Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Diskusi virtual Infrastructure Connect Digital Series 2021 dengan tema

Diskusi virtual Infrastructure Connect Digital Series 2021 dengan tema "Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional", Kamis (7/10). (Ist)

Kemandirian Industri Baja Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Jumat, 8 Oktober 2021 | 20:56 WIB
Investor Daily

JAKARTA, investor.id -- Industri baja nasional yang mandiri diharapkan mampu mendukung tumbuhnya ekonomi nasional. Dengan metode Three Circular Economy, pengamat optimistis tujuan itu dapat segera terwujud. Three Circular Economy adalah sebuah analisa umum antara peningkatan produksi dalam negeri, konsumsi produk dalam negeri, penurunan impor serta adanya investasi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam diskusi virtual Infrastructure Connect Digital Series 2021 dengan tema “Menuju Kemandirian Industri Baja Nasional dalam Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional”, Kamis (7/10), Direktur Industri Logam Ditjen ILMATE Kemenperin, Budi Susanto mengungkapkan, Kemenperin sudah memiliki rencana induk pengembangan industri besi dan baja nasional. Rencana itu dibuat dari tahun 2015 sampai tahun 2035. Pada rencana tahap dua (tahun 2020-2024), target kapasitas produksi di akhir tahun 2024 sebesar 17 juta ton.

“Di bulan ke-4 tahun 2021 ini sudah mencapai 11,7 ton. Ini juga kalau dilihat dari targetnya (2021) ini 11,9 juta ton. Jadi kita sekarang masih kekurangan 0,2 juta ton. Mudah-mudahan dengan beroperasinya fasilitas LSM dari Gunung Rajapaksi yang 11 juta ton ini nanti bisa terpenuhi. Kemudian Cilegon karena kita sudah sebut sebagai kota baja kita juga canangkan ada klaster 10 juta ton. Ini merupakan bagian dari yang 17 juta ton. Nah ini di tahun 2019 sampai 2022 ini juga sudah ditetapkan sebesar 6,9 juta ton. Dan ini mudah-mudahan juga bisa terpenuhi, ” terang Budi.

Budi menjelaskan, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 5 Agustus lalu, sektor konstruksi yang membutuhkan banyak baja dan besi sebagai material konstruksi kini tumbuh 4,42%. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya realisasi belanja pemerintah untuk konstruksi yang mengalami kenaikan sebesar 50,52%. Kemudian, kebijakan PPnBM (Pajak Penjualan untuk Barang Mewah) untuk otomotif. Kebijakan ini juga mendorong pemakaian baja yang pada akhirnya meningkatkan impor besi dan baja.

Pada kesempatan yang sama, pelaku usaha di sektor industri baja, khususnya baja ringan, Stephanus Koeswandi mengatakan, ekonomi nasional bisa meningkat jika ada beberapa faktor pendukung seperti investasi, konsumsi, ekspor/impor, dan kemajuan teknologi.

“Yang kami pelajari, dari sini ekonomi nasional bisa meningkat kalau ada investasi, adanya konsumsi, dan juga ekspor impor. Kemudian yang terakhir teknologi. Dengan pengaplikasian Industri 4.0 ini (pertumbuhan ekonomi nasional) akan mempercepat lagi. Jadi 4 hal itu yang kami selalu usahakan di dalam perusahaan kami ini,” terang Vice President Tatalogam Group itu.

Namun demikian, pimpinan perusahaan baja ringan terbesar di Indonesia itu melanjutkan, saat ini masih ada beberapa permasalahan yang bisa menjadi batu sandungan dalam menggapai tujuan kemandirian baja nasional sekaligus mengancam keselamatan jiwa penggunanya di Tanah Air.

“Jadi yang banyak masuk sekarang ini adalah baja di bawah 0,2. Baja ketebalan inti 0,18-0,17-0,16. Ini banyak yang kami temukan. Dan tentu kalau dari produsen dalam negeri tidak bisa membuat baja dengan ketebalan seperti ini, karena semua baja yang diproduksi di Tanah Air itu sudah harus sesuai dengan SNI,” kata Stephanus.

“Tapi memang ada satu dua pelaku industri yang mengundang baja impor ini bisa masuk. Akibatnya, beberapa tahun ini banyak sekolah, rumah sakit, dan juga fasilitas umum lainnya yang ambruk. Terakhir itu di Pasar Weleri, Kendal. Ini kami mohon perhatiannya untuk baja-baja non standar ini,” harap Stephanus.

Lima Strategi Capai Kemandirian Industri Baja

Dia melanjutkan, ada lima strategi yang bisa dilakukan guna mencapai kemandirian industri baja nasional. Pertama adalah dengan menegakkan standar yang tegas dan wajib, khususnya untuk SNI dan meningkatkan TKDN.

Kedua, meningkatkan investasi industri baja yang mengedepankan teknologi yang ramah lingkungan. Karena itu, ia berharap pemerintah lebih selektif terhadap penanaman modal asing (PMA) sehingga state of the art pada Industri 4.0 memiliki DNA (device, network, and aplication).

“Karena kalau tak disaring, kita nanti akan menerima mesin bekas yang tidak ramah lingkungan, yang tidak sustainable. Nah, ini kami sangat concern untuk teknologi yang ramah lingkungan,” terang Stephanus lagi.

Strategi berikutnya, pelibatan UMKM secara massif menjadi strategi yang cukup berguna untuk meningkatkan industri kecil di pelosok-pelosok. Pelaku UKM/IKM ini juga harus dibekali dengan pelatihan-pelatihan dan sertifikasi agar mereka lebih berkembang.

“Strategi ke-4 yang kami lakukan sejak tahun lalu adalah peningkatan ekspor. Tujuan dari ekspor ini adalah kami ingin meningkatkan kualitas dan service agar memiliki produk dan pelayanan dalam industri baja dengan standar internasional,” jelas Stephanus.

Terakhir, strategi metode Inovasi CPM yaitu channel, product, marketing. Channel adalah cara distribusi dari pabrik hingga ke tangan pelanggan yang mengadopsi digital channel dan juga pelibatan UKM. Inovasi product yang tak pernah berhenti, kemudian marketing yang dapat menyentuh langsung ke pelanggan.

Marketing ini tentang bagaimana cara memasarkan dan menyentuh ke pelanggannya langsung. Jadi pandemi ini sedikit membawa inovasi bahwa dengan pandemi kami melakukan live streaming, live selling yang saat ini umumnya sudah banyak kita lihat di luar negeri,” ujar dia.

Value chain dari PT Tatalogam Lestari yaitu Tatalogam Group mulai dari bahan baku pelapisan, kemudian di-forming dan juga didistribusikan hingga sampai ke produk akhir yaitu domus, menjadi rumah.

“Yang terakhir tentang distribution channel kami. Distribution channel adalah untuk meminimalisir time to market. Tentu ini kami sudah melakukan pencatatan dengan sumber daya material konstruksi melalui SIMPK (Sistem Informasi Material dan Peralatan Konstruksi,” tutur Stephanus.(jn)

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN