Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Manajemen Manulife menggelar acara Market Outlook 2022 secara Virtual, Selasa (7/12).

Manajemen Manulife menggelar acara Market Outlook 2022 secara Virtual, Selasa (7/12).

MAMI: ASEAN 5 Bertumbuh 5,8% di 2022

Selasa, 7 Desember 2021 | 15:02 WIB
Fajar Widhiyanto

JAKARTA, Investor.id – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyampaikan bahwa tahun 2022 akan menjadi momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia. Kondisi market di rentang waktu 2020 hingga 2022 mengalami tiga fase penting, yaitu fase pandemi di 2020, kemudian fase recovery di 2021, dan akan dilanjutkan dengan fase normalisasi pada pasar global, sementara Indonesia justru akan mengalami fase akselerasi di 2022.

Hal ini disampaikan oleh tim investasi MAMI yang diwakili oleh Director & Chief Investment Officer Fixed Income Ezra Nazula, Chief Economist & Investment Strategist Katarina Setiawan, dan Senior Portfolio Manager Equity Samuel Kesuma dalam Indonesia Market Outlook 2022: Back on the Radar Screen yang diadakan secara daring pada Selasa (7/12).

Menurut Katarina, pandemi di tahun 2020 menyebabkan kontraksi pertumbuhan PDB global sebesar 3,5%. Setelah mengalami penurunan ekstrem di tahun 2020, PDB global mengalami kenaikan masif dan tumbuh sebesar 5,9% di tahun 2021.

“Kami memperkirakan bahwa ke depannya pertumbuhan ekonomi global akan mulai bergerak ke arah normal. Ini artinya pertumbuhan ekonomi global di tahun 2022 akan lebih rendah dari 2021, namun masih lebih tinggi dari rerata jangka panjangnya,” ujar Katarina.

Setelah menunjukkan pertumbuhan yang sangat tinggi di 2021, aktivitas perdagangan global di 2022 diperkirakan akan tumbuh di atas rerata jangka panjang, namun pertumbuhannya tidak setinggi di 2021. Menurut Katarina, perdagangan global akan ditopang oleh kebutuhan produk dan jasa seiring dengan normalisasi aktivitas ekonomi.

Berikutnya disampaikan pula bahwa normalisasi tidak hanya terjadi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kebijakan moneter dan fiskal. Di sisi kebijakan moneter, seiring era normalisasi ekonomi global, bank sentral dunia juga melakukan penyesuaian arah kebijakan.

“Suku bunga diperkirakan akan meningkat secara gradual sambil tetap memperhatikan kondisi terkait pandemi. Komunikasi dan sinyal bank sentral akan sangat krusial di 2022, terutama di tengah ketidakpastian lonjakan inflasi. Sejauh ini, pasar telah mengantisipasi kenaikan imbal hasil US Treasury dan dua kali kenaikan Fed rate di 2022,” ujarnya.

Sementara itu, normalisasi di sisi kebijakan fiskal akan berupa pengurangan stimulus-stimulus pandemi secara gradual menuju ke level normal di era pertumbuhan ekonomi yang juga menuju normal. Kebijakan fiskal di 2022, baik di kawasan negara maju maupun negara berkembang, tetap akan akomodatif dan lebih tinggi dari rerata jangka panjang, walaupun tidak sebesar tahun 2020-2021. Pengetatan yang lebih besar akan terjadi di kawasan negara maju, dimana defisit fiskal bisa turun dari 8,8% ke 4,8% PDB, sementara di negara berkembang defisit diperkirakan turun lebih sempit dari 6,6% ke 5,7% PDB.

Asia sebagai produsen penting dunia menurut Katarina akan sangat berperan dalam pemulihan rantai pasokan global di 2022. Normalisasi pertumbuhan dan perbaikan rantai pasokan global akan berdampak positif pada sektor manufaktur dan pasar finansial Asia. Pengetatan kebijakan The Fed menjadi tantangan yang harus diperhatikan, namun Asia masih memiliki ruang kebijakan moneter yang lebih longgar, didukung oleh inflasi yang lebih terjaga dan tingkat suku bunga riil yang tinggi sehingga memberi fleksibilitas bagi bank sentral di kawasan ini.

“Penanganan pandemi di beberapa negara ASEAN yang pada awalnya cenderung relatif lambat membuat pemulihan ekonomi di 2021 belum maksimal, sehingga perbaikan diperkirakan masih akan terus berlanjut di 2022,” ujar Katarina.

Kawasan ASEAN diperkirakan akan menjadi salah satu kawasan yang dapat mencatat pertumbuhan ekonomi lebih tinggi di 2022 dibanding dengan 2021, berlawanan dengan kawasan lain yang mengalami normalisasi pertumbuhan ekonomi. ASEAN-5, yang terdiri atas Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, diprediksi akan mengalami pertumbuhan PDB sebesar 5,8% di 2022, melampaui pertumbuhan PDB negara maju (4,5%), negara berkembang di Eropa (3,6%), dan Amerika Latin (3,0%). Tekanan inflasi yang masih rendah di ASEAN memberikan fleksibilitas bagi bank sentral untuk menjaga kebijakan moneter tetap akomodatif.

 

Editor : Fajar Widhi (fajar_widhi@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN