Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Bank Indonesia. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

LPEM-FEB UI Sarankan BI Tahan Suku Bunga Acuan di Tingkat 4%

Kamis, 17 September 2020 | 10:00 WIB
Nasori

JAKARTA, investor.id - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) - Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) berpandangan, Bank Indonesia (BI) perlu mempertahankan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di tingkat 4% pada bulan ini.

Ekonom LPEM-FEB UI Teuku Riefky mengatakan, ini diperlukan untuk menjaga stabilitas keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial dan moneter nonkonvensional sebagai langkah dalam mendorong likuiditas.

“Meskipun tekanan deflasi yang meningkat memberikan momentum yang cukup bagi BI untuk lebih melonggarkan kembali kebijakan moneternya, stabilitas rupiah lebih krusial,” ujar Riefky dalam publikasinya yang diterima Investor Daily, Rabu (16/8).

Apalagi, meski inflasi bulan lalu sangat rendah, ia berpendapat, permintaan kredit diperkirakan akan tertahan dalam waktu dekat seiring diberlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah Jakarta.

“Kondisi ini juga untuk memberikan ruang bagi bank sentral guna memprioritaskan stabilisasi nilai tukar (kurs) rupiah bulan ini akibat risiko ketidakpastian di pasar keuangan yang meningkat,” ucap Riefky menjelaskan.

Siang ini, Dewan Gubernur BI dijadwalkan bakal menggelar konferensi pers untuk mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) selama dua hari terakhir, di antaranya terkait suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Menurut Riefky, perbedaan tingkat suku bunga saat ini masih relatif menarik untuk menjaga aliran modal masuk dan stabilitas nilai tukar. Namun demkian, langkah BI mempertahankan suku bunga acuan diperlukan guna mengantisipasi risiko ketidakpastian di pasar keuangan yang meningkat.

Sejak Maret lalu, Riefky melihat, BI semakin memperhatikan risiko pertumbuhan ekonomi dan mengubah sikap kebijakannya menjadi secara preemptif mendukung pertumbuhan ekonomi untuk mengurangi dampak krisis kesehatan sekaligus mengelola stabilitas pasar keuangan.

Namun demikian, meningkatnya risiko kontraksi ekonomi global yang semakin dalam ditambah dengan kemungkinan penyebaran virus yang berkepanjangan di Indonesia telah menimbulkan ketidakpastian di pasar setidaknya sejak awal September ini.

Akibatnya, lanjut dia, rupiah melemah ke level Rp 14.900 per dolar AS pada 14 September 2020 dan tercatat sebagai mata uang dengan depresiasi terparah di negara berkembang Asia. “Sementara itu, semakin menurunnya akumulasi aliran modal masuk mendorong imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi,” pungkas dia.

 

 

Editor : Nasori (nasori@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN