Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menkeu Sri Mulyani dalam acara Future Financial Festival 2020

Menkeu Sri Mulyani dalam acara Future Financial Festival 2020

Kredit bagi Pelaku Usaha Mikro dan Ultra Mikro Rp 2 Juta Tanpa Bunga

Selasa, 11 Agustus 2020 | 15:48 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Pemerintah akan memberikan kredit usaha bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro sebesar Rp 2 juta per debitur. Untuk mendorong ekonomi usaha kecil yang terdampak pandemi Covid-19. Stimulus ini diberikan, karena usaha mikro dan ultra mikro belum mendapatkan akses pinjaman.

 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, usaha mikro dan ultra mikro kerap mengalami kesulitan dalam mendapatkan pinjaman, karena belum terjangkau oleh perbankan (unbankable). Oleh karena itu mekanisme kredit modal kerja Rp 2 juta akan disalurkan tanpa melalui perbankan.

 

“Pemerintah idenfifikasi kredit Rp 2 juta untuk ultra mikro tanpa bunga. Ini sama kaya susbidi bunga untuk outstanding kredit sekarang mau kucurkan kredit baru ke usaha kecil menengah,” tuturnya dalam diskusi Stimulus Pemerintah Untuk Perkuat UMKM, Selasa (11/8).

Ia mengatakan bahwa usaha mikro kecil dan menengah yang tidak terjangkau oleh bank sebanyak 94% di antaranya merupakan pengusaha ultra mikro yang memiliki pinjaman bawah Rp 10 juta dengan tenor 52 pekan.

Agar penyalurannya tepat sasaran, Sri Mulyani menjelaskan, program kredit modal kerja Rp 2 juta ini akan disinergikan dengan stimulus subsidi bunga yang sudah existing.

Dengan mengambil data dari PT Pegadaian (Persero), koperasi-koperasi maupun PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang menyasar pengusaha ultra mikro perempuan.

Selain stimulus bagi pelaku usaha mikro dan ultra mikro, pemerintah juga akan menggelontorkan bantuan sosial produktif yang diarahkan kepada 12 juta pelaku usaha mikro dan kecil menengah (UMKM) .

“Saat ini pemerintah tengah pusatkan perhatian segmen masyarakat ini selain diberikan susbidi bunga, penundaan pembayaran cicilan. Saat ini pemerintah berikan bansos produktif dan kredit baru Rp 2 juta maksimum ke usaha rumah tangga. Itu dilakukan pemeirntah bisa tingkatkan daya tahan usaha sangat kecil usaha ultra mikro dan ultra mikro yang belum bankable,” jelasnya.

Dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), pemerintah menganggarkan Rp 123,47 triliun untuk mendukung UMKM. Per Kamis (6/8), anggaran yang sudah direalisasikan mencapai Rp 32,5 triliun atau 27,1% dari pagu.

Dari anggaran tersebut Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) yang sudah selesai sebanyak Rp 41,2 triliun. Sementara anggaran tanpa DIPA sebesar Rp 78,8 triliun dan sisanya Rp 3,4 triliun belum DIPA.

Pada kesempatan yang sama, Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) TM Zakir Machmud menuturkan, pemerintah kini harus lebih fokus pada pemberian bantuan tunai kepada UMKM.

Di sisi lain, ia menilai berbagai bantuan yang digelontorkan pemerintah saat ini sudah pas untuk menjangkau pelaku UMKM.

“Menurut hemat kami ini yang diperlukan (bansos produktif karena dalam situasi ketidakpastian saat ini cash is the king. Butuh cash, jadi mereka butuh cash untuk jumpstart,” jelasnya.

Oleh karena itu, ia menilai berbagai program yang sifatnya bantuan modal, bantuan usaha, diharapkan dapat semakin menggerakkan dan mempercepat pemulihan ekonomi. Lantaran pertumbuhan ekonomi pada kuartal II negatif.

“Ini diharapkan dapat mendorong supaya kuartal III dan kuartal IV, pertumbuhan ekonomi dapat bergerak kembali,” tuturnya.

Lebih lanjut, untuk ke depan, ia meminta pemerintah untuk memberikan bantuan yang lebih spesifik ke sektoral. Pasalnya, besaran dampak yang dirasakan tiap sektor berbeda, sehingga mereka membutuhkan perlakuan berbeda pula. Tetapi data masih menjadi tantangan besar untuk merealisasikan harapan tersebut.

"Data kita masih tersebar-sebar, sehingga untuk bisa cepat dan tepat itu menjadi sebuah tantangan tersendiri. Kita bisa tepat tapi gak bisa cepat. Kita mau cepat tapi suka suka tidak tepat, masalahnya akuntabilitas,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN