Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal

Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal

Kenaikan Ekspor Redam Kontraksi Ekonomi

Selasa, 27 Juli 2021 | 23:55 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Faisal mengatakan ekspor menjadi peredam kontraksi ekonomi di tahun 2021. Kinerja positif ekspor diharapkan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik  pergerakan ekspor secara tahunan terus terjadi kenaikan dari Januari hingga Juni 2021 ini.  Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Juni 2021 mencapai US$ 102,87 miliar atau naik 34,78% dibanding periode yang sama tahun 2020, Demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$ 97,06 miliar atau naik 34,06%.

“Ketika permintaan dari sisi konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah mengalami penurunan ekspor justru tumbuh tinggi sekali,” ucap Faisal dalam acara CORE Mid Year Review 2021 "Menahan Gelombang Ketidakpastian Ekonomi" pada Selasa (27/7).

Dia mengatakan  dari sisi harga komoditas  hampir seluruh komoditas andalan mengalami peningkatan harga luar biasa. Pada kuartal II 2021  pertumbuhan ekspor  juga meningkat tajam. Neraca perdagangan barang di Indonesia selama Januari sampai Juni 2021 mengalami surplus US$ 11,86 miliar.

“Dari sisi surplus neraca perdagangan. Ini blessing in disguise tetapi ini juga sebagai anomali,” kata Faisal.

Sementara itu impor secara kumulatif dari Januari sampai Juni 2021 sebesar US$ 91,01 miliar. Faisal mengatakan dari sisi impor ketika ekonomi dalam negeri baik impor justru mengalami peningkatan sehingga mendorong ke arah defisit. Namun ketika ekonomi terkontraksi posisi impor justru menurun.

Ketika Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat  (PPKM) diberlakukan ini berpotensi menekan impor. Kalau impor turun sementara ekspor masih kuat artinya net ekspor atau surplus neraca perdagangan akan melebar. Padahal impor biasanya terkait dengan produksi dalam negeri. Sebab komponen impor terbesar adalah impor barang modal dan bahan baku/penolong.

“Pelebaran  surplus neraca perdagangan terjadi karena kondisi dalam negeri sedang sakit. Ini anomali daripada ekonomi Indonesia,” ucapnya.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN