Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

LPEM UI Perkirakan BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 3,5%

Senin, 18 Oktober 2021 | 14:00 WIB
Arnoldus Kristianus (arnoldus.kristianus@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM)  Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) memperkirakan Bank Indonesia (BI) masih akan mempertahankan suku bunga acuan di angka 3,5% pada Oktober 2021 ini. Suku bunga tetap dipertahankan dengan melihat risiko di sisa tahun 2021 dan kondisi inflasi yang terkendali.

“Kami  melihat  BI  harus  terus  mempertahankan  suku  bunga  kebijakannya  di  3,50% untuk menjaga stabilitas Rupiah dan tidak mengganggu potensi berlanjutnya  momentum pemulihan ekonomi,” ucap  Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky dalam Laporan Seri Analisis Makroekonomi Oktober 2021  yang diterima pada Senin (18/10).

Dia mengatakan tanda pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat. Percepatan dan perluasan program vaksinasi bersamaan dengan respons  kebijakan yang akomodatif melalui stimulus fiskal dan moneter sangat penting  untuk mendapatkan kembali momentum pertumbuhan ekonomi setelah  melewati gelombang kedua pandemi akibat varian delta. Menurutnya  perekonomian berangsur- angsur  kembali  berjalan  setelah  pemerintah  mulai  secara  perlahan  melonggarkan  pembatasan kegiatan masyarakat darurat (PPKM).

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky. Foto: IST
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky. Foto: IST

Penerbitan Undang-Undang  Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP) sebagai bagian dari reformasi struktural  berpotensi  meningkatkan  penerimaan  pajak  dan  memperluas  basis  pajak  seiring  dengan pemulihan ekonomi, terutama dalam jangka panjang.

“Kegiatan ekonomi berangsur-angsur  pulih setelah pemerintah mulai secara perlahan melonggarkan PPKM. Dari sisi kemajuan vaksinasi, tingkat vaksinasi di  Indonesia meningkat tajam, berkat pemerintah yang mengamankan pasokan vaksin  untuk seluruh penduduk,” ucap Teuku.

Namun angka inflasi masih rendah, hal ini menunjukkan permintaan agregat masih rendah. inflasi tahunan September tercatat sebesar 1,60% (year on year/YOY), relatif tidak berubah  dari  sebelumnya  sebesar  1,59%  (YOY)  pada  bulan  Agustus  dan  masih  di  bawah  kisaran  target  BI.  Secara  bulanan,  inflasi  umum  mencatat  deflasi  sebesar  -0,04% (Month To Month/MTM),  turun  dari  inflasi  bulan  sebelumnya  sebesar  0,03%  (MTM),  namun  hampir  setara  dengan  deflasi  bulanan  sebesar  -0,05%  (MTM)  yang  tercatat  pada  periode  yang  sama  tahun  lalu. 

“Penurunan  inflasi  bulanan  tersebut  disebabkan  oleh  deflasi  yang  terjadi  dikelompok  harga  makanan  bergejolak  dan  penurunan  inflasi  inti  di tengah meningkatnya inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah,” tandas Teuku.

Teuku mengatakan di tengah kondisi domestik yang mulai pulih, situasi eksternal agak bergejolak akibat  krisis  energi  yang terjadi di Tiongkok,  India, dan  beberapa bagian  Eropa  karena  pemulihan  yang  lambat  dari  sisi  penawaran  dibandingkan  dengan  sisi  permintaan.  Akibatnya, terjadi arus keluar yang agresif dari sekitar US$ 9,05 miliar di pertengahan  September  menjadi  US$ 6,98  miliar  di  pertengahan  Oktober.  Krisis  energi  global  memicu  ketakutan  di  kalangan  investor,  sehingga  mereka  melepas  modalnya  dari  pasar  negara  berkembang  termasuk  Indonesia. 

Selain  itu,  berbagai  masalah  lain  seperti  masalah  utang  Evergrande  di  Tiongkok  yang  dapat  menimbulkan  risiko  sistemik terhadap perekonomian Tiongkok serta masalah yang terkait dengan stance moneter the Fed, yang dapat  melakukan  kebijakan  tapering  lebih  cepat  dari  yang  diantisipasi sebelumnya, semakin memperburuk ketakutan dan mendorong investor untuk  melarikan diri dari aset yang lebih berisiko. 

“Sehingga terjadi  peningkatan imbal hasil obligasi pemerintah 10-tahun dan 1-tahun masing-masing menjadi 6,27%  dan  3,91%  pada pertengahan  Oktober dari  6,17%  dan  3,16%  pada  pertengahan September,” ucapnya.

Dari isi eksternal, risiko pada  sisa tahun 2021 yang dapat memberikan  tekanan dan menimbulkan ketidakpastian pada stabilitas ekonomi. Faktor-faktor  tertentu yang dapat meningkatkan ketidakpastian eksternal dan membatasi potensi  arus modal masuk ke depan adalah agenda normalisasi moneter yang lebih cepat  dari yang diantisipasi oleh The Fed yang dapat memicu “flight to quality”,  kelangkaan kontainer dan hambatan dalam pengiriman barang di Tiongkok yang meningkatkan biaya pengiriman dan logistik dan mengganggu rantai pasok global,  dan krisis energi global akibat pemulihan yang lambat dari sisi suplai.

“Jika  pasar bergejolak setelah the Fed mulai melakukan pengetatan, Indonesia berada  dalam posisi yang agak sulit,” kata Teuku. 

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN