Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

Kesenjangan Digital Masih Jadi Tantangan di Masa Pandemi

Rabu, 21 Oktober 2020 | 13:26 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak luar biasa terhadap perekonomian semua negara termasuk Indonesia sebab aktivitas masyarakat ikut terganggu.

Namun pandemi Covid-19 juga memberikan peluang karena telah mempercepat proses digitalisasi dan semakin  menunjukkan pentingnya transformasi digital, tetapi kesenjangan digital masih cukup besar terjadi di Indonesia.

“Pandemi Covid-19, ini menggarisbawahi pentingnya teknologi, terutama teknologi digital sebagai alat pendukung di saat krisis kesehatan. Pandemi Covid -19 telah mempercepat proses digitalisasi dan mengubah cara hidup kita, sebab teknologi telah membantu banyak dari kita bertahan dalam situasi yang menantang ini,”tuturnya dalam Souteast Asia Development Symposium  (SADS) The New Normal: Driving Economic Recovery through Digital Innovation, Rabu (21/10).

Ia mengatakan bahwa penerapan social distancing untuk mencegah penularan Covid-19 yang diterapkan di berbagai negara menimbulkan aktivitas berhenti. Namun dunia usaha dan pemerintah mengadopsi teknologi dalam kegiatan sehari-harinya, begitu pula dengan penerapan study from home.

“Teknologi telah memberi kita banyak kemungkinan, melalui berbagai platform inovasi dan aplikasi alat untuk memudahkan hidup kita, terutama dalam perkembangan teknologi pandemi yang membentuk kembali industri restrukturisasi pasar dan mendefinisikan kembali keunggulan kompetitif,”jelasnya.

Di sisi lain, tingkat adopsi teknologi di berbagai negara berbeda dan dampaknya terhadap ekonomi juga berbeda.

Oleh karena itu, ini menjadi tantangan bagi pemangku kepentingan untuk memanfaatkan teknologi baru dengan memanfaatkan peluang, serta mengantisipasi berbagai potensi risiko.   

“Sangat penting bagi kami untuk memiliki informasi yang baik berdasarkan penelitian yang kuat. Ini akan memungkinkan kami untuk memahami dampak teknologi baru dan untuk merancang, serta menerapkan kebijakan yang efektif,”ucap nya.

Menurut dia, jika merujuk pada penelitian Centre for Strategic and International Studies (CSIS), hanya 1 dari 5 usaha yang bisa beralih ke usaha berbasis teknologi, sementara sisanya tidak bisa beralih.

"Sementara mendukung digitalisasi, kita perlu memperhatikan empat usaha yang tidak bisa beralih ke basis teknologi dan menyediakan platform untuk mengimbangi transformasi ini," katanya.

Kendati begitu, Menkeu tak menampik bahwa kesenjangan digital masih sangat besar terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia yang merupakan negara besar. Akses internet masih menjadi barang mewah bagi sebagian orang atau di sebagian wilayah Indonesia, hal ini juga membatasi manfaat dan keberhasilan penerapannya untuk penyampaian layanan public.

Ia mencontohkan seperti saat pandemi diberlakukannya social distancing  maka  pembelajaran online jarak jauh menjadi salah satu upaya untuk tetap mengakomodasi kebutuhan siswa. Namun tidak semua siswa memiliki akses internet atau perangkat seluler.

Selain itu, masih banyak pelaku usaha mikro kecil menengah di daerah terpencil juga belum tersentuh teknologi atau akses internet.

“Ini adalah jenis masalah yang masih banyak dihadapi oleh negara-negara ASEAN yang kita tahu harus memanfaatkan momentum yang diberikan oleh krisis ini. Kami juga harus bekerja lebih keras untuk mengisi kesenjangan, seperti banyak negara lain, Indonesia dan transformasi digital telah meningkat pesat, terutama sejak pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial berskala besar di awal. wabah 19 Covid,”jelasnya.

Dengan demikian, pemerintah pun terus berupaya mengatasi kesenjangan ini, misalnya dengan pemberian subsidi listrik untuk 40% penduduk terbawah dan menyediakan internet gratis untuk siswa, guru, serta pendidikan tinggi.

Selain itu, pemerintah juga mendukung transisi usaha mikro dan kecil dalam mengimplementasikan transformasi digital agar usaha-usaha tersebut bisa beradaptasi dengan model bisnis baru.

“Ini semua berusaha menyediakan fasilitas internet untuk mengadopsi teknologi digital yang baru saja menjadi tulang punggung selama pandemi Covid -19 ini,”paparnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa pemerintah juga telah mengembangkan sejumlah inisiatif untuk lebih melengkapi negara dalam menghadapi peluang dan tantangan, yang muncul dari teknologi yang sedang berkembang.

Kemudian pemerintah juga mengembangkan banyak inisiatif untuk memanfaatkan peluang digitalisasi ini. Melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika, pemerintah telah meluncurkan gerakan 1.000 startup yang mendorong pembentukan startup baru berbasis TI hingga 2024.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN