Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Berfoto bersama di depan pabrik pembuat tahu pengguna pelet kayu sebagai bahan bakar di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Berfoto bersama di depan pabrik pembuat tahu pengguna pelet kayu sebagai bahan bakar di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

KLHK: Pengembangan Pelet Kayu Sejalan Nawacita Jokowi

Gora Kunjana, Minggu, 2 Februari 2020 | 09:02 WIB

SUBANG, investor.id – Industri wood pellet atau pelet kayu sebagai bahan energi baru dan terbarukan (EBT) di Subang, Jawa Barat perlu terus dikembangkan karena sejalan dengan program nawacita Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi), khususnya butir ke 3, yakni Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. 

Demikian dikemukakan Haruki Agustina, Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di sela-sela meninjau pabrik pelet kayu PT Gemilang MS di Desa PadaAsih, Subang, Jawa Barat, Jumat (31/1/2020).

 

Selain ke pabrik pelet kayu, Haruki Agustina beserta rombongan KLHK, juga jajaran Kementerian ESDM Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergi, serta perwakilan PT Energy Management Indonesia (EMI) meninjau pabrik kayu yang memanfaatkan pelet kayu sebagai bahan bakar.

Menurut Haruki, usaha kecil dan menengah (UKM) pelet kayu di Subang ini cocok untuk membangun ekonomi perdesaan karena memiliki sumber bahan baku di sekitar desa sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

“Dalam konteks lingkungan hidup pun, pelet kayu juga bagus karena berasal dari bahan baku kayu dengan sistem pembakaran yang bersih atau tidak menimbulkan polusi. Pelet kayu juga masuk dalam kategori energi baru terbarukan (EBT), suatu energi alternatif untuk mengganti energi berbahan bakar fosil yang secara bertahap harus mulai kita tinggalkan,” jelasnya.

Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK Haruki Agustina (tengah) berbincang dengan Dani Kusdani (kanan) pemiliki pabrik pembuat tahu pengguna pelet kayu sebagai bahan bakar di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK Haruki Agustina (tengah) berbincang dengan Dani Kusdani (kanan) pemiliki pabrik pembuat tahu pengguna pelet kayu sebagai bahan bakar di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Memandang lebih luas, Haruki menilai, industri pelet kayu tidak hanya cocok untuk skala kecil di desa. Pelet kayu bisa dikembangkan dalam skala nasional dengan manfaat ekonomi lebih massif dan signifikan.

Ia menjelaskan setiap kota memiliki taman-taman kota dengan berbagai tanaman atau pohon di dalamnya. Nah, taman-taman kota itu memiliki potensi limbah organik seperti dahan atau ranting yang selama ini hanya dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dengan membangun pabrik pelet kayu, limbah organik yang berasal dari tanaman tersebut tidak perlu dibuang ke TPA tapi dimanfaatkan, disalurkan ke pabrik pelet kayu.  

“Di DKI Jakarta misalnya, taman-taman kota yang ada bisa kita maintanance pohonnya di mana ada ranting-ranting dan dahan yang biasanya ditebang dan diibuang ke TPA, itu kan sayang. Padahal itu organic compound, ada nilai ekonominya jika dimanfaatkan untuk bahan baku pelet kayu,” urai Haruki.

Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK Haruki Agustina (kanan), saat meninjau pabrik pembuat pelet kayu di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah Bahan Berbahaya Beracun pada Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, KLHK Haruki Agustina (kanan), saat meninjau pabrik pembuat pelet kayu di Subang, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Selain memanfaatkan limbah organik taman kota, Pemda juga dapat membangun hutan industri penghasil kayu sebagai bahan baku pelet kayu tersebut.

Biofuel ini oke, lebih gampang sumber bakunya tersedia di sekitar atau renewable resources. Bangun hutan industri, maintenance rantingnya dan tinggal investasi mesin,” ujarnya.

Sementara dari sisi masyarakat, rumah tangga atau warga juga harus diedukasi untuk tidak membuang ranting. Mereka harus diedukasi untuk melakukan pemilahan sampah organik khususnya yang berasal dari pohon. “Kalau di rumah tangga pemilahannya jalan, masyakarat paham setelah diedukasi, terus pemerintahnya memfasilitasi jalan sudah,” sambungnya.

Haruki menambahkan, sebenarnya industri skala kecil berbasis desa untuk membangun ekonomi kerakyatan sudah banyak infrastrukturnya di pemerintah. Artinya pemerintah sudah menyediakan tools-tools nya, sekarang tinggal bagaimana membuat sebuah perencanaan untuk menyatukan antar kepentingan.

 

“Kalau bicara industri kecil itu ada di Kementerian Perindustrian, bicara energi itu di Kementerian ESDM, bicara lingkungan ada di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terkait desa ada Kementerian Desa itu semua dintegrasikan untuk membangun pola pembangunan industri skala kecil berbasis desa dengan menggunakan anggaran yang ada. Tinggal kita mau atau enggak. Ini sebenarnya mendorong Nawacitanya Pak Jokowi untuk membangun masyarakat yang berkeadilan dan sejahtera,” katanya.

Haruki menyadari bahwa kewenangan KLHK terbatas. “Kami hanya membantu wilayah yang mempunyai masalah masyarakatnya membakar limbah untuk bahan bakar. Itu kan tidak boleh, maka kami mencari alternatifnya. Nah pellet kayu ini merupakan salah satu alternatif untuk daerah ini,” katanya.

Oleh karena itu, ia kembali menekankan bahwa  kolaborasi, koordinasi lintas sektoral itu yang sangat penting untuk membuat program ini menjadi massif.

Sudah jadi program ESDM

Jai (setengah beridiri) warga Desa pada Asih yang mulai menggunakan kompor berbahan bakar pelet kayu di depan rumahnya, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana
Jai (setengah beridiri) warga Desa pada Asih yang mulai menggunakan kompor berbahan bakar pelet kayu di depan rumahnya, Jumat (31/1/2020). Foto: Investor Daily/Gora Kunjana

Dalam kesempatan yang sama, Agil Gozal, Analis Program Energi Baru Terbarukan (EBT) Kementerian ESDM Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergi, mengatakan bahwa awal tahun ini pihaknya memang lagi mempersiapkan program pemanfaatan biomassa.

“Pemanfaatan biomassa ini kami cofiring untuk PLTU, tapi memang masih dalam pembahasan. Nah ini, pelet kayu dimanfaatkan untuk thermal untuk masak contohnya di pabrik tahu. Terus ada ide juga dari PT EMI untuk membuat thermo couple untuk listrik selain untuk memasak. Ini menarik dan bisa diajukan ke direktorat bioenergy untuk dibahas,” katanya.

Ia menambahkan Ditjen EBTKE Direktorat Bioenergy ESDM berperan sebagai fasilitator bagi pihak atau pemda yang mempunyai program dalam rangka menaikkan bauran energi.

“Seperti pelet kayu ini masih skala kecil untuk UKM. Untuk skala yang lebih luas kita tidak bisa sembarangan harus disertifikasi, dikaji dan diujicoba,” katanya.

Untuk pelet kayu ini, sambung Agil, Kementerian ESDM dan Perindustrian memang memiliki kewenangan paling dekat di samping Kementerian LHK dan Kementerian Desa. Karena manfaatnya untuk bauran energi. Di satu sisi pengguna bioenergi, biomassa pelet kayu ini adalah industri kecil, UKM, yang domainnya di Kementerian Perindustrian. Di sisi lain, Kementerian LHK terkait program penurunan emisi karbon, karena pelet kayu ini ramah lingkungan. Kemudian karena usaha ini ada di sebuah desa dan Kementerian Desa punya program dana desa bisa membantu dalam bidang pendanaan.

“Sekarang kan era integrasi, kolaborasi multisektor. Bagusnya memang begitu, tapi karena melibatkan banyak pihak maka diskusinya cukup panjang,” pungkasnya.

Program rintisan

 

Sementara itu, Direktur Operasi dan Pengembangan PT Energi Management Indonesia (Persero), Antonius Aris Sudjatmiko menyampaikan bahwa pihaknya siap mendukung program pemerintah untuk meningkatkan pemanfaatan EBT, khususnya biomassa wood pellet ini.

Dia mengaku, sebagai BUMN yang bergerak di bidang Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, PT EMI (Persero) sedang melakukan beberapa kajian dan program rintisan untuk mendorong pemanfaatan wood pellet ini untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

"Kami sedang melakukan beberapa kajian dan rintisan agar wood pellet ini dapat menjadi sumber energi yang andal untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Mulai dari teknologi burner / tungku untuk menciptakan pasar sampai kepada menyusun sistem manajemen energi untuk mengatur keseimbangan suplai dan demand termasuk bagaimana solusi pemenuhan kebutuhan energi bagi masyarakat yang kurang mampu,” kata Aris.

Lebih lanjut Aris berharap agar program pengembangan dan pemanfaatan EBT ini benar-benar menjadi perhatian serius semua pihak sehingga dapat menyelesaikan permasalahan energi terutama di sektor rumah tangga dan IKM.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN