Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu Deni Ridwan

Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu Deni Ridwan

Kemenkeu Turunkan Nilai Pemesanan Maksimal ORI ke Rp 2 Miliar

Senin, 4 Oktober 2021 | 15:50 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menurunkan  nilai pemesanan maksimal Obligasi Negara Ritel (ORI) dari Rp 3 miliar menjadi Rp 2 miliar untuk memperbanyak jumlah investor ritel. Hal ini tidak terlepas dari tingginya minat masyarakat terhadap SBN ritel.

“Karena kita melakukan evaluasi dari penjualan SBN ritel selama tahun 2021 ini ternyata seringkali menghadapi kondisi dimana alokasi untuk SBN ritel ini sudah habis sebelum masa penutupan,” ucap Direktur Surat Utang Negara Kemenkeu Deni Ridwan dalam acara Launching ORI020 pada Senin (4/10).

Dia mengatakan nilai pemesanan maksimum SBN ritel diturunkan karena jumlah investor SBN dengan nilai investasi di atas Rp 2 miliar hanya mencapai 7% dari total investor, tetapi investasi mereka sudah mencapai 37% dari total nilai investasi pada SBN.

“Oleh karena itu, kami mendorong para investor besar, yang investasinya di atas Rp 2 miliar tolong pindahkan investasinya ke SBN non-ritel yang tenornya lebih panjang, ada yang lima atau sepuluh tahun,” kata Deni.

Menurut Deni, investor dengan nilai investasi di atas Rp2  miliar sudah memiliki pemahaman yang baik soal investasi sehingga mereka bisa berpindah ke SBN non-ritel. Sehingga, SBN ritel dapat lebih mudah diakses oleh masyarakat dengan nilai investasi yang lebih kecil yang baru memahami soal investasi.

“Jadi tujuan SBN ritel bukan hanya pendanaan APBN  dan pendalaman pasar saja, tapi juga inklusi keuangan, sehingga semakin banyak orang yang menikmati manfaat dari investasi di SBN ritel,” tandas Deni.

Pemerintah sendiri baru saja membuka masa penawaran  Surat Berharga Negara Ritel (SBN) seri  ORI020. Adapun minimum pemesanan sebesar Rp 1 juta dan maksimum pemesanan  Rp 2  miliar Masa penawaran berlaku dari 4 Oktober 2021 hingga 21 Oktober 2021. SBN Ritel memiliki jenis kupon tetap (fixed rate) dengan tingkat kupon 4,95% per tahun.  Pemesanan SBN Ritel seri 020 bisa dilakukan secara daring melalui  27 mitra distribusi.

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman

Sementara itu, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu, Luky  Alfirman mengatakan  sejak tahun 2018 penerbitan SBN Ritel telah menggunakan sistem online atau yang disebut E SBN.  Penerbitan SBN ritel secara online disambut baik hal ini ditandai dengan peningkatan dari sisi nilai dana yang terkumpul serta jumlah investor khususnya investor baru.

“Dengan tersedianya instrumen investasi yang mudah diakses pemerintah juga berhasil menarik generasi milenial yang menyukai kenyamanan, kepraktisan dan kemudahan dalam berinvestasi,“ ucap Luky.

Tujuan pembangunan platform online ini untuk memudahkan investor dalam berinvestasi di  SBN Ritel. Keuntungan mengembangkan platform distribusi secara online sangat terasa  pada saat pandemic Covid-19. Di tengah pembatasan aktivitas publik dan operasional perkantoran masyarakat masih dapat melakukan investasi pada SBN Ritel kapanpun dan dimanapun.

“Terbukti jumlah investasi milenial pada penerbitan ORI016 awal tahun 2021 mencapai 37,5% dari total investor. Bahkan saat penerbitan  saving bonds ritel  seri SBR010 bulan Juli lalu generasi milenial mendominasi hingga mencapai 46,1%,” ucap Luky. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN