Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Komoditas Perikanan (Sumber: Situs KKP)

Komoditas Perikanan (Sumber: Situs KKP)

Kemandirian Pakan Jadi Tantangan Budi Daya Ikan Air Tawar

Sabtu, 19 Juni 2021 | 17:08 WIB
Fajar Widhiyanto

Jakarta - Target produksi perikanan budi daya tahun 2024 yang mencapai 9,4 juta ton dengan komposisi budidaya ikan air tawar di atas 60%, menjadi tantangan karena membutuhkan pakan berkualitas dengan harga yang ekonomis dan saat ini harga pakan tidak sebanding dengan keuntungan produksi ikan air tawar. Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah dibutuhkannya kemandirian pakan, baik pakan dari industri maupun pakan hasil produksi masyarakat yang disebut pakan mandiri.

Kesimpulan ini mengemuka dalam Bedah Buku Telaah Akademik Pengembangan Industri Perikanan Budidaya Berbahan Baku Pakan Lokal Menuju Kemandirian Pakan yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) adakan.

Bedah buku kali kedua yang digelar secara daring, Jumat (18/6) Kepala BBRSEKP Rudi Alek Wahyudin dalam pengantarnya di awal Bedah Buku mengatakan, jika mengacu yang disampaikan oleh Kepala Badan Riset dan SDM, Profesor Sjarief Widjaja pada bedah buku yang pertama beberapa hari sebelumnya, disampaikan ada tiga terobosan program pembangunan kelautan dan perikanan. Dan di antara tiga program terobosan tersebut, dua program terkait dengan perikanan budidaya. Target produksi perikanan budidaya di tahun 2024 itu cukup tinggi baik dari komoditas perikanan air laut, air tawar maupun air payau.

“Untuk mendukung pencapaian produktivitas tersebut tentunya faktor pakan memiliki faktor yang dominan untuk keberhasilan usaha perikanan budidaya. Sebagaimana dalam buku yang saat ini dibahas diterangkan bahwa setidaknya kontribusi biaya pakan terhadap produksi perikanan budidaya adalah sekitar 40% sampai 89% tergantung jenis komoditas budidaya dan tingkat teknologinya, jadi begitu besar pakan menentukan tingkat keberhasilan usaha perikanan budidaya,” ungkap Kepala BBRSEKP Rudi Alek Wahyudin dalam pengantarnya di awal Bedah Buku.

Sementara itu Prof Mas Tri Djoko yang juga menjadi pembicara menyampaikan empat hal penting yang mempengaruhi industri budidaya ikan air tawar, yaitu ketersediaan benih unggul, inovasi wadah dan lingkungan, industri vaksin ikan air tawar, dan industri pakan.

Data Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) menunjukkan target produksi perikanan budidaya tahun 2024 yang mencapai 9,4 juta ton dengan komposisi budidaya ikan air tawar di atas 60%, menjadi tantangan karena membutuhkan pakan berkualitas dengan harga yang ekonomis dan saat ini harga pakan tidak sebanding dengan keuntungan produksi ikan air tawar.

Menghadapi tantangan target produksi yang tinggi, Prof Mas Tri Djoko menuturkan, dibutuhkan kemandirian pakan, baik pakan dari industri maupun pakan hasil produksi masyarakat yang disebut pakan mandiri.

Kedua, baik pakan produksi pabrik maupun pakan mandiri harus berkualitas dan memiliki harga yang ekonomis untuk memenuhi kebutuhan para pembudidaya. “Untuk itu kita perlu bahan baku lokal dimana selama ini menggunakan bahan baku impor yang menyebabkan harga pakan mahal,” kata Prof Mas Tri Djoko seperti dilansir siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan yang dipublikasi Sabtu (19/6).

Dijelaskan Tri Djoko, untuk mewujudkan Kawasan budidaya ikan air tawar diperlukan kemandirian pakan. Dalam hal kemadirian pakan, perlu memperhatikan kebijakan pemerintah yang mengacu pada pakan mandiri, faktor kelembagaan dan sosial ekonomi, dan tentu saja yang terakhir terkait iptek dan kearifan lokal. Iptek yang tepat guna dan kearifan lokal, karena pakan mandiri ini sangat bervariasi dan masyarakat sejak tahun 80’an telah terbiasa membuat pakan mandiri. Dengan adanya pakan yang berkualitas dan ekonomis, tentu keberlanjutan usaha budidaya perikanan dalam suatu Kawasan lebih terjamin.

Untuk mewujudkan kemandirian pakan, kata Tri Djoko, harus dipastikan bahwa pakan yang digunakan dapat mengurangi beban biaya pakan. Artinya harga pakan harus kompetitif dibanding harga jual ikan. Yang kedua pembudi daya harus mencari pengganti tepung ikan yang selama ini menjadi bottleneck dalam produksi pakan. Sehingga harus disubstitusi dengan bahan baku lokal, baik hewani maupun nabati.

“Yang ketiga kita perlu mengoptimalisasi pakan alami. Terlebih di masa pandemi saat ini, kita harus bisa melihat pakan alami untuk menekan biaya produksi. Yang keempat tentu saja kita harus memperhatikan kualitas pakan buatan sendiri, artinya kita harus memperhatikan nutrien yang dibutuhkan ikan tersebut,” jelas Tri Djoko dalam paparannya.

Senada dengan Tri Djoko, Usman dari BRPBAPP Maros menyampaikan salah satu upaya untuk menekan harga pakan adalah dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang terdapat di masing-masing daerah sentra budi daya, khususnya di daerah terpencil sehingga pembudi daya dan kelompoknya dapat memenuhi kebutuhan pakannya secara mandiri.

Pada akhir sesi bedah buku, Prof I Nyoman Adiasmara Giri dari BBRBLPP Gondol Bali menyampaikan bahwa untuk ikan yang telah ditangani untuk budidaya laut masih sangat terbatas. Ada dua jenis komoditas budidaya laut yakni karnivora yang terdiri atas kakap putih, kerapu, bawal bintang dan lobster. Jenis berikutnya herbivora yakni abalone. Salah satu kunci formulasi pakan adalah protein, dan dalam hal ini kebutuhan protein untuk ikan karnivora jauh lebih tinggi daripada ikan herbivora. Prof. Nyoman juga menyampaikan bahwa keberhasilan budidaya laut juga ditentukan oleh pasar, jika pasarnya bagus maka budidaya laut juga dapat terus berkembang.

“Manajemen pengelolaan pakan terkait perilaku makan ikan juga berpengaruh dalam manajemen pakan ikan laut dan perlu perhatian khusus agar tetap efisien. Terkait pakan mandiri, kendala utama di daerah tropis ketersediaan bahan baku beragam tapi harus difokuskan pada bahan baku yang baik secara kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya,” tutup Nyoman Adiasmara Giri.

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN