Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan. FOTO: UTHAN A RACHIM

Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Fauzi Ichsan. FOTO: UTHAN A RACHIM

LPS: Proyeksi Ekonomi Global 2020 Lebih Optimistis

Nasori, Selasa, 24 Desember 2019 | 14:04 WIB

BANDUNG, investor.id – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melihat adanya proyeksi ekonomi global 2020 yang lebih optimistis dibandingkan proyeksi 3-4 bulan lalu. Ini di antaranya diindikasikan oleh proyeksi mayoritas analis bahwa tahun depan suku bunga global tidak akan naik, yang berarti ketersediaan likuiditas di pasar dunia akan stabil.

“Intinya, kalau kita melihat prediksi suku bunga global, tidak ada satu pun analis global yang meperkirakan kenaikan suku bunga global, apa itu Fed fund rate maupun suku bunga bank sentral Tiongkok. Rata-rata meperkirakan suku bunga global akan tetap rendah mendekati nol, bahkan Fed fund rate diperkirakan masih bisa turun satu kali lagi,” ujar Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan dalam acara media gathering di Bandung, Sabtu (21/12).

Manurut Fauzi, beberapa analis bahkan memprediksi, neraca beberapa bank sentral global, di antaranya The Fed, akan naik lagi. "Ibaratnya ini QE (quantitative easing) jilid II. Jadi, likuiditas global akan baik. Kalau pertumbuhan ekonomi global masih mixed di 3,35%, tapi bukan seperti seperti prediksi 2009," kata dia.

Faktor global lain yang kembali menumbuhkan optimisme itu adalah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok yang mereda dan kasus Brexit yang tak lagi diwarnai ketegangan. "Trade AS dan Tongkok sentimennya membaik. Kita tahu, sentimen buruk perang dagang antara AS dan Tiongkoklah yang membuat pasar finansial bergejolak, terutama pada 2018 lalu. Brexit juga smooth," jelas Fauzi.

Dari sisi analisis politik, lanjut dia, dampak pemakzulan terhadap Presiden AS Donald Trump akan sangat ditentukan oleh efeknya terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sementara dari sisi legalistis, pemakzulan Trump oleh Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives/HoR) AS yang dikuasai kubu Demokrat itu agar berujung pada pemecatan masih harus mendapat persetujuan dari Senat yang didominasi kubu Republik. "Ini tergantung bagaimana kesepakatan antara pimpinan senat dan DPR saja?" pungkas Fauzi.

 

Trump akan Aman

Sejumlah analis menyebutkan, sebagaimana Andrew Johnson pada 1868 dan Bill Clinton pada 1998, Donald Trump juga tidak akan sampai jatuh dari posisinya sebagai presiden AS, walaupun dimakzulkan. Selain preseden tersebut, setidaknya dua hal lagi yang akan membuat presiden ke-45 AS tersebut baik-baik saja. Pertama, Senat dikuasai Republik. Kedua, perekonomian AS saat ini dalam kondisi sangat kuat.

Trump menjadi presiden ketiga dalam sejarah AS yang dimakzulkan oleh DPR. Rabu (18/12) pekan lalu, DPR AS yang dikuasai menyatakan Trump menyalahgunakan kekuasaan dan menghalangi Kongres. Pemakzulan dengan suara 230:197 itu menandai penyelidikan selama tiga bulan oleh kubu Demokrat di DPR AS, terkait apakah Trump menekan Ukraina untuk menyelidiki bakal rivalnya di pilpres 2020, Joe Biden.

Trump juga dituduh menunda bantuan militer hingga penyelidikan tersebut dibuka. Tapi proses pemakzulan ini masih jauh dari usai. Proses selanjutnya adalah persidangan di Senat. Nancy Pelosi selaku ketua DPR AS menunda penyampaian dua pasal pemakzulan tersebut kepada Senat, karena ragu akan adil dalam menyidang Trump.

Senat AS yang memiliki kewenangan final apakah akan menyatakan Trump terbukti melakukan pelanggaran sesuai dakwaan pemakzulannya dan setuju untuk mencopotnya dari jabatan. Atau apakah Senat akan membebaskannya dari dakwaan, sebagaimana dialami Johnson dan Clinton.

Harus dua pertiga dari 100 anggota Senat atau 67 suara yang menyatakan Trump terbukti bersalah dan menyetujui pencopotannya. Sedangkan faktanya, Republik menguasai Senat 53:47. Lebih dari itu, tidak satu pun anggota Senat Republik yang mengindikasikan akan menyatakan Trump bersalah.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA