Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih.

Kemenperin Pacu Performa IKM Furnitur

Senin, 7 Desember 2020 | 19:14 WIB
Leonard Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memacu pengembangan industri kecil menengah (IKM) sektor furnitur, mulai dari pengembangan material center atau pusat bahan baku di Jepara, memfasilitasi kerja sama dengan e-commerce, hingga pameran internasional. Langkah itu diharapkan dapat menghasilkan produk inovatif yang berkualitas dan berorientasi ekspor dengan penggunaan bahan baku kayu legal.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kemenperin Gati Wibawaningsih menjelaskan, pengembangan material center di Jepara merupakan salah satu program untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan bahan pendukung serta memfasilitasi mesin terbaru untuk para IKM furnitur di sentra. Program material center di Jepara akan menjadi model bagi pengembangan material center di daerah lain.

“Adanya material center diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan IKM yang tidak mempunyai kapabilitas dalam membeli bahan baku dan bahan pendukung dengan kuantitas yang besar. Material center ini juga didukung dengan pemakaian sistem informasi yang terintegrasi secara online, sehingga IKM dapat memonitor pemesanannya secara real time melalui aplikasi,” ucap dia dalam siaran persnya, Jakarta, Senin (7/12).

Lebih lanjut, untuk meningkatkan kemampuan produksi para pelaku IKM furnitur di sentra, Kemenperin mempunyai unit pelaksana teknis (UPT) kayu maupun rotan di sentra furnitur yang dapat membantu pelaku IKM dalam hal pemanfaatan mesin produksi. “Dalam meningkatkan kemampuan UPT, kami telah memfasilitasi mesin dan peralatan dengan teknologi terbaru, serta peningkatan kualitas SDM di UPT dengan sertifikasi tenaga kerja dalam bidang pembahanan dan finishing produk,” papar Gati.

Selain fokus menembus kancah internasional, lanjut dia, Kemenperin juga mendorong pelaku IKM furnitur mampu merebut peluang besar di pasar domestik. Oleh karena itu, untuk dapat mengakselerasi penetrasi IKM di pasar dalam negeri, Kemenperin memfasilitasi kerja sama melalui program link and match dengan beberapa e-commerce furnitur di Indonesia seperti fabelio.com dan isiruma.com.

“Melalui program ini, diharapkan pelaku IKM furnitur mendapatkan akses untuk mempelajari tren produk dan meningkatkan pemasaran produk,” ucap dia.

Adapun untuk mempromosikan produk furnitur nasional, kata Gati, Kemenperin memfasilitasi IKM dalam pameran bertaraf internasional seperti Indonesia International Furniture Expo (IFEX), Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA), serta Furniture Virtual Expo.

Gati menerangkan, pameran menjadi sangat penting bagi industri furnitur, mengingat media ini merupakan proporsi terbesar dalam mendapatkan buyer baru. Apalagi, mengingat pameran IFEX dan JIFFINA merupakan bagian dari rangkaian pameran furnitur Asia yang menjadi ajang promosi produk furnitur unggulan Indonesia dan tempat berkumpulnya antara produsen dan pembeli potensial.

Dia menegaskan bahwa untuk memajukan industri furnitur Indonesia tidak saja semata-mata kewajiban pemerintah, namun juga kerja sama dengan semua pihak yang dapat membantu kemajuan industri dari hulu ke hilir yang menjadi komitmen bersama dalam meningkatkan kinerja furnitur nasional. “Dengan harapan, tentu saja program-program yang dilakukan dapat menjadi katalisator peningkatan ekspor furnitur Indonesia,” ungkap Gati.

Kemenperin mencatat, performa industri furnitur terlihat dari capaian nilai ekspornya pada 2019 sebesar US$ 1,95 miliar atau naik 14,6% dari 2018 yang mencapai angka US$ 1,69 miliar. Adapun negara tujuan utama pengapalan produk furnitur nasional, sebanyak 50% adalah ke pasar Amerika Serikat, disusul Jepang (8%), Belanda (5%), Jerman (4%), dan Inggris (3%).

Sepanjang kuartal II-2020, ekspor furnitur Indonesia menembus angka US$ 1,04 miliar, dan diperkirakan bisa mencapai US$ 2 miliar hingga akhir tahun ini. “Jika dilihat dari posisi ekspor furnitur dunia, Indonesia berada pada posisi ke-26 dan di Asia menduduki posisi ke-5 setelah Tiongkok, Vietnam, Malaysia dan Taiwan, sehingga perlu terus didorong dengan terobosan-terobosan untuk meningkatkan daya saing produk furnitur nasional,” pungkas Gati. 

Editor : Harso Kurniawan (harso@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN