Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Global Mediacom

Global Mediacom

Ketika Global Mediacom Diancam Dipailitkan

Sabtu, 8 Agustus 2020 | 01:44 WIB
Fajar Widhiyanto

Di tengah ingar-bingar kabar soal pandemi dan implikasinya terhadap perekonomian nasional, muncul berita yang cukup mengagetkan, perihal gugatan pailit terhadap PT Global Mediacom Tbk yang merupakan salah satu anak perusahaan milik MNC Group.

Pasalnya, perusahaan berkode BMTR di bursa efek tersebut, kendati mengalami penurunan kinerja pada kuartal I/2020, namun perusahaan masih mencetak laba bersih. Berdasarkan paparan publik perseroan beberapa waktu lalu, sepanjang kuartal I 2020, PT Global Mediacom Tbk meraih laba bersih Rp 140,2 miliar, kendati angka ini merupakan penurunan 46,83% dari periode sama tahun lalu Rp 263,66 miliar. Artinya, BMTR bukanlah perusahaan yang jelek dari sisi kinerja keuangan, dan bermasalah dengan utang.

Bahkan Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengangkat outlook PT Global Mediacom Tbk (BMTR) menjadi outlook stabil dari semula creditWatch dengan implikasi negatif. Kepercayaan Pefindo tersebut didasari manajemen BMTR yang menyatakan berencana untuk membayar kembali utang jatuh tempo dengan kas internal.

Adalah perusahaan telekomunikasi asal Korea Selatan, KT Corporation, yang mengajukan gugatan pailit terhadap PT Global Mediacom Tbk (BMTR) ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat. Gugatan tersebut didaftarkan dengan nomor 33/Pdt.Sus-Pailit/2020/PN NIAGA JKT.PST, tertanggal 28 Juli 2020 lalu.

Dalam petitum pengadilan, ada beberapa hal yang diajukan oleh penggugat, salah satunya adalah meminta majelis hakim menerima dan mengabulkan permohonan pailit seluruhnya dengan segala akibat hukumnya.

Kuasa Hukum KT Corporation Warakah Anshar dari Amir Syamsudin Law Office menyatakan gugatan tersebut telah mengacu pada Undang Undang (UU) tentang Kepailitan, disebutkan UU tersebut bahwa jika debitur memiliki dua atau lebih kreditur, dan memiliki satu utang yang telah jatuh tempo, maka dapat dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan.

“Pada Sidang Permohonan Pailit di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terhadap Global Mediacom, Rabu kemarin (5/8), Dr Amir Syamsudin dari Amir Syamsudin Law Office menegaskan bahwa Global Mediacom dari MNC Grup telah gagal membayar nilai yang telah diputus oleh Majelis Arbitrase London, baik kepada KT Corporation sejak Juli 2009, dan Qualcomm sejak Mei 2011,” ujar Warakah dalam pernyataannya yang diterima redaksi, Jumat (7/8).

Dikatakannya, berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, pada Pasal 2 Ayat (1) disebutkan bahwa Debitur yang telah memenuhi kriteria, dapat diajukan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannnya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

Global Mediacom disebut-sebut memiliki lebih dari satu utang yang dapat ditagih, ini merujuk pada putusan arbitrase International Chamber of Commerce (ICC) No. 16772/CYK pada November 2010, disebutkan bahwa Global Mediacom diwajibkan untuk membayar kepada KT Corporation sejumlah US$ 13.850.966 untuk pembayaran harga penjualan berikut bunga serta US$ 731.642 untuk biaya hukum dan lainnya.

Selain kepada KT Corporation, Global Mediacom juga diperintahkan oleh Majelis Arbitrase Pada Oktober 2012 untuk membayar pada Qualcomm sebesar US$ 39.500.479 ditambah bunga tetap sebesar 5.063% pertahun sejak Mei 2011.

“Dengan demikian, dapat dibuktikan dengan sederhana, bahwa Global Mediacom memenuhi syarat Undang Undang Kepailitan, karena memiliki paling tidak dua kreditur, dan satu hutang jatuh tempo yang dapat ditagih, oleh karenanya kami ajukan permohonan pailit untuk Global Mediacom,” demikian disampaikan Warakah.

Masih menurut Warakah, sengketa KT Corporation dan PT Global Mediacom Tbk diawali dengan Perjanjian Opsi Jual dan Beli pada Juni 2006, Perjanjian tersebut awalnya ditandatangani oleh PT KTF Indonesia (kini menjadi KT Corporation), PT Bimantara Citra Tbk (kini menjadi Global Mediacom) dan Qualcomm Incorporated.

Pada September 2016, seluruh hak dan kewajiban PT KTF Indonesia digantikan oleh KT Freetel, hal ini berdasarkan sale and transfer shares agreement. Kemudian KT Freetel melakukan merger dengan KT Corporation, dan menjadi KT Corporation sebagai perusahaan yang tetap berdiri. Dengan demikian, seperti disampaikan Amir Syamsudin dalam sidang beberapa waktu lalu, KT Corporation merupakan kreditor yang sah dari PT Global Mediacom Tbk. Dan KT Corporation disebutkan memiliki landasan hukum yang kuat untuk mengajukan gugatan pailit kepada Global Mediacom.

Sementara itu, Direktur dan Chief Legal Counsel Global Mediacom Christophorus Taufik Siswandi, dalam keterangan tertulisnya kepada media Senin (3/8) lalu mengatakan, permohonan tersebut tidak berdasar atau tidak valid karena perjanjian yang dijadikan dasar dari permohonan telah dibatalkan berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.97/Pdt.G/2017/PN.JakSel tertanggal 4 Mei 2017 yang telah berkekuatan hukum tetap.

KT Corporation sebagai pihak yang mengajukan permohonan juga menurutnya patut dipertanyakan validitasnya, mengingat pada tahun 2003 yang berhubungan dengan Perseroan adalah KT Freetel Co. ltd, dan kemudian pada tahun 2006 hubungan tersebut beralih kepada PT KTF Indonesia.

“Bahwa kasus ini adalah kasus lama, sudah lebih dari 10 tahun, bahkan KT Corporation sudah pernah juga mengajukan permohonan peninjauan kembali ke Mahkamah Agung dan ditolak berdasarkan putusan Mahkamah Agung No. 104PK/Pdt.G/2019 tanggal 27 Maret 2019,” ujarnya.

Untuk itu pihaknya berpendapat bahwa seharusnya Pengadilan Niaga menolak Permohonan KT Corporation dikarenakan tidak didukung fakta-fakta hukum yang valid. “Sehingga terkesan Permohonan diajukan sebagai bagian dari upaya mencari sensasi di tengah kondisi ekonomi dunia yang sedang menghadapi Pandemi Covid-19,” imbuhnya.

Taufik juga menyatakan, tindakan yang dilakukan oleh KT Corporation sudah masuk sebagai tindakan pencemaran nama baik, sehingga Perseroan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi hak-haknya, termasuk menempuh pelaporan secara pidana kepada pihak Kepolisian.

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN