Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller bank menghitung uang rupiah di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Teller bank menghitung uang rupiah di Bank Mandiri cabang Jakarta Bursa di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Libur Panjang, Pergerakan Rupiah akan Cenderung Sideway

Senin, 26 Oktober 2020 | 09:49 WIB
Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Libur panjang pekan ini akan mendorong investor untuk menyimpan dananya. Akibatnya pergerakan rupiah akan cenderung sideway pekan ini.

Demikiran dikemukakan Treasury Research Analyst Bank BNI, Puguh Andik Prasetyo, dalam perbincangannya dengan BeritaSatuTV di IDXOpening Bell di Jakarta, Senin (26/10/2020).

Kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Senin pagi (26/10/2020) menguat di level 14.650.  

Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV
Puguh Andik Prasetyo, Treasury Research Analyst Bank BNI. Sumber: BSTV

Puguh Andik Prasetyo mengatakan, kondisi di dalam negeri positif seperti kasus corona yang menurun dan rilis data SDI pekan lalu cenderung akan menguatkan rupiah pekan ini.

“Namun pasar akan cenderung bermain hati-hati libur panjang bisa jadi sentimen negatif. Karena kondisi politik di Amerika yang akan memasuki masa pemilu. Investor akan segera keluar dari pasar domestik, sehingga rupiah pekan ini akan cenderung sideway,” katanya.

Menurut Puguh, kondisi rupiah akan cenderung sideway dan tidak banyak berubah. Hari ini mungkin menguat, tetapi besok mungkin akan mendapat tekanan.

“Karena investor akan cenderung mengeluarkan dananya, investor konservatif akan cenderung bermain aman di tengah apetize yang moderat investor akan khawatir jika gejolak terjadi di Amerika maupun corona dan mengeluarkan dananya dari dalam negeri. Di tengah libur panjang ini investor kemungkinan besar akan melakukan antisipasi mulai hari Selasa,” jelasnya.

Calon presiden (Capres) petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump ( kiri) dan capres Joe Biden (kanan) dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres). ( Foto: JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )
Calon presiden (Capres) petahana Amerika Serikat (AS) Donald Trump ( kiri) dan capres Joe Biden (kanan) dalam kampanye pemilihan presiden (pilpres). ( Foto: JIM WATSON, SAUL LOEB / AFP )

Puguh mengatakan, rupiah di sisa 2 bulan 2020 ini masih berpotensi menguat. Jika Joe Biden menang maka rupiah akan mendapatkan sentimen positif karena kebijakan konservatif Biden cenderung bagus untuk Negara emerging.

“Namun jika nantinya ternyata Trump yang menang, ada kemungkinan rupiah kembali tertekan meskipun di atas 15.000 potensinya sangat kecil, apalagi jika Trump kembali cenderung menyerang Tiongkok dengan policy antichina ini yang membuat rupiah akan mengalami tekanan apalagi jika coronanya kembali naik. Kalau Joe Biden yang menang rupiah bisa kembali ke level 14.400-an, tapi kalau kondisinya masih seperti ini rupiah akan ada di level 14.600-an,” pungkasnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN