Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Budidaya Vanili

Budidaya Vanili

Kemendag Perkuat Ekspor Vanili Bernilai Tambah

Kamis, 13 Agustus 2020 | 15:47 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengerahkan para perwakilan perdagangan di luar negeri, yaitu para Atase Perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) untuk mempromosikan produk-produk vanili bernilai tambah.

Hal ini mengingat besarnya potensi Indonesia menjadi basis ekspor vanili terbesar di dunia. Salah satunya dapat tercapai melalui diversifikasi produk ekspor dengan tidak bergantung pada bahan mentah, tapi juga pengembangan hilirisasi produk olahan vanili.

“Hilirisasi dari pengolahan komoditas vanili, selain memberi nilai tambah dan meningkatkan daya saing, dapat memperbesar nilai ekspor vanili Tanah Air. Untuk itu, kami mengharapkan peran strategis dari Atase Perdagangan dan ITPC untuk mempromosikan produk-produk vanili bernilai tambah,” kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Kasan dalam keterangan resminya, Kamis (13/8).

Kasan mengungkapkan, kondisi pandemi ini menjadi momentum transformasi digital untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam upaya peningkatan ekspor, salah satunya melalui penjajakan kesepakatan dagang virtual. Kemendag akan memfasilitasi temu bisnis daring para pelaku usaha Indonesia untuk menembus pasar internasional.

“Atase Perdagangan dan ITPC diharapkan dapat mempertemukan buyer potensial dari negaranya dengan eksportir vanili bernilai tambah dari Indonesia,” imbuh Kasan.

Saat ini, terdapat lebih dari 110 jenis tanaman vanili di dunia. Namun, yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman olahan serta sebagai komoditas ekspor Indonesia adalah jenis Vanilla Planifolia.

Menurut Direktur Pengembangan Produk Ekspor Kemendag Olvy Andrianita, pengolahan vanili menjadi produk bernilai tambah seperti ekstrak, sari, oleoresin, maupun bubuk, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kuliner. Selain itu, vanili juga dapat digunakan sebagai bahan baku kosmetik, parfum, herbal, dan minyak esensial.

“Selain hilirisasi, sertifikasi organik, keberlanjutan, ketertelusuran, dan transparansi vanili Indonesia juga perlu dikenalkan kepada buyer potensial mancanegara, terutama di Uni Eropa yang pasarnya terus bertumbuh. Penguatan akses pasar dan peningkatan investasi juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan perjanjian kerja sama perdagangan dengan negara akreditasi,” jelas Olvy.

Vanili, lanjut dia, kerap disebut sebagai emas hijau karena memiliki nilai ekonomis serta harga jual yang tinggi. Biji vanili mencapai harga tertinggi di tahun 2018, yakni US$ 650/kg. Sedangkan pada 2020, harga biji vanili terkoreksi menjadi US$ 200/kg.

“Kita harus mengembangkan produk turunan vanili, sehingga saat terjadi pelemahan harga, kita tetap dapat menjual bahkan mengekspor vanili. Harga vanili yang tinggi menyebabkan banyak orang melakukan budi daya vanili. Namun, jika harganya turun, petani memilih opsi menanam tanaman budi daya yang lebih menguntungkan,” jelas Chairman Vanilla Institute John Tumiwa, yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Vanili Indonesia.

Dia mengungkapkan, salah satu hal yang menjadi tantangan dalam mengembangkan produk vanili Indonesia adalah kecenderungan buyer membeli vanili dari pemasok yang sudah ada. Permasalahannya, ada beberapa eksportir tanah air yang kerap mencampur vanili Indonesia dengan vanili Papua Nugini sehingga profil rasanya tidak konsisten.

“Di samping itu, rendahnya kualitas biji vanili disebabkan tanaman yang dipanen dini. ‘Hama’ terbesar budi daya vanili adalah pencuri. Beberapa petani memilih memanen vanilinya lebih awal untuk menghindari pencurian tanaman,” kata John.

Pada periode 2015-2019, tren ekspor produk vanili Indonesia tercatat tumbuh positif sebesar 32,55%. Pada 2019, Indonesia menempati peringkat ke-3 sebagai eksportir terbesar dunia setelah Madagaskar dan Prancis. Madagaskar menguasai 53,06% pangsa ekspor vanili dunia dengan ekspor sebesar US$ 573,17 juta.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN