Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Industri manufaktur. Foto ilustrasi: IST

Kinerja Manufaktur Turun di Juni

Leonard AL Cahyoputra, Selasa, 2 Juli 2019 | 08:00 WIB

JAKARTA, Investor.id - Setelah meraih hasil tertinggi dalam sembilan bulan terakhir, kinerja manufaktur Indonesia menurun pada Juni 2019. Hal ini terlihat pada indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) yang turun dari 51,6 pada Mei menjadi 50,6 di bulan Juni. 

Penurunan itu disebabkan perlambatan produksi dan melemahnya permintaan. PMI atau indeks manufaktur dirilis Nikkei dan Markit tersebut setelah mensurvei beberapa manajer pembelian di perusahaan manufaktur Indonesia. PMI di atas 50 menunjukkan manufaktur tengah ekspansif, sedangkan di bawah 50 menunjukkan manufaktur mengalami resesi. Indeks yang dirilis setiap bulan tersebut, memberikan gambaran tentang kinerja industri pengolahan pada suatu negara, yang berasal dari pertanyaan seputar jumlah produksi, permintaan baru, ketenagakerjaan, inventori, dan waktu pengiriman.

Kepala Ekonom di IHS Markit Bernard Aw mengatakan, manufaktur Indonesia kehilangan momentum pertumbuhan pada pertengahan tahun ini, karena produsen barang melaporkan volume produksi dan permintaan baru melambat selama Juni.

"Kondisi permintaan yang lebih lemah membebani perekrutan, karena survei PMI mengisyaratkan tingkat penciptaan lapangan perkerjaan berada di level terlemah selama satu tahun. Perusahaan juga menekan laju peningkatan dalam pembelian bahan baku dan kepemilikan saham,” ujar dia, Senin (1/7).

Tanda-tanda perlambatan manufaktur juga terlihat pada sub-indeks PMI. Kondisi permintaan tumbuh moderat pada Juni, sebagaimana ditunjukkan oleh kenaikan pesanan baru yang lebih sedikit. Tumpukan pekerjaan juga terakumulasi pada jumlah yang lebih sediikit dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Itu karena perusahaan merespons permintaan yang lebih lemah dengan memperlambat laju produksi pada Mei.

Produsen barang Indonesia juga menjadi lebih berhati-hati terhadap investasi dan kepemilikan saham. Produk barang jadi yang disimpan di gudang juga meningkat di tengah laporan meningkatnya jumlah barang yang tidak terjual. Dengan permintaan yang lebih sedikit, waktu rata-rata yang diperlukan distributor untuk mengirimkan bahan baku ke pabrik-pabrik Indonesia meningkat pada Juni. Ini menandai peningkatan kinerja vendor sudah terjadi selama lima bulan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA