Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pedagang merapikan beras kemasan di toko agen beras di kawasan Jakarta Timur, Minggu (14/2/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

Pedagang merapikan beras kemasan di toko agen beras di kawasan Jakarta Timur, Minggu (14/2/2021). Foto ilustrasi: BeritaSatuPhoto/Joanito De Saojoao

KTNA Minta Kebijakan Impor Beras Dikaji Lagi

Senin, 8 Maret 2021 | 13:07 WIB
Ridho Syukra (ridho.syukra@beritasatumedia.com )

JAKARTA, investor.id -- Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) meminta pemerintah untuk meninjau dan mengkaji ulang kebijakan impor beras, mengingat produksi beras semakin tinggi. Impor juga akan berdampak pada penurunan harga jual hasil panen padi petani serta membuat mental petani tertekan karena merasa kurang dihargai.

“Kami berharap pemerintah lebih mengantisipasi permasalahan yang muncul terutama pada saat panen raya komoditas padi, agar hasil panen lebih optimal untuk mencukupi pangan nasional,” ujar Sekretaris Jenderal KTNA Yadi Sofyan dalam keterangan persnya yang diterima Investor Daily, di Jakarta, Senin (8/3).

KTNA sangat mengapresiasi pernyataan Presiden Joko Widodo pada saat Rapat Kerja Kementerian Pertanian pada 11 Januari 2021 untuk berhati-hati dengan impor. Kemudian, pada rapat kerja dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan Kementerian Perdagangan pada 4 Maret 2021 untuk tidak menambah impor serta meningkatkan hasil produksi dalam negeri.

Di beberapa wilayah pada saat ini sudah memasuki musim panen seperti di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Dipastikan, awal Maret hingga Mei 2021 akan memasuki panen raya. Karena itu, diharapkan pemerintah melalui Perum Bulog dapat menyerap dan menampung hasil produksi padi di daerah daerah.

Yadi Sofyan mengatakan, berdasarkan data BPS, pergerakan produksi beras tahun 2020 lebih tinggi dibandingkan tahun 2019. Selain itu, BPS merilis adanya peningkatan produksi padi tahun 2021 yaitu potensi produksi padi subround Januari-April 2021 sebesar 25,37 juta ton GKG, naik sebanyak 5,37 juta ton atau 26,88% dibandingkan periode sama 2020 sebesar 19,99 juta ton GKG.


 

Editor : Nurjoni (nurjoni@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN