Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

Gubernur BI Perry Warjiyo saat mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang digelar pada 19-20 April 2021 di Jakarta, Selasa (20/4/2021). Sumber: BSTV

Keputusan The Fed Tak Lakukan Tapering Off Tahun Ini Redakan Ketidakpastian Global

Selasa, 20 April 2021 | 21:00 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia meyakini ketidakpastian di pasar keuangan akan mereda, seiring keputusan Bank Sentral Amerika Serikat -- Federal Reserve (The Fed) -- yang tidak akan melakukan tapering off atau pengurangan stimulus tahun ini, melainkan pada 2022.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, ketidakpastian global yang mereda akan mendorong penguatan rupiah dan masuknya aliran modal asing atau capital inflow ke pasar keuangan domestik.

“Jika terjadi capital inflow, maka memberi dukungan kepada nilai tukar rupiah akan lebih positif,” tuturnya dalam pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Selasa (20/4).

Lebih lanjut ia mengatakan, ketidakpastian pasar keuangan yang terjadi beberapa waktu terakhir telah menyebabkan pelemahan rupiah, yang memicu aliran modal asing keluar dari Indonesia. Hal ini dikarenakan volatilitas yield US Treasury masih berlangsung sejalan dengan lebih cepatnya perbaikan ekonomi di Amerika Serikat, seiring stimulus fiskal AS yang ditambah menjadi US$ 1,9 miliar dan persepsi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

“Pergerakan nilai tukar rupiah relatif terjaga, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Nilai tukar rupiah pada April 2021 (per 19 April) mencatat depresiasi 1,16% secara rerata dan 0,15% secara point to point, dibandingkan dengan level akhir Maret 2021,” paparnya.

Sementara itu, pergerakan rupiah hingga 19 April 2021 mencatat terdepresiasi sekitar 3,42% (ytd) dibandingkan dengan level akhir 2020. Ini relatif lebih rendah dari sejumlah negara berkembang lain, seperti Brasil, Turki, dan Thailand.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar,” tuturnya.

US Treasury Yield Turun 
Menurut Perry, saat ini, yield US Treasury sudah menurun di posisi 1,6 persen seiring penjelasan dari bank sentral AS yang menegaskan belum akan melakukan tapering off di tahun ini, dan  paling cepat baru akan dilakukan tahun 2022.

“Memang inflasi AS pada April dan Mei nanti akan lebih tinggi dari 2 persen,  tapi setelah itu akan turun. Unemployment masih sekitar 6 persen, masih lebih tinggi dari unemployment jangka panjang 3,6 persen. Itu kenapa, The Fed terus menegaskan gak akan melakukan tapering tahun ini, (sehingga yield-nya) sekarang  turun ke 1,6 persen,” tandasnya.  

Ia juga menjelaskan, imbal hasil surat utang pemerintah RI tenor 10 tahun kini di level 6,5 persen, masih cukup menarik bagi investor asing. Oleh karena itu, Perry yakin aliran modal asing akan kembali masuk ke Indonesia seiring ketidakpastian yang mereda dan penguatan rupiah.

“Dengan tingkat nilai tukar rupiah sekarang dan yield SBN yang ada, maka menjadi atraktif dan menarik, sehingga akhir akhir ini mulai terjadi inflow ke SBN, meski belum besar tapi mulai masuk. Dengan faktor global semakin jelas, berapa US Treasury yield dan arah kebijakan The Fed, maka inflow akan masuk dan memberikan dukungan kepada nilai tukar rupiah yang akan lebih positif,” tuturnya.

 

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN