Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Joko Widodo didampingi Kepala BKPM bahlil Lahadalia menyalami Bambang saat menghadiri Rakornas Investasi 2020 di Jakarta. Foto: IST

Presiden Joko Widodo didampingi Kepala BKPM bahlil Lahadalia menyalami Bambang saat menghadiri Rakornas Investasi 2020 di Jakarta. Foto: IST

YANG TERSISA DARI RAKORNAS INVESTASI 2020

Kisah Investasi Mangkrak Penyandang Disabilitas

Rizal Calvary Marimbo *), Minggu, 23 Februari 2020 | 12:54 WIB

Bambang Susilo (42), pengusaha kecil menengah (UKM) asal Klaten tak pernah membayangkan sebelumnya. Duduk sederet investor-investor kakap asing di Rakornas Investasi yang digelar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) baru-baru ini. Di kiri kanan Bambang, duduk Kim Yong Ho (Bos Lotte Chemical). Lalu ada orang-orangnya Amazon seperti Luke Mackinnon, Manajer Infrastruktur Amazon untuk Australia dan Indonesia. Amazon ini usahanya orang terkaya dunia Jeff Bezos. Tidak ketinggalan investor Malaysia di PLTU Tanjung Jati Dato Yeoh Seok Hong.

Ada juga eksekutif-eksekutif Hyundai seperti  Kang-Hyun Lee. Dia bekas Bos Samsung Indonesia. Istrinya orang Sunda. Baru-baru ini Lee pindah ke Hyundai. Sebab, perusahaan asal Korea Selatan itu sedang beinvestasi mobil listrik besar-besaran di Bekasi. Rencana investasi ini sempat mangkrak. Berkat tangan dingin Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, investasi Hyundai sekarang berlanjut hingga Kang-Hyun Lee kemudian berlabuh ke Hyundai.

Bos-bos di kiri kanan Bambang ini bukan “kaleng-kaleng”. Mereka bertanggungjawab mengelola investasi puluhan triliun di Indonesia. Lotte misalnya. Investasinya sebesar US$ 4,2 miliar. Dalam rupiah, sebesar 60 triliunan. Begitu juga Amazon dan Tanjung Jati. Triliunan rupiah.

Yang sangat membahagiakan, Bambang kemudian berjumpa dan bersalaman secara langsung dengan Presiden Jokowi. Makanya, wajah Bambang sangat sumringah seharian itu. Untuk menghadiri undangan BKPM dan berjumpa dengan Jokowi, Bambang menyetir mobilnya dari Klaten ke Jakarta. Sejauh 547 km. Selama sembilan jam lebih. Bambang memboyong anak-istrinya ke Jakarta.

Yang bikin pembaca terkejut, Bambang praktis menyetir ratusan kilometer hanya dengan satu tangan. Sebab salah satu lengannya tak sempurna. Tak bisa diandalkan sepenuhnya.  Tak berhenti di situ, memang inilah istimewanya Bambang. Investasi Bambang tergolong sangat mikro alias kecil. Tak sebanding dengan Lotte dan kawan-kawan di atas.

Tapi sosok Bambang sangat instimewa bagi Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Sebab walaupun difabel, dia tak mau menyerah. Dia tak mau menjadi pengemis. Atau, hanya mengharap belaskasihan orang. Bambang berjuang keras. Hingga akhirnya dia menjadi pemilik usaha sendiri. Pengolaan batu pasir.

Menemukan Bambang

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (kiri) berdialog dengan salah satu warga yang menolak (tengah), disaksikan oleh pemilik usaha pengolahan batu pasir
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia (kiri) berdialog dengan salah satu warga yang menolak (tengah), disaksikan oleh pemilik usaha pengolahan batu pasir

Darimana Bambang ditemukan? Begini ceritanya. Lepas tahun baru, suasana kebatinan masih diselimuti liburan, Kepala BKPM memanggil anak buahnya di BKPM. “Tolong carikan data ini. Ada pabrik. Dua tahun izinnya masuk. Tapi tidak jalan-jalan sampai sekarang. Saya mau ke sana,” ujar Bahlil. Di pikiran kami staf-staf beliau: ini pasti pabrik besar. Investasinya bukan “kaleng-kalengan” lagi. Triliunan rupiah.

Maklum. Bukannya sombong. Memang sudah begitu.  BKPM terbiasa menangani investasi mangkrak puluhan, bahkan ratusan triliun rupiah. Nolnya dua belas ke atas. Buaanyak. Saking banyak nolnya, orang BKPM suka menulis dalam dolarnya Amerika (US$) saja. Biar lebih simpel. Pokoknya, kami sudah berpikir: pabriknya pasti besar ini. Duit yang ditanam juga seabrek.

Juga di pikiran kami. Ini pasti punya orang kaya-raya. Bukan orang sembarangan. Ada lagi yang kira ini pasti anak usaha seorang konglomerat. Apalagi, Pak Kepala meminta dicepat-cepatin. Bukan sekadar cepat dapat datanya. Juga beliau meminta secepatnya diurus untuk berjumpa langsung dengan sang pemilik di Klaten. Plus meninjau pabriknya.

Pikiran kami memang masih tersangkut di Lotte, Hyundai, dan Tanjung Jati. Yang beliau selesaikan hanya dalam dua pekan setelah diangkat menjadi menteri. Totalnya ada Rp 108 triliun investasi mangkrak dituntaskan. Tak lebih dari dua bulan.  'Hantu-hantu' penghambat 'dilibas.' Investor-investor yang masih ‘maju mundur’ ditawarkan program ‘nikah cepat.’ Semua senang. Karena, kemudian merasa sama-sama enak.

Investor yang kerjanya 'pacaran’ terus atau cuma main mata dengan mitranya, ‘diminta’ segera tunangan. Sekalian siap-siap akan segera ke pelaminan atau Commercial on Date (COD). Kalau tidak, akan segera dicarikan calon suami atau investor baru. Tentu yang lebih siap dan lebih seksi.

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Foto: huimas BKPM
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Foto: huimas BKPM

Misalnya, China Petroleum Corporation (CPC), asal Taiwan, dan Pertamina. Akhirnya keduanya siap ‘tunangan’ setelah setahunan hanya ‘pacaran’ atau dating terus. Ditanya kapan kawin, jawabannya may be yes may be no terus. Hari itu juga Kepala BKPM menantang keduanya meneken Joint Venture Agreement (JVA). Istilahnya tunanganlah kira-kira. "Cepat-cepat, saya kasih waktu tiga jam you CPC, Ibu Dirut (Pertamina) banyak yang suka, saya carikan jodoh yang lain kalau Anda menggantung terus begini," ujar Kepala BKPM, disambut senyum dan tawa para peserta perundingan. 

Suasana perundingan yang awalnya tegang, berubah menjadi cair dan penuh canda. Rencana investasi CPC memang bukan kaleng-kaleng bos. Mencapai US$ 8 miliar atau Rp 115 triliun. Pokoknya, yang baca ini bisa pingsan, ketiban duit segitu banyak itu.

Kembali ke pabrik di Klaten. Sejauh ini, pembaca yang budiman sudah paham kalau kenapa kami di BKPM pikir ini bakal perusahaan besar. Nyatanya, kami kaget. Investasi awalnya hanya Rp 800 juta. Kemudian berkembang menjadi Rp 1 miliar. Investasi sekecil itu memang bisa didaftar di BKPM. Sebab lebih dari Rp 500 juta.

Tapi rasa-rasanya, investasi sekecil itu cukup diselesaikan Kepala Dinas PTSP Kabupaten. Buat apa sekelas Menteri ke sana? Tempatnya pun jauh dari Kota Yogyakarta. Di Dusun Butuh. Susah carinya di Googlemap. Desa Bawukan. Kecamatan Kemalang. Kabupaten Klaten. Uniknya lagi, pabrik ini persis di perbatasan dua kabupaten. Dua Provinsi. Klaten dan Bantul. Juga Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Produknya pun menurut Anda mungkin tidak bonafid. Jualan batu. Batu dari muntahan Gunung Merapi. Besar-besar. Digiling. Habis itu, dijual jadi bahan bangunan dan konstruksi. Konon proyek jalan tolnya Presiden Jokowi banyak menyerap batu dari sini. Mengejutkan lagi, karyawannya juga rata-rata penyandang cacat.

Jumpa Bambang

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, . Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, . Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Data terkumpul. Sabtu (4/1/2020) Kepala BKPM meluncur ke Yogyakarta. Kepala BKPM juga sebelumnya sudah berkomunikasi dengan Presiden Jokowi. Saya geleng-geleng kepala. Dua orang hebat ini mau mengurus usaha tergolong berukuran mikro ini. Tapi itulah. Pemimpin memang mesti turun langsung ke lapangan. Jangan hanya duduk-duduk manis di belakang meja sambil menunggu laporan dari bawah. Apalagi bila masalah itu, tak mampu lagi diselesaikan di tingkat bawahan.

Bukan soal nilai investasinya. Tapi usaha ini milik penderita difabel yang sedang terzolimi. Izinnya terancam dicabut hanya karena desakan sekelompok orang. Tiba di Yogya, Bahlil sudah ditunggu Kepala Dinas Penanaman Modal Terpadu Satu Pintu (Kadis DPMPTSP) Provinsi Yogyakarta Arief Hidayat, Kadis DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah Ratna Kawuri, Kadis DPMPTSP Kabupaten Klaten Agus Suprapto, Kadis DPMPTSP Bantul, Sri Muryuwanthini dan bergabung juga Kapolres muda dan hebat Klaten AKBP Wiyono Eko Prasetyo. Kapolres Eko tak Lelah-lelahnya melindungi usaha penyandang cacat dari rongrongan orang luar.

Kepala BKPM tiba di Sleman, Yogyakarta, menjelang pukul 15.00 WIB. Langsung berjumpa dengan Bambang. Bambang kulitnya hitam legam diterjang sinar matahari. Tak ada tampang pengusaha. Bila berjalan, Bambang seperti mau oleng. Terseok-seok. Sebab itu tadi. Kakinya mengalami cacat atau penderita difabel.

Kepala BKPM langsung mengecek legalitas usaha Bambang. Ternyata, semua izin sudah lengkap. Bambang telah mengurus Izin usahanya.  Sejak 10 Februari 2018. Izin usaha tersebut sudah keluar. Sebanyak 80% warga meneken surat persetujuan atas pabrik nan mungil itu.

Ironisnya, meski telah mengantongi izin, Bambang belum diperbolekan oknum-oknum tertentu untuk menghidupkan mesin pemecah batunya. Usahanya selalu dihalang-halangi oleh oknum-oknum yang mengaku sebagai warga.”Padahal, kita sudah investasi hampir satu miliar rupiah atau sekitar Rp 800 juta,” ujar Bambang.

Untuk pengusaha mikro sekelas Bambang, duit segitu sudah sangat banyak. Permintaan warga soal  debu sudah diselesaikan. Lokasi usahanya, kami pantau sudah ditutupi dengan atap. Masalah getaran dan bising sudah diatasi. Mesin dibenamkan ke dalam tanah sedalam tujuh meter agar tidak bising.

Usai mendengar curhatan Bambang, Kepala BKPM bergerak ke lokasi pabrik. Betul. Kepala BKPM menemukan keanehan. Meski mesin sudah dibenamkan, beberapa oknum mulai mendemo dan bersuara keras ke arah Kepala BKPM. Kapolres Eko berkali-kali meminta yang bersangkutan tenang. Namun, sambil berteriak-teriak, oknum-oknum ini tetap ngotot. Mereka mendesak agar Kepala BKPM tidak mengizinkan usaha Bambang beroperasi.

Ditanya soal alasannya, dijawab hanya pokoknya dan pokoknya setop. Mendengarkan teriakan dan desakan oknum, Kepala BKPM tak oleng sikapnya. Kepala BKPM malah mencium ada sesuatu yang janggal dengan penolakan itu.  Ada masalah lain dari sekadar dugaan  polusi suara dan lingkungan yang belum terbukti. Kepala BKPM menemukan mesin-mesin dan usaha pemecah batu sejenis sudah biasa dan memang bertebaran di daerah ini. Sehingga bisa saja mangkraknya usaha dari penyandang cacat ini bermotif persaingan bisnis.

Terus ditekan, bukan Bahlil kalau kemudian menyerah. Sudah hampir lima tahun saya bersama beliau. Saya tahu persis tabiat beliau bila ada pihak yang berusaha menekan. Kepada oknum-oknum ini, Kepala BKPM malah mengingatkan. Jangan ada yang coba-coba mengganggu usaha ini!  Usaha ini tetap dijalankan! Sesuai izin yang ada.

“Saya perintahkan kepada Kepala Dinas yang hadir agar jangan mencabut izin usaha hanya karena desakan sekelompok orang. Bapak Kapolres agar ‘mengamankan’ usaha saudara kita penyandang cacat ini sampai berjalan. Negara wajib melindungi usaha, investasi, dan jalannya mesin sesuai izin yang ada. Negara harus hadir di sini,” ujar Kepala BKPM tegas.

Mendengar ketegasan Kepala BKPM, oknum-oknum pun berangsur-angsur bubar. “Pak Bambang sudah boleh memulai produksinya mulai hari ini. Apalagi usaha ini punya penyandang disabilitas. Jangankan kita, konstitusi dan ajaran agama pun meminta kita memperlakukan para penyandang cacat secara khusus atau pengecualian. Sebab mereka mengalami banyak keterbatasan, maka difabel harus diberi hak khusus. Tidak bisa mengikuti aturan orang-orang normal,” ujar Kepala BKPM.

Bambang sumringah dan bahagia. Lega. Sebab mesin produksinya sudah boleh menderu. Setelah dua tahun mangkrak. “Saya tidak menyangka usaha  yang hanya tergolong usaha mikro dengan investasi tak lebih dari Rp 1 miliar ini mau ditangani langsung oleh Kepala BKPM, yang datang jauh-jauh dari Jakarta, langsung ke sini. Kami penyandang cacat mendapat perlindungan dari pemerintah pusat, alhamdullilah,” ucap Bambang.

Baik investasi Bambang, Lotte, atau investasi di manapun di NKRI harus dilindungi oleh negara. Apalagi investasi untuk menciptakan lapangan kerja seperti usaha mikro punya Bambang. Saat ini ada tujuh juta orang membutuhkan lapangan kerja. Tiap tahun ada dua hingga tiga juta tambahan baru pencari kerja. Tidak mungkin tenaga kerja sebanyak itu akan ditampung menjadi ASN, TNI atau Polri. Yang memungkinkan adalah membuka lapangan kerja di sektor swasta, melalui kegiatan investasi.

*) Anggota Komite Investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN