Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pameran Properti. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Pameran Properti. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Konstruksi Hotel Mencapai Rp 51 Triliun

Edo Rusyanto, Senin, 9 Desember 2019 | 18:11 WIB

JAKARTA, investor.id – Geliat industri pariwisata ikut mendongkrak pembangunan hotel di seantero Indonesia, terlebih di kawasan destinasi wisata. Dalam catatan BCI Asia, sepanjang lima tahun, yakni 2016-2020, total nilai konstruksi hotel menyentuh hampir Rp 51 triliun.

BCI Asia memperkirakan, pembangunan properti hotel tahun 2020 bisa mencapai Rp 9,83 triliun seiring pertumbuhan destinasi wisata baru di Tanah Air. Sekalipun melemah bila dibandingkan 2019, bisnis hotel punya prospek bagus terutama juga didorong oleh meningkatnya hotel di bandara.

“Ada kemungkinan kategori ini tumbuh karena pasar hotel bandara terus meningkat dan adanya tujuan wisata baru yang muncul,” ujar General Manager for Indonesia - BCI Asia Pietter Sanjaya, kepada Investor Daily, di Jakarta, baru-baru ini.

Terkait pasar hotel di kawasan bandara, salah satu pengembang yang memanfaatkan peluang itu adalah PT Metropolitan Land Tbk (Metland). Metland menghadirkan Hotel Horison Ultima Kertajati untuk memenuhi kebutuhan akomodasi penumpang pesawat terbang serta masyarakat lain yang beraktivitas di bandara. Metland mulai membangun (ground breaking) hotel itu pada September 2019. “Kami menambah bisnis hotel khususnya di Kertajati, Jawa Barat karena adanya kebutuhan akomodasi untuk mendukung kegiatan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati,” kata Direktur PT Metropolitan Land Tbk Wahyu Sulistio, kepada Investor Daily.

Proyek vila Royal Venya Ubud
Proyek vila Royal Venya Ubud

Nilai konstruksi hotel dalam rentang lima tahun terakhir memperlihatkan bahwa tren konstruksi hotel cukup dinamis. Pada 2016, nilai konstruksi hotel sebesar Rp 10,69 triliun. Lalu, turun tipis menjadi Rp 10,43 triliun pada 2017 dan anjlok 11,11% setahun kemudian menjadi Rp 9,27 triliun. Namun, pada 2019 melonjak 14,71% menjadi Rp 10,64 triliun. “Tahun 2020, kami perkirakan mencapai Rp 9,83 triliun,” jelas Pietter.

Menurut data Indonesia Construction Market Outlook 2020 yang dilansir BCI Asia, di Jakarta, terlihat bahwa destinasi wisata baru yang muncul belakangan ini mampu menjadi faktor pendorong pembangunan hotel. Di sisi lain, pada 2020, terjadi rebranding, peluncuran ulang, dan renovasi hotel yang ikut menyemarakkan bisnis hotel di Indonesia. Kota sekunder kini hadir sebagai hot spot baru untuk business hotel, sedangkan hotel mewah terus masuk di tujuan wisata baru.

Di Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kini agresif mengembangkan destinasi wisata, dalam catatan BCI Asia menjadi kawasan yang paling tinggi konstruksi hotelnya, yakni mencapai Rp 2,03 triliun. Angka itu setara dengan 20,71% dari total nilai konstruksi hotel 2020. “Indigo Bali Seminyak mulai beroperasi Mei 2018 dan kini berkapasitas 269 kamar dengan okupansi 90%. Total kamar menjadi 289 pada 2020,” ujar Paul Christian, direktur proyek PT Agung Podomoro Land Tbk (APL), dalam paparan publik di Jakarta, baru-baru ini.

Proyek Podomoro City Deli-Medan besutan PT Agung Podomoro Land Tbk. ( Foto: istimewa )
Proyek Podomoro City Deli-Medan besutan PT Agung Podomoro Land Tbk. ( Foto: istimewa )

Wilayah lain yang menggeliat konstruksi hotelnya pada 2020, kata BCI Asia, adalah Sumatera dengan nilai Rp 1,88 triliun setara dengan 19,16% dari nilai total konstruksi hotel secara nasional. Lalu, Jabodetabek Rp 1,84 triliun (18,75%), Jawa Timur Rp 1,26 triliun (12,85%), serta kawasan Maluku, Sulawesi, dan Papua Rp 997 miliar (10,13%).

Selain itu, Jawa Barat Rp 858 miliar (8,72%), Kalimantan Rp 477 miliar (4,85%), dan Jawa Tengah Rp 475 miliar (4,83%).

Recurring Income

Denyut investasi hotel penanaman modal dalam negeri (PMDN) dicatatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) terus meningkat. Sepanjang Januari-September 2019, investasi hotel dan restoran perusahaan domestik tercatat melonjak 79% bila dibandingkan dengan periode sama 2018, yakni dari Rp 6,76 triliun menjadi Rp 12,12 triliun.

Sedangkan penanaman modal asing (PMA) merosot sektiar 31%, yakni dari Rp 10,51 triliun menjadi Rp 7,26 triliun.

Digital Loft yang merupakan bangunan komersil berlokasi di Kawasan Digital Hub BSD City.
Digital Loft yang merupakan bangunan komersil berlokasi di Kawasan Digital Hub BSD City.

Secara keseluruhan, realisasi investasi hotel dan restoran sepanjang sembilan bulan 2019 tercatat Rp 17,78 triliun. Angka itu melemah sekitar 6% dibandingkan dengan periode sama 2018 yang sebesar Rp 18,89 triliun.

Gencarnya pemain domestik merangsek bisnis hotel tak terlepas dari upaya para pengembang untuk memperkuat lini pendapatan berkesinambungan (recurring income).

Direktur Utama APL, Bacelius Ruru, dalam paparan publik, di Jakarta, baru-baru ini mengatakan, APL memiliki dua sumber pendapatan, pertama dari pendapatan berulang yaitu dari beberapa mal, hotel, dan lainnya seperti perkantoran. Lalu, sumber pendapatan kedua dari penjualan apartemen, rumah, ruko, kantor, kios, dan lainnya. Baik dalam kompleks superblok maupun dalam individual.

Mengutip laporan keuangan APL, per 30 September 2019, kontribusi penjualan properti sebesar 66,22%, sedangkan dari recurring income 33,78%. Komposisi itu pada periode sama 2018 masing-masing 68,36% dan 31,64%.

Dari sisi nilai, per 30 September 2019, pendapatan recurring income APL tercatat Rp 986,91 miliar, sedangkan pemasukan dari penjualan sebesar Rp 1,93 triliun.

Sementara itu, pengembang lain yang main bisnis hotel adalah Metland. Per 30 September 2019, Metland mengantongi pendapatan Rp 84,03 miliar dari bisnis hotel. Angka itu melemah 1,21% dibandingkan periode sama 2018 yang sebesar Rp 85,06 miliar. “Penambahan hotel untuk menjaga rasio kontribusi pendapatan yang berimbang antara development revenue dan recurring income,” ujar Wahyu.

Kini, APL memiliki enam hotel yang tersebar di berbagai kota, yaitu Indigo Bali Seminyak, Pullman Ciawi Vimala Hills, Hotel Harris Festival CityLink, Hotel Pop! Festival CityLink, Hotel Amaris Thamrin City, dan The BnB Kelapa Gading. Sedangkan Metland, kini memiliki empat hotel yang telah beroperasi, yaitu @HOM Hotel Tambun melalui anak usaha, PT Metropolitan Permata Development (MPD).

Lalu, Metland Hotel (Cirebon) di bawah PT Metropolitan Deta Graha (MDG) yang dimiliki secara tidak langsung melalui MPD. Selain itu, Hotel Horison Ultima Bekasi dan Hotel Horison Ultima Seminyak, Bali.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA