Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nelayan menanam 3.300 unit Artificial Reef di Laut Bangka. Foto ilustrasi: IST

Nelayan menanam 3.300 unit Artificial Reef di Laut Bangka. Foto ilustrasi: IST

KKP Libatkan WCS Jaga dan Kelola Keanekaragaman Hayati Laut

Ridho Syukra, Kamis, 23 Januari 2020 | 14:43 WIB

JAKARTA, investor.id - Indonesia mempunyai luas lautan 325 juta hektar yang diisi oleh berbagai potensi keanekaragaman hayati yang harus dijaga kelestariannya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berupaya mendorong kelestarian hayati laut dengan melibatkan pihak lain, salah satunya Wildlife Conversation Society (WCS).

Lautan luas membuat pengelolaan keanekaragaman hayati laut diimplementasikan berbasis wilayah baik itu di regional, nasional maupun global.

Dalam Konferensi Para Pihak The Convention on Biological Diversity (CBD) pada 2010 telah disepakati yaitu mengkonservasi 10% wilayah pesisir dan laut sebagai bagian dari kerangka kerja keanekaragaman hayati.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP Aryo Hanggono mengatakan pada tahun 2019, Indonesia telah memiliki kawasan konservasi seluas 23,14 juta hektar yang meliputi 196 kawasan yang dikelola KKP, KLHK dan Pemerintan Provinsi.

Luas ini baru mencakup 7,12% dari laut teritorial dan akan ditingkatkan menjadi 30 juta hektar pada tahun 2030.

Di luar kawasan konservasi,ada juga target 11 juta mendorong adanya pengelolaan berbasis wilayah namun dalam bentuk non kawasan konservasi yang dikenal dengan istilah Other Effective Area Based Conservation Measures (OECM).

OECM merupakan area selain dari kawasan lindung yang secara geografis ditetapkan dan diatur melalui suatu cara dan dalam jangka panjang mencapai hasil yang positif dan berkelanjutan untuk konservasi keanekaragaman hayati berkelanjutan.

Aryo mengatakan bahwa banyak masyarakat lokal, tradisional dan adat telah terbukti memiliki wilayah dan perangkat pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau pulau kecil termasuk perikanannya.

Pembahasan OECM hingga 2019 masih fokus pada kawasan darat, maka dari itu KKP melalui Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut dan Wildlife Conservation Society Indonesia Program menginisiasikan pengelolaan keanekaragaman hayati berbasis wilayah melalui pendekatan OECM.

“ Lokasi-lokasi pengelolaan wisata bahari, kawasan konsesi migas di laut dan wilayah latihan militer juga memiliki dampak positif bagi keanekaragaman hayati,” ujar dia di Jakarta, Kamis (23/1).

Ia mengatakan keanekaragaman hayati harus dijaga dan dilestarikan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing kelautan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA