Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pabrik keramik

Pabrik keramik

Malaysia Hentikan Penyelidikan Safeguard Keramik Indonesia

Rabu, 20 Januari 2021 | 09:40 WIB
Sanya Dinda (sanya.susanti@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia (MITI) secara resmi menghentikan penyelidikan tindakan pengamanan (safeguard) terhadap produk keramik (ceramic floor and wall tiles) Indonesia pada 11 Januari 2021.

Produk keramik yang terbebas dari pengenaan safeguard tersebut berada dalam kelompok pos tarif 6907.21.21, 6907.21.23, 6907.21.91, 6907.21.93, 6907.22.11, 6907.22.13, 6907.22.91, 6907.22.93, 6907.23.11, 6907.23.13, 6907.23.91, dan 6907.23.93.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, Malaysia menghentikan penyelidikan safeguard ini hanya empat bulan setelah dimulai pada 13 September 2020.

"Otoritas Malaysia memutuskan menghentikan penyelidikan ini atas tiga pertimbangan. Pertama, tidak terjadi kenaikan volume impor secara absolut selama periode investigasi. Kedua, kenaikan volume impor secara relatif terhadap produksi keramik Malaysia tidak dapat dipastikan. Terakhir, otoritas Malaysia tidak dapat memastikan adanya hubungan sebab akibat antara lonjakan impor dan kerugian serius yang diderita industri keramik Malaysia,” kata Lutfi dalam keterangan resmi, Selasa (19/1).

Penyelidikan dilakukan mulai September 2020 berdasarkan petisi dari Federation of Malaysian Manufacturers–Malaysian Ceramic Industry Group. Gabungan pelaku usaha industri keramik Malaysia tersebut mengklaim, terjadi lonjakan keramik impor yang menyebabkan kerugian atau ancaman kerugian bagi industri dalam negeri. Namun, otoritas Malaysia tidak dapat menemukan bukti-bukti yang mendukung klaim industri keramik Malaysia tersebut.

Penyelidikan kemudian diterminasi tanpa penerapan bea masuk tindakan pengamanan sementara (BMTPS).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai ekspor Indonesia ke Malaysia untuk produk keramik yang diselidiki adalah sebesar US$ 7,12 juta pada 2019. Nilai tersebut menurun 27,21% dibandingkan 2018 yang tercatat sebesar US$ 9,78 juta. Sementara itu, selama periode Januari–November 2020, Indonesia membukukan nilai ekspor keramik ke Malaysia sebesar US$ 8,35 juta atau meningkat 24,41% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 6,71 juta.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi menjelaskan, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, industri keramik Indonesia telah dua kali terbebas dari rencana penerapan bea masuk tindakan pengamanan (BMTP) oleh negara mitra dagang.

"Sebelumnya, keramik Indonesia juga berhasil lepas dari jeratan safeguard Filipina bulan Desember 2019 ,” terang Didi.

Menurut Didi, dengan kualitas yang unggul, produk keramik asal Indonesia dianggap berpotensi mengganggu kinerja industri keramik dalam negeri Malaysia. Selain itu, Indonesia merupakan salah satu pemasok utama keramik bagi Malaysia.

“Data statistik impor Malaysia tahun 2019 menunjukkan, Indonesia berada di posisi kedua setelah Tiongkok sebagai negara asal impor terbesar bagi Malaysia. Keputusan MITI ini membuka peluang yang besar untuk terus meningkatkan ekspor keramik Indonesia ke negeri jiran,” ujar Lutfi.

Direktur Pengamanan Perdagangan Kemendag Pradnyawati menambahkan bahwa kemenangan ini tercapai berkat usaha bersama antara semua pihak. Selama proses penyelidikan berlangsung, pemerintah telah mengikuti berbagai tahapan, mulai dari mendaftarkan diri sebagai pihak berkepentingan, melakukan koordinasi dengan para pelaku usaha, asosiasi, atase perdagangan, serta kementerian dan lembaga lain, hingga mengirimkan sanggahan tertulis kepada Otoritas Malaysia. Pemerintah juga menyampaikan pernyataan lisan pada pelaksanaan dengar pendapat yang diselenggarakan MITI dan menggalang kerja sama dengan importir keramik di Kuala Lumpur.

"Keberhasilan yang diraih awal tahun ini menjadi pemicu positif dalam upaya pembelaanbersama yang dilakukan Indonesia sepanjang 2021. Selanjutnya, kita harus tetap waspada, mengingat semakin gencarnya negara-negara mitra dagang kita dalam menerapkan tools trade remedy dalam kerangka melindungi industri dalam negerinya,” kata Pradnyawati.

Editor : Eva Fitriani (eva_fitriani@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN