Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan memperlihatkan uang dolar AS diantara uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, belum lama ini.   BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Karyawan memperlihatkan uang dolar AS diantara uang rupiah di sebuah bank di Jakarta, belum lama ini. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kurs Rupiah 2021 Bergantung pada Pemulihan Ekonomi

Rabu, 2 September 2020 | 20:04 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id Pemerintah mematok asumsi nilai tukar (kurs) rupiah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2021 di level Rp 14.600 terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun, realisasi dari asumsi kurs rupiah ini bergantung pada kondisi eksternal dan internal, khususnya terkait  pemulihan ekonomi.

"(Realisasi asumsi kurs) ini sangat tergantung dari pemulihan domestik yang bisa meningkatkan modal masuk di dalam negeri dan peluang pemulihan di negara maju," ujar Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati saat melakukan rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/9).

Menurut Menkeu, jika terjadi pemulihan, maka kebijakan moneter di negeri Paman Sam akan kembali pulih dan terjadi kenaikan suku bunga. Hal ini memberi sentimen negatif ke dunia. “Jika terjadi pemulihan, maka kebijakan moneter di AS akan kembali pada path normal,” ucap dia.

Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan, ke depan nilai tukar rupiah akan bergerak relatif stabil dan terkendali sesuai mekanisme pasar. Hal ini juga akan berdampak baik pada masuknya aliran modal asing (capital outflow).

"Keseluruhan tahun 2021 kami berpandangan asumsi pemerintah dalam penyusunan APBN 2021 di mana rata-rata nilai tukar rupiah Rp 14.600 per dolar AS masih sejalan perkiraan BI sekitar Rp 13.900 -14.700 per dolar AS," kata dia.

Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (2/9) ditutup melemah 172 poin atau 1,18% menjadi Rp 14.745 per dolar AS dari sebelumnya Rp 14.573 per dolar AS. Ini dipicu oleh kabar kemungkinan kebijakan berbagi beban atau burden sharing antara pemerintah dan Bank Indonesia diperpanjang hingga 2022.

Sentimen lainnya adalah pelemahan rupiah disebabkan oleh membaiknya data indeks aktivitas manufaktur AS pada Agustus yang membuat dolar AS menguat.

Seperti dilaporkan Antara, indeks PMI AS menurut ISM berada di level 56, yang merupakan angka tertinggi dalam 19 bulan terakhir. Hal tersebut mengindikasikan aktivitas pabrik di AS semakin bergeliat dan ekspansif.

Sentimen tersebut turut menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu (2/9), ditambah faktor deflasi dalam negeri Agustus 2020 yang mengindikasikan daya beli masyarakat belum membaik.

Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada hari yang sama menunjukkan rupiah melemah menjadi Rp 14.804 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 14.615 per dolar AS. 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN