Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
cukai rokok

cukai rokok

Kenaikan Cukai Rokok Berdampak Signifikan bagi Buruh SKT

Kamis, 18 November 2021 | 12:53 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id  – Segmen sigaret kretek tangan (SKT) yang padat karya dinilai yang paling terancam jika pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2022.

Para pemangku kepentingan di industri hasil tembakau beramai-ramai meminta pemerintah memberikan perlindungan kepada segmen ini dari kenaikkan tarif CHT pada 2022.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman, Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) Jawa Barat Ateng Ruchiat mengatakan bahwa dampak kenaikan cukai SKT akan mempengaruhi kelangsungan hidup para buruh SKT.

“Produksinya jelas akan menurun sehingga penghasilan atau kesejahteraan karyawan akan menurun bahkan maksimalnya bisa sampai terjadi PHK. Kita tahu karyawan SKT pendidikannya terbatas, kalau sampai di-PHK bagaimana nasibnya?” ujar Ateng kepada Media, Kamis (18/11).

Menurutnya hal ini akan sangat memberatkan dan berdampak pada kelangsungan usaha pada sektor SKT. Apalagi, katanya, para pekerja SKT pada umumnya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga sehingga sudah sepatutnya kesejahteraannya dilindungi.

Hal senada disampaikan oleh Ketua RTMM SPSI Sudarto. Menurutnya, dampak kenaikan tarif CHT pun akan sangat berpengaruh terhadap buruh yang menggantungkan hidupnya pada industri SKT.

“Saya ingin laporkan penurunan jumlah pekerja di SKT saja itu mencapai 60.889 orang. Sehingga dapat dipastikan para buruh rokok ini korban PHK,” ujarnya.

Sudarto mengatakan bahwa realita pekerja SKT di lapangan cukup memprihatinkan. “Sebagian besar buruh rokok ada yang masih bekerja, ada yang dirumahkan, dan sebagian bekerja on-off. Ada juga sebagian bekerja shift dan sebagian jam kerja berkurang,” kata dia.

Selain itu, sistem kerja yang tidak normal di masa pandemi ini sudah memberatkan para buruh SKT karena sistem pengupahannya adalah berdasarkan satuan hasil sehingga mereka sangat rentan terhadap kebijakan pemerintah.

“Itu dampaknya sangat besar karena SKT yang padat karya. Jadi kalau permintaan berkurang akibat kenaikan cukai, otomatis upah mereka juga berkurang,” pungkas dia.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN