Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala BPS Suhariyanto

Kepala BPS Suhariyanto

Kuartal I-2021, Industri Pengolahan Terkontraksi 1,38%

Rabu, 5 Mei 2021 | 14:58 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id  - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto mengatakan industri pengolahan mengalami kontraksi  1,38% pada kuartal I-2021. Namun bila dilihat lebih detail lagi industri non migas sudah mengalami penurunan kontraksi jadi - 0,71% pada kuartal I -2021 dari yang sebelumnya -2,22% di kuartal IV -2020.

“Industri pengolahan  mengalami kontraksi 1,38% karena industri batu bara dan pengilangan migas masih mengalami kontraksi sebesar 7,70%.  Industri non migas kontraksinya menipsi jadi 0,71%,” ucap Suhariyanto dalam telekonferensi pers di kantor BPS pada Rabu (5/5).

Menurutnya  ada beberapa industri pengolahan yang mengalmai pertumbuhan menggembirakan namun  ada yang agak melambat dibanding  situasi pada kuartal I 2020 lalu.

“Jadi kembali kalau kita lihat proses recovery akan berbeda antar sektor industri maupun subsektor. Kontraksi non migas semakin menipis 0,71% kembali menunjukkan arah perbaikan,” ucap Suhariyanto.

Industri makanan dan minuman tumbuh 2,45% didorong oleh peningkatan produksi panen raya tanaman padi, sejalan dengan industri penggilingan padi dan penyosohan beras serta peningkatan produksi CPO untuk memenuhi pangsa ekspor.

Industri kimia, farmasi dan obat tradisional tumbuh sebesar 11,46%  karena adanya peningkatan produksi alat yang terkait kesehatan dalam rangka mendukung program penanganan Covid -19. Industri logam dasar tumbuh 7,71% karena adanya permintaan dari luar negeri terutama untuk komunitas feronikel dan produk baja.

Tetapi ada beberapa industri yang masih kontraksi misalnya pengolahan tembakau kontraksi 9,58%.  Industri tekstil dan pakaian mengalami kontraksi pertumbuhan 13,28 % karena permintaan domestik dan ekspor yang masih belum membaik. Industri alat angkutan mengalami kontraksi pertumbuhan 10,93% karena penurunan produksi mobil dan sepeda motor serta perlengkapannya.

“Industri barang galian bukan logam juga terkontraksi 7,28%,” tutur Suhariyanto.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN