Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bahlil Lahadalia. Foto: IST

Bahlil Lahadalia. Foto: IST

JOKOWI JUMPA PRABOWO

Ketum Hipmi Optimistis Investor Tak Wait and See Lagi

Gora Kunjana, Minggu, 14 Juli 2019 | 18:32 WIB

JAKARTA, investor.id —Presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) akhirnya bertemu dengan rivalnya Prabowo Subianto akhir pekan ini (14/7/2019) di Jakarta. Ketua Umum BPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia menyambut baik pertemuan tersebut.

“Kita dari dunia usaha menyambut baik. Kita optimistis investor tidak lagi wait and see lagi,” ujar Bahlil dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu.

Bahlil mengatakan, pertemuan tersebut menimbulkan konfiden yang besar di kalangan dunia usaha dan pasar. Sebab itu, dia optimistis pertemuan itu akan membawa sentimen positif di pasar saham dan nilai tukar pekan depan. “Investor dan pasar kan lihat bahwa ternyata politik kita sudah matang. Demokrasi kita juga sudah proven,” ucap dia.

Bahlil optimistis investor akan memiliki keyakinan yang kuat untuk masuk dan berinvestasi ke Indonesia. Selama ini, investor masih menunggu menyusul lamanya Pilpres dan tahap-tahapannya sejak tahun lalu. HIPMI memuji kenegarawanan kedua pemimpin sehingga situasi menjadi lebih adem dan kondusif.

Bahlil mengatakan, timing pertemuan keduanya sangat tepat dan belum terlambat. Sebab, tahap-tahapan pemilu sudah selesai. Secara resmi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan Presiden terpilih 2019-2024. “Timing-nya sudah tepat. Belum terlambat. Apalagi hari Presiden Jokowi akan menyampaikan pidatonya tentang visi Indonesia ke depan,” ucap dia.

Bahlil mengatakan, agar investor dan pasar sepenuhnya optimistis, berbagai perbaikan regulasi dan iklim usaha harus secara mendasar dilakukan perbaikan.

“Kita hadapi masalah current account deficit (CAD), sebagai cerminan belum produktifnya industri didalam negeri. Produksi migas kita rendah. Kemandirian energi masih lemah. Akibatnya kita sangat tergantung pada impor, sehingga CAD kita tinggi,” ucap dia.

 

Agenda Ekonomi

Sebab itu, Bahlil meminta semua pihak meninggalkan agenda-agenda dan bergeser, bagaimana mengurus ekonomi yang demokratis.

“Jadi, kita mesti siap bergerak dari agenda demokrasi politik ke agenda demokrasi ekonomi. Jangan politik terus. Mari kita bangun bangsa sama-sama,” tukas Bahlil.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN