Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia.

Bank Indonesia.

Konsumen Makin Optimistis terhadap Kondisi Ekonomi

Triyan Pangastuti, Jumat, 6 Desember 2019 | 23:13 WIB

JAKARTA, investor.id – Survei Konsumen Bank Indonesia mengindikasikan optimisme konsumen menguat terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2019 yang naik menjadi 124,2 dari IKK pada bulan sebelumnya sebesar 118,4. Peningkatan optimisme konsumen terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko mengatakan, optimism konsumen yang menguat tersebut ditopang oleh membaiknya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan.

“Optimisme konsumen pada November 2019 didorong oleh peningkatan kedua komponen pembentuknya, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang meningkat 4,5 poin dari bulan sebelumnya menjadi 109” jelas Onny dalam keterangan resminya, Kamis (5/12).

Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang membaik, disebabkan oleh optimismenya konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja, penghasilan saat ini, dan pembelian barang tahan lama.

Untuk indeks ketersediaan lapangan kerja naik sebesar 5,1 poin dari 89,4 pada bulan Oktober 2019 menjadi 94,5 pada bulan November. Kenaikan ini terjadi di 10 kota dengan kenaikan tertinggi di Medan. Apalagi kenaikan ini juga didukung oleh lowongan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

“Membaiknya persepsi konsumen terhadap ketersediaan lapangan kerja yang meningkat, seiring dengan tersedianya tenaga kerja yang didorong bukanya lowongan CPNS 2019 yang secara nasional mencapai 152 ribu formasi pada awal November,” jelas dia.

Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif  Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI).
Onny Widjanarko, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI).

Kemudian, untuk Indeks Penghasilan Saat Ini meningkat 4,5 poin dari 115,1 pada bulan sebelumnya menjadi 119,6 poin. Dengan kenaikan yang terjadi pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 juta hingga Rp 3 juta dan di atas Rp 4 juta per bulan.

Sementara itu, untuk Indeks Pembelian Barang Tahan Lama meningkat 3,8 poin dari bulan Oktober 2019 yang sebesar 109,8 menjadi 113,6 yang terjadi pada jenis barang elektronik. Onny mengatakan, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang pada bulan sebelumnya tercatat 132, naik 7,1 poin menjadi 139,1. Ini mengindikasikan bahwa konsumen lebih optimistis terhadap kondisi ekonomi ke depan, baik pada kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, atau penghasilan yang akan diterima.

Indikator ekspektasi konsumen yang membaik diperkirakan oleh membaiknya prospek kegiatan usaha dalam 6 bulan ke depan, didukung persepsi positif konsumen terhadap pembangunan yang berkelanjutan stabilitas harga yang terjaga.

Selain itu, konsumen juga memperkirakan ketersediaan lapangan kerja pada 6 bulan mendatang. Hal ini tercermin dari peningkatan indeks ketersediaan kerja menjadi 126,7 poin meningkat 7,8 poin yang terjadi pada seluruh tingkat pendidikan tertinggi yakni pendidikan pascasarjana

Kemudian, untuk ekspektasi penghasilan meningkat sebesar 4,8 poin, yaitu dari 146,4 pada bulan Oktober 2019, menjadi 151,2 pada bulan November 2019. Peningkatan tertinggi pun terjadi pada Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha yang naik pesat sebesar 8,7 poin dari 130,8 pada bulan Oktober 2019 menjadi 139,5 pada November 2019.

Secara spasial, optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi yang akan datang terlihat di 12 kota, dengan kenaikan IEK tertinggi di Denpasar, yaitu naik 16,2 poin dari bulan Oktober 2019 yang sebesar 120,1 menjadi 136,2 pada bulan November 2019.

Adapun jika berdasarkan kategori responden, peningkatan IKK pada November 2019 terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran responden. Peningkatan optimisme tertinggi terjadi pada responden dengan pengeluaran Rp 2,1 juta - Rp 3 juta per bulan, yaitu dari 118,2 pada bulan Oktober 2019, naik 7,3 poin menjadi 125,5 pada bulan November 2019.

Sementara dari sisi usia, IKK mengalami peningkatan pada hampir seluruh kategori usia responden.

Konsumsi akan Meningkat

Optimisme konsumen yang meningkat seiring dengan porsi pendapatan responden rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 68,0% menjadi 68,9%.

Peningkatan proporsi konsumsi diikuti dengan menurunnya porsi tabungan terhadap pendapatan (saving to income ratio) sebesar 0,5% menjadi 19,3%, dan menurunnya porsi cicilan pinjaman terhadap pendapatan (debt service to income ratio) sebesar 0,4% menjadi 11,8%.

Untuk porsi tingkat pengeluaran, porsi konsumsi terhadap pendapatan mengalami kenaikan pada seluruh kategori, tertinggi pada responden dengan pengeluaran Rp 4,1-5 juta perbulan.

Porsi Menabung Turun

Para pelajar SMK Negeri 16 Jakarta diajak untuk menabung di Rekening Simpel (Simpanan Pelajar).
Para pelajar SMK Negeri 16 Jakarta diajak untuk menabung di Rekening Simpel (Simpanan Pelajar). Foto ilustrasi: BNI

Sementara itu, penurunan porsi tabungan terhadap pendapatan (saving to income) terjadi pada sebagian besar responden, terdalam pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 4,1-5 juta per bulan.

BI juga mencatat bahwa jenis produk simpanan pada lembaga keuangan seperti tabungan atau deposito masih menjadi preferensi utama penempatan kelebihan pendapatan responden dalam 12 bulan mendatang, diikuti properti dan investasi dalam bentuk emas/perhiasan.

“Persentase responden yang berencana menempatkan kelebihan pendapatannya dalam bentuk tabungan atau deposito sebesar 46,6%, naik dari 43,3% pada bulan sebelumnya” jelas dia.

Peningkatan juga terjadi pada preferensi responden yang memilih penempatan dalam bentuk properti juga meningkat dari 20,7% pada bulan sebelumnya menjadi 21,6%. Sedangkan preferensi terhadap emas/perhiasan menurun dari 21,2% menjadi 18,2% seiring dengan tren penurunan harga emas.

“Persentase responden yang sangat mungkin membeli/ membangun rumah sedikit menurun. Dengan jumlah responden yang menyatakan sangat mungkin untuk membeli atau membangun rumah (menambah ruangan) dalam kurun waktu 12 bulan mendatang (Desember 2019 sampai November 2020) sedikit menurun dari 6,6% menjadi 6,4%” jelas BI dalam keterangannya.

Dengan demikian, berdasarkan hasil sur vei tersebut juga terlihat tekanan kenaikan harga dalam tiga bulan mendatang diperkirakan melambat. Hal ini didukung oleh optimism responden terhadap ketersediaan barang dan jasa yang cukup dan distribusi barang yang lancar.

Sementara itu, tekanan kenaikan harga diperkirakan akan sedikit meningkat pada enam bulan mendatang. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Harga 6 bulan mendatang yang lebih tinggi dari indeks pada bulan sebelumnya Kenaikan ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan barang dan jasa pada periode bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Inflasi Terkendali

Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv
Josua Pardede, ekonomi Bank Permata. Foto: metrotv

Dihubungi terpisah, ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, IKK yang meningkat pada November 2019 disebabkan oleh keberhasilan pengendalian inflasi dengan ekpekstasi akhir tahun masih di kisaran 3%. Hal ini inline dengan estimasi BI.

Selain itu, kinerja nilai tukar rupiah yang terus membaik juga direspons oleh responden. Ia mengatakan, pelonggaran kebijakan akomodatif yang dilakukan BI juga direspons baik sebab sudah mulai memberikan stimulus.

“Transmisi pelonggran BI mulai berlanjut, dan diharapkan akan berikan stimulus ke perekonomian,” jelas Josua kepada Investor Daily, Kamis (5/12).

Kemudian, adanya susunan kabinet baru juga berdampak baik, sebab masyarakat memandang adanya harapan dengan berbagai kebijakan terbaru khususnya terkait kebijakan omnibus law yang tengah digodok pemerintah. Pasalnya, jika kebijakan ini benar disetujui oleh DPR dan diimplementasikan maka memberikan dampak pada investasi dan ekspektasi lapangan kerja terbuka lagi.

“Dengan hasil indeks ini secara keseluruhan inflasi, nilai tukar dan respons kebijakan BI bisa mendorong stimulus ke perekonomian, berikan optimisme dan ekpesktasi confident bagi konsumen,” ujarnya.

Josua menilai ekspektasi ketersediaan lapangan pekerjaan yang meningakat dikarenakan lowongan CPNS, mengindikasikan bahwa responden yang mayoritas angkatan kerja baru atau baru lulus mengharapkan mendapatkan pekerjaan melalui lowongan CPNS, meskipun dengansaingan yang cukup banyak.

“CPNS dibuka tidak hanya di KL dan di pemda juga dibuka. Peminat di daerah besar, maka dengan adanya lowongan CPNS diharapkan bisa menjawab ketersediaan lapangan kerja dan membuat confident bagi konsumen,” jelas dia.

Sementara itu, untuk penurunan porsi tabungan terhadap pendapatan, ia menilai lebih disebabkan oleh pola belanja mendekati akhir tahun sehingga secara siklus sebagian besar masyarakat akan lebih membelanjakan uangnya untuk akhir tahun.

Namun, Josua menilai mendekati awal tahun akan ada adjustment dari kenaikan UMP, sehingga akan mulai berdampak dengan adanya optimism dan kepercayaan masyarakat yang meningkat.

Sementara itu, untuk perhitungan responden mengenai kemungkinan membeli atau membangun rumah untuk kurun waktu 12 bulan mendatang yang mengalami sedikit penurunan, Josua menilai hal itu disebabkan oleh penghasilan yang masih rendah sehingga belum memiliki kemampuan untuk uang muka (down payment/DP) rumah dikarenakan masih relatif mahal.

Di sisi lain, masyarakat akan lebih memilih konsumsi untuk kebutuhan jangka pendek, dan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang seperti rumah masih belum diminati.

“Beberapa kalangan penghasilan rendah terkait kemampuan DP masih relatif mahal, dan juga suplai dari rumah susun dan rumah tapak yang bisa dan masuk dalam kemampuan mereka juga masih cukup terbatas. Keinginan investasi properti dan konsumsi property belum urgent. Terlebih tahun depan ada beberapa kalangan konsumen mempersiapkan tahun ajaran sekolah dan mengalokasikan uang untuk dampak kenaikan BPJS,” tuturnya.

Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.
Yusuf Rendy Manilet, Peneliti di Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia.

Sementara itu, ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, hasil survei IKK sejalan dengan indeks manufaktur yang meningkat pada November 2019. Dalam laporan IHS Markit menyebutkan kondisi manufaktur Indonesia pada November 2019 mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya dari level 47,7 menjadi level 48,2.

“Saya melihatnya ada peningkatan permintaan setidaknya sampai dengan akhir tahun nanti karena faktor seasonal akhir tahun. Hal ini juga selaras dengan indikator lain pada IKK yang  menunjukkan kencenderungan untuk konsumsi meningkat sementara menabung berkurang” jelas Yusuf kepada Investor Daily, Kamis (5/12).

Dia menekankan bahwa IKK yang dilakukan oleh BI merupakan hasil survei, sehingga hasilnya bisa sangat subyektif tergantung responden. Oleh karena itu, hasil lapangan kerja dalam posisi meningkat, padahal nyatanya belum sejalan dengan ketersediaan lapangan kerja.

Meskipun ada lowongan CPNS yang membuat respoden optimis, tetapi secara persentasi pekerjaan ASN dalam total pekerjaan keseluruhan di Indonesia relatif kecil. “Jadi dia hanya akan menyerap lowongan kerja yang relatif sedikit,” katanya.

Yusuf menyakini bahwa pendapatan akan meningkat di enam bulan depan selain karena tes CPNS, tetapi juga karena masyarakat khususnya kelas menengah atas. “Kelas menengah atas akan mendapatkan hasil menjual portofolio yang didapatkan dari pasar saham, karena banyak yang masuk di pasar saham di akhir tahun karena proses window dressing di pasar saham,” ujar dia.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listianto mengatakan, IKK kemungkinan didorong oleh tren kenaikan konsumsi barang dan jasa menjelang Natal, libur akhir tahun, dan Tahun Baru. “Biasanya konsumen meningkatkan konsumsinya di akhir tahun,” jelas dia kepada Investor Daily, Kamis (5/12).

Namun, menurut Eko, jika benar mulai awal tahun depan beberapa harga yang diatur pemerintah menjadi naik, misalnya tarif tol, listrik, iuran BPJS, maka kemungkinan IKK bisa saja turun di survei selanjutnya. “Masyarakat optimistis konsumsi naik pada akhir tahun karena Natal dan Tahun Baru, ini siklus yang umum saja dalam pergerakan IKK,” jelas Eko. (rw)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA