkal dan uang semester pertama. "Donasi ini akan membantu mahasiswa berprestasi untuk memulai perkuliahan semester pertama di masa pandemi Covid-19," kata Kusumaningtuti.

Beasiswa Study diperuntukan untuk mahasiswa yang berprestasi namun secara ekonomi kurang mampu dan sedang menempuh pendidikan di IBS pada semester pertama. Maka akan mendapat bantuan senilai Rp 12 juta untuk biaya kuliah dan sertifikasi profesi pada akhir masa perkuliahan.

Terakhir adalah beasiswa Graduation diperuntukan bagi lulusan terbaik dari SMA Negeri yang berasal dari keluarga kurang mampu, namun berprestasi, berupa pembiayaan kuliah selama 8 semester dengan nilai beasiswa Rp 96 juta.

Calon penerima beasiswa diseleksi dan yang terpilih selain nilainya terbaik, juga harus aktif berorganisasi, memiliki prestasi non akademis, atau kegiatan sosial yang mempunyai dampak kebermanfaatan bagi masyarakat.

Editor : Euis Rita Hartati (euis_somadi@yahoo.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN