Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala  BKF Febrio Kacaribu.Sumber: BSTV

Kepala BKF Febrio Kacaribu.Sumber: BSTV

Kemenkeu Komitmen Turunkan Defisit Anggaran di Bawah 3% Tanpa Shock

Selasa, 26 Januari 2021 | 15:25 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Febrio Kacaribu memastikan pemerintah akan berkomitmen untuk mengembalikan defisit anggaran di level bawah 3% pada tahun 2023 secara perlahan tanpa menimbulkan guncangan atau shock terhadap perekonomian.

“Nah akan tetapi, kita tahu bahwa krisis ini mengakibatkan kita harus melakukan adjustment perlahan untuk kembali ke disiplin 3%. artinya, perekonomian jangan sampai alami shock lagi misalnya 6,1%, lalu kalau tiba-tiba ubah 3%, itu jadi shock negatif perekonomian dan kita tidak mau lakukan itu,”jelas Febrio dalam acara yang bertajuk Akselerasi Pemulihan Ekonomi, Selasa (26/1).

Tahun lalu pemerintah menerbitkan Undang-Undang (UU) Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan.

Melalui UU 2/2020 pemerintah menargetkan defisit APBN 2020 sebesar 6,34% terhadap PDB dan untuk tahun 2021 diupayakan menurun di level akan 5,7% dari PDB. Selanjutnya, defisit akan ditekan hingga 2023 berada di posisi 3% terhadap PDB.

Meski defisit melebar, Febrio memastikan akan terus menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dan akuntabel.  Hal ini seiring dengan tekanan pandemi Covid-19 membuat pemerintah melakukan kebijakan extraordinary karena kondisi penerimaan negara yang menyusut akibat kondisi ekonomi yang menurun akibat pandemi, di sisi lain belanja harus meningkat karena pemerintah harus memberikan dukungan untuk penanganan kesehatan sosial ekonomi dan keuangan.

Lebih lanjut, Febrio mengatakan bahwa selama bertahun-tahun berhasil menjaga defisit fiskal dengan realisasi di bawah 3% bahkan sempat di bawah 2% sebelum pandemi Covid-19.  Kemampuan untuk menjaga defisit fiskal pun direspon positif oleh pasar dan sekaligus menimbulkan stabilitas makro ekonomi dalam negeri.

“Disiplin fiskal ini mampu menjaga kepercayaan pasar dan menimbulkan stabilitas makro. Karena kalau kita push terlalu jauh defisitnya, kita punya risiko pengelolaan keuangan negara dan stabilitas makro,” ujarnya.

Selain kepercayaan pasar, komitmen pemerintah untuk menjaga besaran defisit fiskal pun menghasilkan dividen yang sangat besar dan membuat kepercayaan pasar global untuk memegang surat utang negara menjadi sangat baik.
 
“Itulah yang membuat rasio utang di akhir 2019 tidak sampai 30%. Sementara negara lain banyak di atas 50%, modal disiplin ini sangat penting., kita tahu besar sekali peranannya bagi stabilitas makro ekonomi dan kredibilitas manajemen fiskal kita,”jelasnya.

Untuk diketahui. Kemenkeu melaporkan realisasi sementara  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020. Defisit anggaran sepanjang tahun 2020  mencapai Rp 956,3 triliun atau setara 6,09 persen terhadap PDB. Defisit ini  lebih rendah Rp 82,9 triliun dari pagu yang ditetapkan dalam Perpres 72/2020 sebesar Rp 1.039,2 triliun atau 6,34 % terhadap PDB.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN