Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo saat media briefing di Jakarta, Jumat (05/06/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Humas Bank Indonesia

Ketidakpastian Pasar Keuangan Picu Capital Outflow US$ 0,75 Miliar

Kamis, 17 September 2020 | 16:12 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, ketidakpastian pasar keuangan telah memicu terjadinya aliran modal asing keluar (capital outflow) dari pasar keuangan domestik selama dua minggu pertama September 2020 sebesar US$ 0,75 miliar secara neto.

"Ini terjadi seiring dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan baik karena faktor global maupun domestik," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers pada Kamis (17/8) terkait hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama dua hari, 16-17 Agustus 2020.

Padahal, kata dia, sepanjang kuartal III-2020 hingga akhir Agustus 2020 perbaikan di pasar keuangan global mulai terjadi dan mendorong aliran modal asing masuk (capital inflow) ke pasar keuangan domestik yang secara neto mencapai US$ 0,13 miliar.

Aliran modal asing yang masuk itu, kata Perry, turut meningkatkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2020 menjadi US$ 137,0 miliar. Cadangan devisa ini pun tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah perekonomian Indonesia.

“Cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 9,4 bulan impor atau sembilan bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor,” ucap Perry.

Menurut dia, aliran modal asing keluar selama September ini turut mempengaruhi nilai tukar rupiah hingga melemah 1,85% secara point-to-point sejak akhir Juni 2020 atau 6,42% sejak akhir 2019.

“Pelemahan rupiah pada Agustus-September 2020 antara lain dipengaruhi masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan, baik karena faktor global maupun sejumlah risiko domestik,” tutur dia.

Kendati demikian, Perry berpendapat, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat mengingat secara fundamental masih undervalued. Apalagi, hal itu didukung oleh inflasi yang rendah dan terkendali, defisit transaksi berjalan yang rendah, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, dan premi risiko Indonesia yang menurun.

“Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya dan bekerjanya mekanisme pasar, melalui efektivitas operasi moneter dan ketersediaan likuiditas di pasar,” tutur dia.

Sebagai informasi mengutip data Bloomberg hari ini, Kamis (17/8) rupiah pukul 09.25 WIB di pasar spot exchange berada di level Rp 14.807 per dolar AS atau menguat 35,5 poin (0,24%) dibandingkan perdagangan sebelumnya. Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.795-Rp 14.807 per dolar AS.

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN