Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Kepemilikan SBN oleh BI Capai Rp 443,38 Triliun

Triyan Pangastuti, Kamis, 28 Mei 2020 | 23:16 WIB

JAKARTA, investor.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mencatat kepemilikan SBN oleh BI mencapai Rp 443,38 triliun yang berasal dari surat utang yang diterbitkan pemerintah di pasar perdana dan sekunder yang akan digunakan untuk melakukan operasi moneter.

Ia mengatakan bahwa SBN yang dimiliki BI juga akan digunakan untuk melakukan operasi moneter yakni dengan menyerap maupun menambah likuiditas bagi perbankan.

Jika ingin menyerap likuiditas atau kontraksi, maka BI akan menggunakan SBN yang dimilikinya sebagai underlying untuk transkasi reverse repo dengan menyerap likuiditas dari Bank-Bank yang mengalami kelebihan likuiditas.

Sebaliknya jika bank mengalami kekurangan likuiditas maka dapat datang ke Bank Sentral dengan membawa SBN-nya yang dimiliki perbankan untuk melakukan repurchase aggrement maka BI akan menerima SBN lalu menambah likuiditasnya.

“443,38 triliun untuk apa? Untuk operasi moneter dengan melakukan repurchasing aggrement, terima SBN dan kami tambah likuditas itu namanya ekspansi dan kalau kontraksi secara total bisa stabil dan kondisi likuiditas di pasar uang   dan perbankan,”ungkapnya Kamis (28/5).

Ia mengatakan bahwa sejak awal tahun hingga saat ini, BI telah membeli SBN sebanyak Rp 200,25 triliun yang dibeli dari pasar primer dan pasar sekunder.  Hal ini sudah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020tetang kebijakan keuangan negara dan stabilitas sistem keuangan untuk penanganan pandemi Covid-19 .

Dia merinci pembelian SBN tersebut terdiri dari surat utang yang dibeli BI di pasar perdana sebelum UU Nomor 2 tahun 2020 sebesar Rp 10,07 triliun surat berharga syariah negara (SBSN) dengan tenor dibawah 1 tahun.

“Sebelum UU 2/2020 BI beli SBSN dengan jangka pendek dibawah setahun kenapa dibolehkan? Sebab SBSN langkah, BI perlu untuk kendalikan keuangan syariah seperti SUKBI”jelasnya.

Kemudian setelah diterbitkannya, UU Nomor 2 tahun 2020 BI telah membeli SBN sebesar  Rp 23,98 triliun dipasar perdana kurun waktu 21April hingga 18 Mei, yang terdiri dari  green shoe option sebesar Rp20,3 triliun dan untuk private placement Rp3,6 triliun.

Kemudian SBN yang dibeli BI di pasar sekunder untuk stabilisasi pasar selama pandemi Covid-19 Rp166,2 triliun.

Ia mengatakan pembelian SBN dipasar perdana oleh BI untuk Pembiayaan Umum APBN sebagai above the line.  “Sesuai keputusan bersama Menteri Keuangan dan Bank Indonesia, pembelian SUN/SBSN oleh BI dipasar perdana mendapatkan praktik umum dan melalui mekansime pasar secara wajar agar transparansi dan tata kelola dapat terjaga,” ujarnya.

Adapun tiga tahap mekanisme pembelian SUN atau SBSN oleh BI dipasar perdana. Pertama BI sebagai non competitive bidder dengan yield sesuai hasil lelang perdana di hari yang sama. Dengan maksimal bidding SUN 25% dari target lelang maksimum. Selain itu maksimum bidding  SBSN 30% dari target lelang maskimum.

Kedua tahapan green shoe option yield sesuai hasil lelang perdana dihari sebelumnya. Jika bid yang masuk lebih rendah dari target lelang. Kemudian maksimal penawaran sama dengan penawaran sebelumnya.

Ketiga, tahap private placement, mengacu pada harga pasar terkini atau PT.PHEI. Jika pemerintah ingin menambah pembiayaan, namun disesuaikan term& condition sesuai kesepakatan.  

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN