Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan gedung apartemen di Jakarta, Kamis (28/5/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan gedung apartemen di Jakarta, Kamis (28/5/2020). Foto ilustrasi: SP/Ruht Semiono

Kuartal II, Suplai Apartemen dI Jakarta Menurun Tajam

Minggu, 12 Juli 2020 | 17:09 WIB
Imam Mudzakir (imam_koran@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih belum hilang dari Indonesia, berdampak signifikan untuk sektor properti, terutama apartemen. Dari proyeksi tambahan apartemen 2020 sebanyak 11.800 unit di Jakarta, diperkirakan hanya ada 2000 unit apartemen yang bisa diselesaikan.

“Memang pasar apartemen memang sedang alami penurunan, ditambah lagi dengan adanya Covid-19, suplai apartemen di Jakarta terus alami penurunan tajam dan hanya bisa diselesaikan 2000 unit dan sisanya bisa menumpuk di tahun 2021 dan ini juga bisa terkoreksi kembali,” ungkap Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto, di Jakarta, belum lama ini.

Penurunan pasokan apartemen sampai semester pertama I 2020 bahkan sampai akhir tahun ini, merupakan yang terburuk dalam beberapa tahun terakhir ini. ia berharap Covid ini segera tuntas dan pasar apartemen mulai pulih.

“Dampak Covid-19 ini, kepercayaan developer sudah mulai menurun untuk bisnis apartemen ini, terutama untuk kelas menengah atas,” kata Ferry.

Senior Associate Director, Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto
Senior Associate Director, Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto

Dikatakannya, bisnis apartemen untuk kelas menengah atas, sebelum terjadi Covid-19, sudah ada gejala penurunan. Dengan adanya Covid-19 ini, kepercayaan developer untuk membangun mulai menurun. karena banyak konsumen ataupun investor lebih menahan diri untuk berinvestasi apartemen. Berbeda saat pada 4 tahun belakang.

“Kalau Developer membangun apartemen hanya mengandalkan investor juga berbahaya, karena investor tentu mencari untung juga untuk disewakan. Satu sisi harga sewa apartemen di Jakarta juga masih stagnan harga, sehingga investor lebih menahan diri, dan adanya Covid-19 investor lebih cenderung untuk mengamankan keperluan pribadi terlebih dahulu,” kata Ferry.

Catatan Colliers menyebutkan bahwa, pada tahun 2020 bakal ada pasokan 11,834 unit apartemen dan kuartal II belum ada pasokan dan sampai akhir tahun diperkirakan hanya ada 2,011 unit apartemen.

Tahun 2021 diproyeksikan bakal ada tambahan pasokan 9,469 dan diproyeksikan pada sampai kuartal II tahun 2021 masuk sampai 11,293, karena banyak proyek tahun 2020 yang tertunda dan selesai pada 2021. Kemudian untuk 2022  sendiri diperkirakan bakal ada tambahan pasokan 8,336 dan sampai kuartal II 2022 menjadi 14,972 unit.

“Sampai dengan kuartal II 2020 tidak ada tambahan pasokan sama sekali. Sehingga total pasokan apartemen di Jakarta mencapai 211,944 unit,” katanya.

Sedangkan proyek yang diluncurkan pada tahun 2020 diproyeksikan ada 2 proyek baru diperkenalkan pada kuartal ini dengan total 1.041 unit. Akibat pelaksanaan PSBB banyak proyek yang dihentikan, dan kami lihat hanya ada 2.011 unit apartemen dari total 3 proyek apartemen yang kemungkinan masih bisa diselesaikan tepat waktu.

“Proyek apartemen yang masih berjalan rata rata untuk menyasar kelas menengah bawah,” kata dia.

Sebelumnya, Savills Indonesia menilai bahwa, pasar properti di Indonesia ini masih alami stagnasi sampai akhir tahun, akibat dampak dari pandemi Covid-19.

“Kami melihat kinerja sampai semester I ini alami stagnasi dan kami perkirakan bila Covid-19 belum mereda, bisa sampai akhir tahun pasar properti bakal stagnan,” ungkap Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus, kepada Investor Daily.

Menurut Anton, Covid-19 dampak sektor properti sangat besar sekali, baik sektor komersial seperti perkantoran, ritel dan lainnya. Begitu juga untuk sektor apartemen juga alami penurunan tajam dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya.

“Covid-19 ini memang terasa sekali, baik dari sisi pengembang maupun juga konsumen dan investornya, semuanya lebih menahan diri dan masih ada kekhawatiran akan virus ini,” kata Anton.

Sehingga tidak banyak proyek yang luncurkan selama pandemi Covid-19 ini. Padahal sektor properti ini seharusnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi, tetapi fakta dilapangan masih terlihat sepi. Sebut saja perkantoran di Jakarta juga okupansi masih rendah, karena banyak perusahaan yang mempekerjakan karyawan dari rumah (WFH) dan tidak perlu lagi membutuhkan ruang kerja yang besar di perkantoran.

“Begitu juga dengan ritel, meski pemerintah sudah mengijinkan mal mal dibuka, tetapi masyarakat saat ini masih takut pergi dan jalan jalan ke mall, dan okupansi juga masih sangat rendah,” kata Anton.

Begitu juga sektor hunian seperti apartemen, untuk kelas menengah atas hampir tidak ada proyek yang launching pada saat pandemi ini. Bahkan pengembang juga lebih banyak menahan diri, dibandingkan meluncurkan proyek baru.

“Pengembang lebih memilih menjual produk apartemen yang sudah berjalan, dan masih menahan untuk melaunching produk apartemen baru,” jelasnya.

Namun begitu, kata Anton untuk sektor hunian landed, pasar masih memiliki peminat yang cukup tinggi. Karena hunian landed ini, mayoritas pembelinya adalah end user artinya hunian untuk ditinggali. Berbeda dengan apartemen dimana investor juga cukup besar dibandingkan end user.

Landed permintaan masih besar, dibandingkan apartemen. Selain itu untuk membangun apartemen ataupun kondominium investasi sangat besar dibandingkan dengan hunian landed,” katanya.

Menurut Anton kondisi ini akan terus terjadi sampai akhir tahun, bila angka positif Covid-19 ini terus alami peningkatan dan belum ada trend penurunan. Karena itu, tambah Anton, pemerintah harus lebih fokus untuk memberikan stimulus kepada sektor properti, agar properti ini mulai bangkit dan bisa kembali jalan. Seperti pemberian keringanan pajak, suku bunga bank yang rendah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN