Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky

Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)-Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky

LPEM FEB UI Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Rabu, 16 Juni 2021 | 13:58 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat - Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyarankan kepada Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5% pada Juni 2021 ini. Pasalnya, peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang semula cukup menjanjikan akan menjadi bersifat sementara.

Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky mengatakan, meskipun beberapa indikator ekonomi utama dari sisi domestik maupun eksternal menunjukkan tanda pemulihan yang menjanjikan, kasus penularan Covid-19 di Tanah Air akhir-akhir ini yang kembali melonjak menunjukkan kemungkinan perbaikan kondisi ekonomi yang bersifat sementara.

“Dengan meningkatnya ketidakpastian domestik dari transmisi Covid-19 ditambah dengan perkiraan tekanan eksternal, kami melihat bahwa BI perlu mempertahankan suku bunga acuannya di 3,50% pada bulan Juni 2021,” ujar Riefky dalam seri analisis ekonominya yang diterima Investor Daily pada Rabu (16/6).

Pada hari ini, Rabu (16/6), dan besok, Kamis (17/6), BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan yang di antara akan mengambil keputusan terkait suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) untuk turun, tetap, atau naik.

Menurut Riefky, lonjakan kasus baru harian terkait penularan virus Covid-19 menjadi peringatan bagi pemangku kebijakan untuk mengantisipasi potensi gangguan pada agenda pemulihan ekonomi. “Jika kondisi ini tidak terkendali dalam waktu singkat, pemulihan kepercayaan konsumen dan bisnis dapat memudar,” tandas dia.

Selain itu, munculnya kembali kasus Covid-19 dapat menahan kepercayaan investor terhadap aset Indonesia dan menyebabkan arus modal balik. Di sisi lain, pasar menyadari sepenuhnya bahwa tekanan eksternal dari tapering off the Fed yang berpotensi lebih awal dari perkiraan masih berlanjut.

“Jika the Fed memulai taper-off pada awal paruh kedua tahun ini, bank sentral negara-negara berkembang harus mempertimbangkan risiko dalam setiap pengukuran kebijakan yang mereka putuskan dalam waktu dekat,” ucap Riefky.

Terkait semua itu, lanjut dia, BI harus menjaga nilai tukar dan stabilitas keuangan sebagai langkah pre-emptive terhadap ketidakpastian global dari tapering off AS, meskipun basis moneter saat ini jauh lebih menguntungkan daripada menjelang taper tantrum 2013.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN