Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
KNKT rilis pernyataan terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Rabu (10/2/2021). Sumber: BSTV

KNKT rilis pernyataan terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Rabu (10/2/2021). Sumber: BSTV

KNKT Ungkap Percakapan Terakhir Pilot Sriwijaya SJ-182 Sebelum Jatuh

Rabu, 10 Februari 2021 | 21:57 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Ketua sub komite investigasi kecelakaan penerbangan Kapten Nurcahyo Utomo melaporkan percakapan terakhir pilot Pesawat Sriwijaya bernomor SJY182 sebelum jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada 9 Januari 2021 lalu. Percakapan ini terekam di Air Traffic Control (ATC) Bandar Udara Soekarno Hatta, Jakarta.

Hal demikian disampaikan Nurcahyo saat konferensi pers pada Rabu (10/20). Ia menjelaskan bahwa pada pukul 1.38.51 pilot meminta kepada pengatur lalu lintas udara atau ATR untuk berbelok ke arah 75 derajat dan diizinkan. Permintaan pilot tersebut disebabkan oleh kondisi cuaca yang buruk.

ATC memperkirakan perubahan arah ini akan mengakibatkan Pesawat SJ-182 bertemu dengan pesawat lain yang berangkat dari landas pacu 25l atau Bandara Soekarno-Hatta landasan selatan. Sedangkan Pesawat SJ-182 berangkat dari landasan utara.

“Kedua pesawat ini memiliki tujuan yang sama yaitu Pontianak karena diperkirakan akan berpapasan, maka pesawat SJ-182 diminta berhenti naik di ketinggian 11.000 kaki,” jelas Nurcahyo.

KNKT rilis pernyataan terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Rabu (10/2/2021). Sumber: BSTV
KNKT rilis pernyataan terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Rabu (10/2/2021). Sumber: BSTV

Pukul 14.39.47 ketika pesawat melewati ketinggian 10.600 kaki dengan arah pesawat di 46 derajat, pesawat mulai terlihat berbelok ke arah kiri. Tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri kembali bergerak mundur sedangkan kanan masih tetap.

ATC lalu memberikan instruksi kepada pilot untuk naik ke ketinggian 13.000 kaki dan dijawab pilot pada pukul 14.39.59. “Ini adalah komunikasi terakhir yang terekam di rekaman komunikasi pilot ATC di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta,” kata Nurcahyo.  

Selanjutnya, pukul 14.40.05 Flight Data Recorder (FDR) merekam ketinggian tertinggi pesawat di ketinggian 10.900 kaki, setelah itu pesawat mulai turun karena autopilotnya tidak aktif (disengage). Arah pesawat di 16 derajat, hidungnya pada posisi naik (pitch up) dan pesawat mulai miring ke arah kiri (roll).

Ditambah, tuas pengatur tenaga mesin sebelah kiri juga kembali berkurang. Sedangkan kanan tetap. Pukul 14.40.10 FDR mencatat autothrottle tidak aktif. Sikap pesawat menunduk dan 20 detik kemudian FDR berhenti merekam.

“Dari data cuaca yang kami peroleh dari BMKG menunjukkan pesawat tidak melalui area dengan awan yang signifikan dan bukan area awan hujan. Juga tidak berada di dalam awan yang berpotensi menimbulkan guncangan,” paparnya.

Lebih jauh, dari data perawatan pesawat yang diperoleh terdapat dua kerusakan yang ditunda perbaikannya (Deferred Maintenance Item/DMI) sejak 25 Desember 2020. Menurut Nurcahyo, DMI merupakan hal biasa dan ini sesuai ketentuan untuk pemberangkatan dengan mematuhi panduan yang ada di dalam Minimum Equipment List (MEL). Sementara MEL dibuat pabrikan pesawat.

Penundaan perbaikan pertama pada 25 Desember 2020 tersebut, ditemukan bahwa penunjuk kecepatan (Airspeed Indicator) di sisi sebelah kanan rusak. Perbaikan yang dilakukan belum berhasil dan dimasukkan dalam daftar penundaan perbaikan kategori C. Sesuai MEL, untuk kategori C penundaan perbaikan diperbolehkan sampai 10 hari. Lalu pada 4 Januari 2021, indikator diganti dan hasilnya bagus sehingga DMI ditutup. 

Penundaan perbaikan kedua terjadi pada 3 Januari 2021. Pilot melaporkan autothrottle (throttle adalah ruas pengatur tenaga mesin) tidak berfungsi dan dilakukan dengan hasil baik. Kemudian pada 4 Januari 2021 autothrottle dilaporkan kembali tidak berfungsi. Perbaikan dilakukan dan belum berhasil, sehingga dimasukkan dalam daftar penundaan perbaikan (DMI). Kemudian pada 5 Januari 2021 dilakukan perbaikan dengan hasil baik dan DMI ditutup.

Pada kesempatan tersebut, Nurcahyo menyatakan bahwa laporan awal (Preliminary Report) terkait hasil investigasi selama 30 hari setelah jatuhnya pesawat SJY182 ini ditujukan untuk mencegah kecelakaan serupa terulang di kemudian hari.

“Sesuai International Civil Aviation Organization (ICAO) Annex 13 dan UU Nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan, investigasi KNKT untuk mencegah kecelakaan serupa terulang di kemudian hari. Lalu berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 1 tahun 2009 pasal 359, hasil investigasi KNKT tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses peradilan,” tegas dia. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN