Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan media briefing di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat menyampaikan media briefing di Jakarta, Rabu (22/4/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Kekhawatiran Gelombang II Covid-19 Picu Pelemahan Rupiah

Rabu, 19 Agustus 2020 | 17:41 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) menyebut, kinerja rupiah yang melemah beberapa waktu terakhir lebih disebabkan oleh faktor teknikal, bukan dikarenakan faktor fundamental. Sehingga, fenomena ini diperkirakan terjadi hanya untuk jangka pendek.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, kinerja rupiah melemah disebabkan oleh kekhawatiran terhadap terjadinya gelombang kedua pandemi Covid-19, prospek pemulihan ekonomi global, dan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global akibat kenaikan tensi geopolitik Amerika Serikat (AS)–Tiongkok.

“Kekhawatiran yang sama berlanjut sehingga rupiah pada Agustus 2020 kembali mendapat tekanan yang per 18 Agustus 2020 mencatat depresiasi 1,65% secara point to point atau 1,04% secara rerata dibandingkan dengan level Juli 2020,” tutur Perry dalam konferensi pers secara virtual terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG), Rabu (19/8)..

Jika mengacu data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Rabu (19/8) sore ini tercatat Rp 14.772 per dolar AS. Level ini di ditutup menguat 0,8% dibandingkan penutupan perdagangan Selasa (18/8) yang sebesar Rp 14.845.

Selain itu, ia mengatakan pergerakan rupiah dipengaruhi oleh dua faktor yakni, fundamental dengan indikator inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah, perbedaan suku bunga dalam dan luar negeri, prospek ekonomi Indonesia ke depan, dan indikator premi risiko yang menurun.

Sementara itu, faktor teknikal merupakan respons atas berita hari ke hari terkait perkembangan ekonomi Amerika Serikat, kemudian berita mengenai ketegangan hubungan antara AS dengan Tiongkok, dan berita dalam negeri.

“Kami yakini, pergerakan rupiah akhir-akhir ini lebih didorong oleh faktor teknikal jangka pendek, news. Sehingga rupiah ke depan akan menguat,” tutur dia.

Terlebih, ia mengatakan, perbedaan suku bunga surat utang pemerintah dalam negeri dan luar negeri akan menjadi daya tarik aliran modal asing masuk ke berbagai aset keuangan seperti portofolio, surat berharga negara, dan saham.

“Kami melihat, rupiah itu adalah secara fundamental undervalued dan berpotensi akan menguat ke depan sesuai dengan tingkat fundamentalnya,” tutur Perry.

 

Kinerja Rupiah Juli

Perry mengatakan, kinerja rupiah pada Juli 2020 melemah dan mencatatkan depresiasi 2,36% secara point to point atau 2,92% secara rerata dibandingkan dengan level Juni 2020. Kendati begitu, ia memastikan rupiah tetap dalam kondisi terkendali.

Selain itu, prospek pemulihan ekonomi yang menguat pada semester II-2020 juga dapat mendukung prospek penguatan nilai tukar rupiah.

“Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia terus menjaga ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun pasar valas dan memastikan bekerjanya mekanisme pasar,” pungkas Perry.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN