Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman

Langkah Konsolidasi akan Tingkatkan Peluang Ekspor Produk UKM

Selasa, 29 September 2020 | 06:30 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) sektor pangan dinilai harus melakukan konsolidasi agar bisa melakukan ekspansi pasar ke luar negari.  Selama ini sudah banyak pelaku UKM yang memiliki produksi baik namun masih terpisah dengan merek dan kualitas yang berbeda beda.

“Menurut kami perlu dikonsolidasi menjadi brand bersama dengan kualitas yang seragam. Sehingga bisa memenuhi kapasitas produksi untuk ekspor ke negara lain,” ucap  Deputi bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit dalam seminar daring pada Senin (28/9).

Ia mengatakan sektor makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang tetap mampu bertahan di tengah kondisi pandemi Covid-19. Catatan Kementerian Perindustrian menunjukan  pada triwulan 1 tahun 2020 sektor ini mampu memberikan kontribusi sebesar 36,4% terhadap PDB manufaktur dengan nilai ekspor sebesar US$ 13,73 miliar dan mengalami kenaikan 3,9% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sedangkan pada  tahun 2020 BPS mencatat bahwa industri makanan minuman tumbuh 1,87% dibanding triwulan sebelumnya.

“Sektor makanan minuman tetap menunjukkan eksistensinya dengan mampu menembus pasar internasional di tengah pandemi Covid-19,” ucapnya.

Victoria mengatakan Industri makanan minuman merupakan salah satu sektor yang memiliki demand tinggi baik didalam maupun diluar negeri karena masyarakat memerlukan asupan gizi untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan imun tubuh.

Beberapa produk pangan Indonesia yang sudah diproduksi oleh UKM dan diminati pasar dunia mencakup olahan makanan laut seperti ikan dan kepiting olahanBegitu juga produk gula merah yang mampu menembus pasar di negara tujuan ekspor. Produk produk tersebut mampu menembus pasar di Malaysia, Vietnam, Thailand, Jepang, Korea dan Tiongkok.

“Produk ukm tidak hanya bisa menjadi bagian dalam supply chain industri tapi UKM juga bisa dan punya kemampuan untuk menghasilkan produk yang diminati pasar,” ucap Victoria.

Tetapi untuk menghasilkan produk UKM yang bisa bersaing di pasar global juga harus ada pembenahan dari hulu ke hilir. Produk UKM mungkin itu diminati pasar domestik maupun global tetapi masih menghadapi permasalahan kapasitas produksi. Kemudian kontinuitas dan konsistensi kualitas produk yang sudah disepakati .

Begitu juga permasalahan dan juga keterbatasan modal untuk pengembangan investasi. Dalam hal ini diperlukan peran  Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) untuk melakukan konsolidasi UKM sekaligus juga bisa menjadi marketing intelligent bagi produk UKM Indonesia

“Kita harus menciptakan ekosistem yang utuh dan tidak sporadis,” kata Victoria.

Saat ini pekaku UKM masih kesulitan untuk melakukan maketing intelligent sebab masih terfokus pada produksi produk. Menurutnya Gapmmi bisa bisa mengambil peran di sana untuk bermitra dengan UKM dan bahkan bisa membuat inklusi bisnis tapi bisa saling menguntungkan.

“Gapmimi juga bisa berperan sebagai offtaker dari produk UKM,” imbuh Victoria.

Untuk menembus pasar internasional pelaku UKM pangan harus harus dapat memenuhi standar keamanan pangan dan regulasi negara tujuan. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, pengemasan, bahan kemasan yang harus sesuai dengan standar mutu.

“UKM memerlukan pendamping atau kolaborasi kerjasama dengan mencoba membantu untuk meningkatkan daya saing produk,” ucapnya.

Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman mengatakan pelaku UKM masih menghadapi sejumlah kendala saat ingin ekspor produk pangan ke luar negeri. Baik tantangan tarif maupun non tarif. Untuk tarif sendiri tantangan yang dihadapi yaitu mutu standar produk, label, regulasi- di negara tujuan hingga logistik.  Bagaimana pelaku UKM mengenal etnik dan kebiasaan dari konsumen di negara tujuan.

“Banyak pelaku UKM yang mengetahui regulasi dan standar produk yang ada. Sehingga kepatuhan untuk regulasi di negara tujuan.  Dari sisi standar kadang-kadang masih jauh dari yang ditentukan di negara tujuan ekspor,” ucap Adhi dalam kesempatan yang sama.

Ia mengatakan pelaku UKM harus mapu menjaga keamanan pangan. Tidak hanya untuk ekspir saja tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.  Menurutnya mengatakan produk pangan tidak ada artinya kalau tidak aman.

“Keamanan pangan Indonesia masih tertinggal dari beberapa negara ASEAN seperti Singapura dan Malaysia. Tetapi kita tidak perlu berkecil hati kita terus untuk meningkatkan kemampuan kita terhadap keamanan pangan tersebut.” ucap Adhi.

Pihaknya sedang menyusun program untuk mengkurasi 10 UKM yang memang benar-benar berpotensi ekspor.  Nantinya 10 UKM ini akan diberikan pendampingan dari awal hingga berhasil menjalankan ekspor.

“Kami ingin 10 UKM ini bisa menjadi role model  untuk benar-benar merealisasikan mulai dari mulai dari nol sampai bisa merealisasikan eksportnya dan berhasil,” pungkas Adhi.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN