Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
IMF.Foto ilustrasi: AFP PHOTO / LOUISA GOULIAMAKI

IMF.Foto ilustrasi: AFP PHOTO / LOUISA GOULIAMAKI

Lonjakan Varian Delta Picu IMF Pangkas Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 3,9%

Rabu, 28 Juli 2021 | 12:27 WIB
Triyan Pangastuti

JAKARTA, investor.id - Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini menjadi 3,9%. Proyeksi ini turun 0,4% dibandingkan laporan world economic outlook update April 2021 yang masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi 4,3%.

Ekonom IMF, Gita Gopinath mengatakan bahwa penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi di negara berkembang Asia termasuk India, Indonesia dan Malaysia disebabkan peningkatan kasus Covid-19 varian delta di negara tersebut.

“Varian Delta adalah varian dominan saat ini, di seluruh dunia, dan itu telah memengaruhi  proyeksi kami yang alami penurunan untuk negara berkembang Asia seperti India, terjadi karena varian Delta dan meningkatnya jumlah kasus yang kami lihat di banyak bagian dunia, termasuk di Indonesia dan Malaysia,”tuturnya dalam laporan IMF terbaru WEO Juli, Rabu (28/7).

Ia menjelaskan bahwa saat ini, negara Amerika Serikat kembali menghadapi peningkatan kasus Covid-19, sehingga pengendalian Covid-19 harus menjadi fokus utama. Risiko penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi juga telah memasukkan lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara, sehingga pengendalian dan penanganan Covid-19 menjadi kunci di masa mendatang.

Tak hanya itu, ia menyebut pemulihan dapat terjadi seiring meluasnya vaksinasi yang mulai bekerja di berbagai negara. Sebab vaksin memberikan perlindungan bagi masyarakat.

“Pertarungan antara virus dan vaksin, tapi ada kabar baik bahwa vaksin mulai bekerja. Dengan  varian baru, setidaknya dalam (penanganan rawat inap) dan kematian, ini vaksin memberikan perlindungan, dan itulah mengapa mereka efektif, dan itulah kabar baiknya,”tegasnya.

Kendati begitu, Gita tak memungkiri bahwa terjadi keterbatasan akses vaksin yang tidak merata di berbagai negara. Bahkan sebanyak 3,5 miliar vaksinasi di dunia juga kebanyakan diperoleh dari masyarakat yang memiliki berpenghasilan atas dengan pergi ke beberapa negara hanya untuk mendapatkan vaksinasi.

Sementara itu banyak negara dengan berpenghasilan rendah dan negara berkembang, untuk petugas kesehatan belum sepenuhnya divaksinasi, sehingga pemerataan akses vaksin pun diharapkan dapat terjadi.

“Hal-hal yang perlu dilakukan, pertama dan terutama, adalah memastikan satu miliar dosis vaksin tersedia dari negara-negara dengan vaksin berlimpah ke negara-negara yang membutuhkannya sekarang. Sekitar setengah miliar telah diumumkan, dalam hal vaksin yang disediakan,”ujarnya.

Selain itu, pengiriman vaksin juga diharapkan dapat segera dilakukan sebelum akhir tahun ke berbagai negara yang membutuhkan vaksin.

“Ini mungkin tindakan multilateral paling mendesak yang diperlukan,”tegasnya. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN