Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Anggito Abimanyu

Anggito Abimanyu

Kepala BPKH: Dana Haji Lebih Optimal Kalau Dipindah ke Rupiah

Nasori, Sabtu, 6 Juni 2020 | 22:41 WIB

JAKARTA, investor.id – Kepala Badan Pelaksana Badan Pengelola Keuangan Haji (BP-BPKH) Anggito Abimanyu mengatakan, untuk saat ini, pengelolaan dana haji akan menghasilkan manfaat yang lebih optimal bila dialihkan ke rupiah, dibandingkan bila dipertahankan dalam valuta asing (valas). Pasalnya, imbal hasil (return) yang diberikan sejumlah portofolio investasi maupun simpanan dalam rupiah jauh lebih besar dibanding valas.

Anggito memberi contoh, deposito syariah dolar Amerika Serikat (AS) saat ini hanya memberikan imbal hasil 1-1,5%, sementara dalam rupiah bisa 5-6%. “Sedangkan kalau sukuk kira-kira 7-8%, pembiayaan 9%, dan mudharabah muqayyadah yang direct investment bisa sampai 10%. Jadi, lebih baik kami pindahkan ke rupiah. Ceriteranya memang sesederhana itu,” ujar Anggito dalam perbincangan yang tayang perdana di akun youtube Haikal Hassan Official, Kamis (4/6).

Pernyataan Anggito itu masih merupakan bagian dari penjelasan dan tanggapan atas polemik seputar anggapan yang menyebutkan bahwa simpanan valas BPKH sebesar US$ 600 juta digunakan untuk memperkuat nilai tukar (kurs) rupiah. Hal ini pun dikaitkan dengan pemberangkatan jamaah haji pada tahun ini yang resmi dibatalkan oleh pemerintah.

“Sebenarnya tidak ada hal yang berbeda dengan sebelumnya. Alhamdulillah kami diberikan amanah, diberikan akad wakalah oleh pemilik dana untuk mengembangkan dana (haji), meningkatkan nilainya melalui investasi syariah atau penempatan. Lha, pada saat jamaah mau berangkat, ‘kan uangnya harus ada yang berbentuk valas, dolar AS maupun riyal,” papar Anggito.

Untuk kebutuhan pembiayaan haji, menurut dia, per tahun biasanya BPKH mencadangkan (reserve) valuta asing sekitar U$ 600 juta atau setara dengan kurang lebih Rp 10 triliun. “Tahun ini kami sudah ngumpulin, sudah beli (valas), sudah siap. Kalau jamaah berangkat kami sudah ada. Ternyata ‘kan tidak jadi berangkat,” tandas dia.

Anggito pun kembali menegaskan bantahannya terhadap anggapan bahwa dana haji sebesar US$ 600 juta digunakan untuk memperkuat nilai tukar (kurs) rupiah. Menurut dia, dipastikan akan ketahuan bila dana tersebut dikelola secara salah. Karena, semua pengelolaan dana haji oleh BPKH diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

“Terus terang, alhamdulillah kami ‘kan juga diaudit oleh BPK. Antum ataupun teman-teman yang nonton acara ini bisa saja ke BPK untuk tanya. Tanya apakah ada dana haji yang dipakai untuk infrastruktur misalnya. Jawabannya nol. Saya juga menjaga amanah. Nggak adalah kami itu main-main dengan investasi atau penempatan. Nggak berani. Itu urusannya dengan sama Allah,” tegas Anggito.

Pada kesempatan itu, ia juga mengungkapkan sebenarnya biaya untuk keberangkatan setiap satu jamah haji berkisar Rp 66 juta -Rp 74 juta, tapi jamaah selama ini hanya membayar separuhnya. Hal itu karena sisanya dibiayai dari hasil pengembangan dan dari subsidi. “Jadi, terima kasih kalau nanti bisa disampaikan kepada teman-teman, tidak ada dana haji untuk infrastruktur dan tidak ada dana haji hilang untuk memperkuat rupiah,” ucap Anggito.

 

Ekstra hati-hati

Selain itu, semua skema investasi maupun penempatan yang dilakukan terhadap dana haji tersebut sesuai dengan ketentuan syariah. “Kami juga mau hati-hati, bahkan ekstra hati-hati. Terus, kami juga memastikan (investasi yang) optimal, mencari return yang paling tinggi, risikonya yang bisa dikelola, dan hasilnya dibagi kepada para jamaah, pemilik dana yang sah,” pungkas Anggito.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menilai wajar saat suku bunga valuta asing (valas) rendah, sementara rupiah menguat seperti sekarang, BPKH mengalihkan simpanannya dari valas ke rupiah. Namun, ia juga menampik berita bahwa akibat pemberangkatan haji tahun ini dibatalkan, simpanan valas BPKH US$ 600 juta digunakan untuk memperkuat nilai tukar (kurs) rupiah.

Perry menegaskan, sesuai dengan kewenangannya, BI hanya berkepentingan untuk menjaga agar mekanisme pasar valas bekerja secara baik dan kondusif serta kurs rupiah stabil, bahkan menguat. “Secara logika, ya wajar kalau sekarang suku bunga valas rendah dan rupiah menguat, ada pergeseran dana yang semula di valas ke rupiah. Itu wajar, tentu saja keputusan internal dan mutlak dari BPKH,” ujar dia dalam media briefing secara virtual, Jumat (5/6).

Mekanisme yang terjadi, lanjut Perry, bank sentral akan melakukan komunikasi saat palaku pasar, termasuk BPKH, masuk ke pasar baik saat membutuhkan valas maupun melepas valas. “Di situ memang berkomunikasi, timing-nya bagaimana, baiknya bagaimana, dan jumlahnya berapa. Itu adalah mekanisme di pasar, ada komunikasi antarpelaku supaya betul-betul pasarnya berjalan secara kondusif,” jelas dia.

Hal yang sama, kata Perry, juga dilakukan bank sentral dengan pelaku-pelaku pasar lain baik sebagai pemasok maupun penyerap valas, seperti perbankan, PT Pertamina (Persero), maupun para eksportir dan importir. “Namun, secara rinci (terkait dana haji), mohon ditanyakan kepada Kepala BPKH, Pak Anggito Abimanyu. Kalau berkaitan dengan stabilitas nilai tukar rupiah, itu wewenang BI dan kami selalu berkomunikasi dengan para pelaku pasar,” tandas dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN