Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky

LPEM UI Sarankan BI Tak Buru-Buru Naikkan Suku Bunga Acuan

Selasa, 19 April 2022 | 11:09 WIB
Triyan Pangastuti (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) berpandangan bahwa Bank Indonesia (BI) sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) dan lebih baik mempertahankannya di 3,5% pada bulan ini.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, perang antara Rusia dan Ukraina telah menciptakan ketidakpastian global dan membahayakan proses pemulihan ekonomi global. Oleh karena itu, dalam konsidi seperti saat ini, bank sentral disarankan untuk mengambil kebijakan yang lebih mendukung stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

“BI pun perlu mempertahankan sikap moneter yang prostabilitas dan kebijakan makroprudensial yang propertumbuhan selama masa-masa yang tidak pasti saat ini,” ujar dia dalam Seri Analisis Makrorkonomi yang diterima Investor Daily, Selasa (19/4/2022).

Dalam dua hari ini, Bank Indonesia menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) hingga Selasa (19/4/2022) yang akan diakhiri dengan konferensi pers seputar hasil rapat tersebut.

Menurut Riefky, ditambah dengan tekanan inflasi global dan proses pengetatan moneter yang sedang berlangsung, risiko inflasi ke depan yang didorong oleh periode Ramadan, pemulihan permintaan, kenaikan harga energi dan pangan akan menempatkan pembuat kebijakan, terutama BI, pada posisi yang sulit.

“Karena kebijakan moneter akan lebih diarahkan untuk merespons kenaikan inflasi fundamental yaitu inflasi inti, daripada langsung pada komponen inflasi harga bergejolak dan harga yang diatur pemerintah, maka koordinasi dengan Pemerintah Indonesia mengenai stabilitas inflasi perlu diperkuat ke depan,” papar dia.

Namun, terlepas dari gejolak pasar keuangan global baru-baru ini, menurut Riefky, rupiah memiliki pergerakan yang cukup stabil dan memiliki kinerja yang baik dibandingkan dengan rekan-rekannya. Dengan tingkat depresiasi sebesar 0,66% (ytd) sejak awal tahun 2022 dan tingkat depresiasi tahunan sebesar -1,48% (y.o.y), rupiah menunjukkan fluktuasi yang cukup stabil di tengah gejolak ekonomi dan geopolitik global saat ini.

Di sisi lain, kata dia, hampir tidak ada perubahan signifikan pada cadangan devisa BI pada Maret 2022. Tercatat sebesar US$ 139,1 miliar, cadangan devisa mengalami sedikit penurunan kurang dari US$ 1 miliar dari US$ 141,4 pada Februari 2022. Namun demikian, level cadangan devisa saat ini masih dianggap cukup.

“Ini setara dengan pembiayaan untuk 7,2 bulan impor atau 7,0 bulan impor dan pembayaran utang publik, jauh lebih tinggi dari standar kecukupan internasional atau ekivalensi tiga bulan impor,” pungkas Riefky.

Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan masih akan menahan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5% meski harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan dan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) mulai menebalkan suku bunganya. Ini lantaran kebijakan suku bunga BI hanya akan merespons tekanan-tekanan inflasi yang bersifat fundamental, yang tergambar melalui inflasi inti.

Apalagi, sampai sekarang BI masih optimistis, inflasi hingga akhir tahun akan berada di kisaran sasaran 2-4%. “Jadi, terkait tekanan harga pangan ataupun energi, BI tidak akan merespons first round impact atau dampak pertama. Yang kami respons adalah dampak rambatannya kalau inflasi berdampak secara fundamental, yang indikatornya adalah inflasi inti,” ujar Perry dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK II Tahun 2022 di Jakarta, Selasa (13/4/2022).

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN