Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Askolani. Foto: kemenkeu.go.id

Askolani. Foto: kemenkeu.go.id

Kemenkeu Imbau K/L Tekan Belanja untuk Biayai Vaksinasi Covid-19

Kamis, 14 Januari 2021 | 04:28 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengirim surat kepada Kementerian/Lembaga (K/L) yang berisi permintaan untuk melakukan refocusing dan realokasi belanja K/L TA 2021. Ini ditujukan untuk mempertajam kegiatan dan belanja terutama guna mendukung vaksinasi Covid-19 tahun 2021.

“Langkah dari realokasi dan refocusing belanja K/L  diharapkan akan dapat diselesaikan dalam waktu secepatnya oleh K/L,” ucap Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Askolani saat dihubungi, Rabu (13/1).

Penghematan belanja K/L dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal. Pertama sumber penghematan belanja berasal dari rupiah murni. Kedua yaitu jenis belanja yang dapat dilakukan penghematan adalah belanja barang dan belanja modal. Ketiga yaitu belanja barang dan belanja modal yang dilakukan penghematan adalah belanja non operasional.

“Arah refocusing dan realokasi belanja K/L utamanya terhadap belanja non operasional yang tidak mendesak. Ditujukan untuk semakin mempertajam kegiatan dan anggaran belanja K/L,” ucpa Askolani.

Adapun kriteria penghematan belanja K/L tahun 2021 difokuskan pada belanja honorarium, perjalanan dinas, paket meeting, belanja jasa, dan bantuan kepada masyarakat/pemda yang bukan arahan Presiden. Penghematan belanja juga dilakukan untuk pembangunan gedung kantor, pengadaan kendaraan dan peralatan/mesin, sisa dana lelang atau swakelola, anggaran dari kegiatan yang belum dikontrakan atau yang tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, serta kegiatan yang tidak mendesak.

Askolani mengatakan bila realokasi dan refocusing belanja K/L diselesaikan dalam waktu cepat maka K/L dapat fokus dalam pelaksanaan kegiatan dan progam pembangunan terutama untuk kegiatan-kegiatan prioritas. Pihaknya masih akan melihat lagi sejauh mana dampak dari porsi defisit di APBN 2021. Tahun 2021 defisit ditargetkan berada di angka 5,7% dari produk domestik bruto.

“Pemanfaatan belanjanya masih akan dikoordinasikan secara komprehensif, masih dalam proses review, defisit APBN 2021 tetap akan dijaga,” ucapnya.

Rentan ke Pertumbuhan Ekonomi

Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet
Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet

Secara terpisah, Peneliti Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan proses penghematan agak rentan ketika dilakukan dalam pemulihan ekonomi nasional. Sebab belanja merupakan pendorong pertumbuhan ekonomi.

“Oleh karena itu pemerintah harus menyisir kembali hal hal mana saja yang  masih bisa untuk tidak direalokasi dan refocusing kepada rencana belanja di tahun 2021,” ucap Yusuf ketika dihubungi pada Rabu (13/1).

Dalam kondisi pemulihan ekonomi upaya mengendalikan defisit harus dilakukan secara hati hati. Jangan sampai upaya melakukan penghematan akan berdampak kontraproduktif untuk pertumbuhan ekonomi nasional di tahun 2021.  Proses realokasi dan refocusing harus dilakukan secara hati hati karena belanja masih dibutuhkan pemulihan ekonomi di tahun ini. Menurut Yusuf pemerintah masih bisa mengoptimalkan sisa lebih pembiayaan anggaran (silpa) dari tahun 2020. Catatan Kementerian Keuangan menunjukan realisasi silpa di tahun 2020 mencapai  Rp 234,7 triliun. SILPA tahun 2020 lebih tinggi dibanding tahun 2019 mencapai Rp 53,4 triliun.

“Sebenarnya kalau ini disebut dilema, pemerintah yang membuat dirinya dilema. Saya melihat ruang gerak pemerintah untuk mendorong belanja di tahun ini masih relatif cukup besar. Secara regulasi masih dilindungi dan proses pembiayaan masih relatif aman,” ucap Yusuf.

Yusuf mengatakan bila belanja modal ditekan maka harus diperhatikan efek pengganda (multiplier effect) dari belanja tersebut. Salah satu kegiatan yang dilakukan melalui belanja modal adalah pembangunan infrastruktur. Pembangunan infrastruktur berkaitan dengan tujuan jangka panjang.Ketika pembangunan infrastruktur dimulai tentu diperlukan industri pendukung. Sehingga ini bisa mendongkrak efek pengganda.

“Jangan hanya dilihat ketika porsi belanja besar lalu langsung direalokasi padahal kalau dilihat lebih rinci belanja yang besar seperti belanja modal bisa memberikan  efek positif untuk perekonomian tahun ini,” tutup Yusuf.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN