Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Penerimaan pajak. Foto ilustrasi: IST

Penerimaan pajak. Foto ilustrasi: IST

Kinerja DJP Meningkat,  Penerimaan Pajak Diproyeksi Capai Target 

Selasa, 23 November 2021 | 20:26 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar memiliki dua proyeksi terkait penerimaan pajak tahun ini, pertama akan mencapai 98,55% atau setara Rp 1.211,76 triliun dari pagu penerimaan pajak yang ditetapkan dalam UU APBN sebesar Rp 1.229,59 triliun.  

Kemudian penerimaan pajak  juga berpotensi mencapai 103,33% apabila DJP mempertahankan kinerja penerimaan secara month to month (mtm) sebesar 13,24%.  Dengan begitu penerimaan pajak tahun ini dapat melebihi 100%.

“Kami yakini penerimaan pajak tahun ini akan sesuai target, jika terpenuhi sesuai target ini luar biasa apalagi kondisi 2021 masih pandemi Covid-19,”ujarnya dalam Diskusi Wajah Baru Perpajakan Indonesia Pasca UU HPP, Selasa (23/11).

Akan tetapi penerimaan pajak juga berpotensi mencapai 103,33% apabila DJP mempertahankan kinerja penerimaan secara month to month (mtm) sebesar 13,24%.  Dengan begitu penerimaan pajak tahun ini dapat melebihi 100%.

Ia tak menampik bahwa tantangan untuk mengumpulkan penerimaan di masa Covid-19 dinilainya cukup sulit, namun DJP dapat menjawabnya melalui peningkatan kinerja.

Lebih lanjut Fajry menceritakan bahwa Indonesia terakhir mencapai target penerimaan pajak pada tahun 2008 yang tak terlepas dari program sunset policy.

“Terakhir kali mencapai target penerimaan pajak tahun 2008. Namun kinerja 2021 jauh lebih baik dibandingkan kinerja 2008 dan kinerja penerimaan pajak tahun ini didorong perbaikan sisi PPN terutama dari PPN impor tumbuh sangat tinggi sekali, pertumbuhan ini indikasikan ekonomi sudah pulih,” ujarnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengatakan bahwa Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan pajak hingga Oktober 2021 senilai Rp953,6 triliun atau tumbuh 15,3%. Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat dan dunia usaha mulai kembali bergeliat seiring melandainya kasus Covid -19 dan reopening kegiatan ekonomi.

Menkeu Sri Mulyani mengatakan realisasi tersebut menunjukkan kinerja penerimaan pajak telah pulih sangat kuat dari tekanan pandemi Covid-19. Oleh karena itu, pemerintah akan mengoptimalkan kinerja penerimaan seiring pemulihan ekonomi nasional yang terus bergulir.

"(Penerimaan pajak) tumbuh 15,3%. Ini adalah suatu rebound, recovery, yang sangat kuat," katanya, Senin (22/11).

Sri Mulyani mengatakan realisasi penerimaan pajak tersebut setara dengan 77,6% terhadap target Rp1.229,59 triliun. Dia memperkirakan penerimaan pajak akan terus meningkat mengikuti perbaikan kinerja ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Sementara itu, outlook penerimaan pajak hingga akhir tahun akan mencapai target yang ditetapkan dalam UU APBN 2021 senilai Rp1.229,6. Jika outlook itu tercapai, penerimaan pajak sepanjang 2021 akan mencatatkan pertumbuhan 14,7%.

Secara keseluruhan, pendapatan negara telah menunjukkan pertumbuhan positif mencapai Rp1.510,0 triliun atau tumbuh 18,2%. Realisasi tersebut telah mencapai 86,6% dari target Rp1.743,6 triliun. Realisasi kepabeanan dan cukai senilai Rp205,8 triliun dengan pertumbuhan 25,5%, atau setara 95,7% dari target Rp215,0 triliun.

“Sisi penerimaan negara bukan pajak (PNBP), realisasi hingga Oktober 2021 senilai Rp349,2 triliun atau tumbuh 25,2%. Realisasi itu setara 117% atau sudah melampaui target dari target Rp298,2 triliun karena didukung kenaikan harga komodita,” ujarnya.

Sementara dari sisi belanja, realisasinya Rp2.058,9 triliun atau tumbuh 0,8% dan setara 74,9% dari yang direncanakan senilai Rp2.750,0 triliun. Belanja pemerintah pusat senilai Rp1.416,2 triliun atau mencatatkan pertumbuhan 5,4%, sedangkan transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) 642,6 triliun atau minus 7,9%.

Dengan kinerja tersebut, defisit APBN hingga Oktober 2021 telah mencapai Rp548,9 triliun atau 3,29% terhadap produk domestik bruto (PDB). Defisit itu juga setara 54,5% dari yang direncanakan senilai Rp1.006,4 triliun.

"Pendapatan negara terjadi cerita pemulihan ekonomi recovery dan rebound namun ini bukan pekerjaan yang sudah selesai, masih dan terus berjuang pulihkan kegiatan ekonomi. Kami berharap penerimaan negara tetap terjaga kuat dan belanja negara diharapkan tetap sesuai dengan yang kami anggarkan," tuturnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN