Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

SARANKAN BI7DRR TETAP DI 3,5%

LPEM UI: BI Tak Perlu Buru-Buru Naikkan Suku Bunga Acuan

Kamis, 23 Juni 2022 | 07:28 WIB
Nasori (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) saat ini dinilai harus tetap mengambil stance kebijakan behind the curve dengan mempertahankan suku bunga acuan di 3,5% sambil melanjutkan langkah-langkah makroprudensial yang akomodatif. Ini diperlukan untuk mendukung momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tengah menuju pemulihan setelah mendapatkan tekanan akibat pandemi Covid-19.

“Secara keseluruhan, guna menjaga stabilitas nilai tukar dan harga, stance kebijakan BI untuk saat ini harus tetap behind the curve dengan mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%,” ujar ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky dalam Macroeconomic Analysis Series, Kamis (23/06/2022).

Setelah menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) sejak Rabu (22/06/2022), Bank Indonesia hari ini, Kamis (23/06/2022), dijadwalkan bakal menggelar konferensi pers virtual Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulan Juni 2022 yang akan diumumkan oleh Gubernur BI Perry Warjiyo beserta seluruh Anggota Dewan Gubernur BI.

Riefky melihat, dengan mempertimbangkan kondisi domestik dan eksternal, BI tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga kebijakan, BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR), karena pengetatan moneter saat ini akan mengganggu kemajuan pemulihan ekonomi. “Waktu yang tepat bagi BI untuk menaikkan suku bunga acuan adalah setelah tingkat inflasi meningkat secara fundamental dan substansial,” tandas dia.

Apalagi, menurut Riefky, di tengah tingginya ketidakpastian global, kondisi ekonomi domestik masih berada dalam jalur pemulihan. Ini tergambar dari permintaan agregat yang didukung oleh meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas produksi. “Meskipun inflasi umum secara bertahap meningkat, inflasi inti masih rendah dan terkendali,” kata dia.

Selain itu, lanjut Riefky, walaupun sedikit terdepresiasi, rupiah saat ini masih relatif stabil. Ini sebagian didukung oleh cadangan devisa yang relatif tinggi dan harga komoditas yang tinggi pula sehingga membantu memperpanjang rangkaian surplus neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

Terlepas dari itu, Riefky mengingatkan, BI tetap perlu mewaspadai pengetatan moneter The Fed dan negara-negara lain, yang dapat mengakibatkan arus modal keluar dan depresiasi rupiah. The Fed telah mengambil tindakan yang lebih agresif untuk menekan inflasi yang tinggi dengan terus meningkatkan Fed fund rate-nya sebesar 75bps dari 0,75-1,00% menjadi 1,50%-1,75% pada pertemuan FOMC bulan Juni. Ini merupakan kenaikan terbesar sejak 1994 dan secara total menghasilkan peningkatan suku bunga acuan sebesar 150bps di tahun ini.

Sementara itu, dalam rangka normalisasi likuiditas, BI secara bertahap menaikkan rasio giro wajib minimum (GWM) perbankan menjadi 6% sejak 1 Juni lalu, kemudian 7,5% dan 9% masing-masing mulai 1 Juli dan 1 September mendatang. Bank sentral mengeklaim ini dilakukan dengan tanpa mengganggu proses pemulihan.

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN