Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kementan. Logo: aktualitas.com

Kementan. Logo: aktualitas.com

Ketahanan Pangan Indonesia Membaik

Kamis, 17 Oktober 2019 | 10:44 WIB
Tri Listiyarini

Jakarta, investor.id-Ketahanan pangan nasional selama lima tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Jokowi-JK) menunjukkan tren perbaikan. Hal ini tercermin dari meningkatnya indeks ketahanan pangan global (Global Food Security Index/GFSI) Indonesia menjadi 54,80 pada 2018. Angka itu menjadikan peringkat ketahanan pangan Indonesia naik cukup signifikan dari 72 pada 2014 menjadi 65 pada 2018 dari total 113 negara.

Berdasarkan UU No 18 Tahun 2012 tentang Pangan, yang dimaksud dengan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Pengamat ekonomi politik pertanian Universitas Trilogi Muhamad Karim menilai selama pemerintahan Jokowi-JK, kinerja pembangunan sektor pertanian memiliki indikator nyata yang bisa dinilai langsung masyarakat. Melansir data The Economist Intelligence Unit (EIU), capaian indeks ketahanan pangan Indonesia menuai hasil yang luar biasa. Pada 2018 indeks ketahanan pangan Indonesia naik menjadi 54,80. "Ini capaian tertinggi indeks ketahanan pangan Indonesia dalam sejarah pembangunan pertanian. Selama pemerintahan Jokowi-JK, total skor ketahanan pangan Indonesia di semua aspek berada di angka 47,70 pada 2014 dan meningkat secara konstan menjadi 54,80 pada 2018,"ungkap Karim di Jakarta, Rabu (16/10).

Penilaian indeks ketahanan pangan terdiri dari empat aspek. Pertama, affordability terkait dengan cara memotong rantai pasok yang panjang. Kedua, availability yaitu terjaganya penawaran. Ketiga, quality and safety terkait kualitas dan keamanan standar nutrisi dan pengawasan impor dan keempat natural resources and resilience terkait dengan lahan dan produksi pangan. Ketahanan pangan Indonesia dari aspek keterjangkauan memperoleh skor 55,20 berada di peringkat 63 dari 113 negara, skor dari aspek ketersediaan 58,20 di peringkat 58, dari aspek kualitas dan keamanan memperoleh skor 44,50 di peringkat 84 serta dari faktor sumber daya alam memperoleh skor 43,90 menempati peringkat 111. "Capaian indeks ketahanan pangan tersebut merupakan prestasi bagi para pelaku pembangunan pertanian. Pemerintah pun turut mensyukuri prestasi ini. Apalagi pembangunan pertanian memiliki banyak tantangan," ujar dia.

Menurut alumni IPB ini, Indonesia memiliki kekuatan lahan yang luas dan subur, serta letak geografis yang menguntungkan sehingga sebagai wilayah tropis maka aneka jenis tanaman dapat tumbuh subur menjadi kekuatan dari Indonesia. Tapi di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan peningkatan laju pertumbuhan penduduk Indonesia sekitar 2,50 juta setiap tahunnya. "Artinya, ke depannya dibutuhkan strategi khusus untuk bisa meningkatkan ketahanan pangan nasional," jelas dia dalam keterangan tertulis.

Karim pun mengapresiasi bahwa peningkatan ketahanan pangan juga turut berpengaruh terhadap kesejahteraan petani. Selama lima tahun ini terlihat kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP), bahkan NTP September 2019 tercatat 103,88, padahal Mei 2015 hanya 100,02. "NTP dan NTUP umumnya digunakan sebagai indikator untuk melihat membaiknya daya beli atau kesejahteraan petani. Peningkatan dua item tersebut menandakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, daya beli dan kesejahteraan petani terus membaik," ungkap dia.

 

Editor : Tri Listiyarini (tri_listiyarini@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN