Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Lana Soelistianingsih,   Ekonom

Lana Soelistianingsih, Ekonom

Lana: Surplus NPI Tertolong Masuknya Investor ke Bond Market

Selasa, 11 Februari 2020 | 15:13 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id -- Neraca pembayaran Indonesia atau NPI pada tahun lalu mencatatkan surplus US$ 4,7 miliar. Kondisi itu menunjukkan ketahanan sektor eksternal yang tetap kuat seiring terjadinya perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencatatkan defisit US$ 7,1 miliar. Perkembangan tersebut didorong oleh defisit neraca transaksi berjalan (CAD) yang membaik serta surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat signifikan.

Ke depan, Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja NPI diprakirakan tetap baik sehingga dapat menopang ketahanan sektor eksternal. Prospek NPI tersebut didukung defisit transaksi berjalan pada 2020 yang diprakirakan tetap terkendali dalam kisaran 2,5-3,0% PDB. Prospek aliran masuk modal asing diperkirakan juga tetap besar, didorong persepsi positif investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap terjaga.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan, setelah adanya perang dagang, sejak tahun 2018 jumlah dana asing yang masuk ke emerging market tidak terlalu besar.

Tetapi di tahun 2019, dengan cukup ketatnya di pasar obligasi dan sudah ada tanda-tanda akan ada kesepakatan perang dagang AS dan Tiongkok itu mendorong investor ambil risiko menaruh investasi ke negara berkembang.

“Nah, itu buat investor lebih berani ambil risiko di emerging market, ditambah emerging market masih bagus, masuk di bond market Indonesia, ini menolong surplus di NPI ketika transaksi modal dan finansial surplus dengan sisi return yang membaik,” ujarnya.

Meski begitu, Lana belum bisa mengatakan surplus NPI yang terjadi pada transkasi modal dan finansial dikarenakan investor memandang positif kebijakan fiskal dan kondisi dalam negeri, karena semua negera mengalami aliran modal asing masuk.

“Jika Indonesia aja yang naik baru bisa lihat begitu, tapi mereka lihat, inflasi yang rendah faktor yang mempengaruhi return di obligasi. Jadi saya gak berani bilang semata-mata karena faktor di dalam negeri investor deras masuk ke Indonesia, meskipun ada faktor dalam negeri yang turut jadi pertimbangan investor,” ujarnya.

Ia mengatakan, dana asing masuk juga ke emerging market seperti India dan Tionggkok, Jepang serta tempat lain dan lebih karena punya risk appetite dan risiko investasi lebih berani. “Tidka hanya ke kita, inflow ke Turki dan Brazil naik. Mungkin sebelumnya ini cukup murah saatnya masuk ke emerging market,” jelasnya.

Menurut dia, CAD berpotensi menurun di tahun 2020, karena pertumbuhan ekonomi yang semakin melambat, terlebih dikarenakan faktor adanya virus korona. Hal ini berdampak pada kinerja ekspor yang tertekan, sehingga pemerintah juga harus menekan impor dan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, komponen yang bisa dikontrol neraca nonmigas, kinerja ekspor tidak bisa dikontrol. Oleh karena itu, impor harus dikontrol, tetapi akibatnya kegiatan usaha akan melemah dan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, sebab bahan baku industri dalam negeri mayoritas masih impor.

“Ini kondisi dilematis untuk menjaga dan mengurangi defisit transaksi berjalan atau melonggarkan CAD di 3% PDB jadi ada kegiatan ekonomi. Tetapi tidak ada yang bisa dipilih BI. BI juga perlu jaga stabilitas, tetapi kita harus nikmati pertumbuhan ekonomi bergerak di bawah 5%, tetapi kondisi impor terjaga dengan karena fokus ekspor belum bagus kinerjanya,” ungkapnya. (jn)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN