Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Ilustrasi start-up. (Pixabay)

Masih Ada Potensi Investasi di Perusahaan Rintisan yang Sudah Mature

Rabu, 16 September 2020 | 21:35 WIB
Imam Suhartadi (imam.suhartadi@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Di masa pandemik Covid19 seperti saat ini, ternyata tak mengurungi minat angel investor untuk berburu perusahaan rintisan. Bahkan saat ini angel investor tersebut ‘getol‘ berinvestasi di perusahaan rintisan.

Meski mereka tengah giat berinvestasi di perusahaan rintisan, namun azas kehati-hatian tetap dipegang angel investor. Mereka akan selektif melilih perusahaan rintisan yang akan menjadi target investasi mereka. 

Mantan CEO Indosat Oooredo Tbk yang saat ini berprofesi juga menjadi angel investor, Alexander Rusli mengakui bahwa saat ini masih banyak investor yang mencari perusahaan rintisan. Di luar negeri perusahaan konvensional yang telah besar juga turut berburu perusahaan rintisan.

Bahkan perusahaan tersebutlah yang membuat perusahaan rintisan menjadi lebih besar dan tambah maju. Sebab salah satu peran dari perusahaan konvensional tersebut sebagai ‘bapak angkat’ dari perusahaan rintisan.

Tujuan perusahaan konvensional berinvestasi di perusahaan rintisan selain mencari potensi pendapatan dari non core bisnis yang selama ini digeluti, mereka juga mencari teknologi atau inovasi yang mungkin bisa dikolaborasikan dengan bisnis yang dijalankan selama ini.

Namun menurut Alex, perusahaan konvensional tersebut tentunya mencari perusahaan yang tahan terhadap pandemic Covid19 dan rendah resikonya. 

Mereka akan memilih perusahaan rintisan yang tidak bakar uang dan memiliki profitabilitas yang jelas untuk beberapa tahun kedepan. Seperti perusahaan rintisan yang mengerjakan segmen business to business. Seperti Redkendi yang saat ini menjadi salah satu perusahaan rintisan yang dikucurkan dana oleh Alex. 

Alasan Alex berinvestasi di Redkendi karena target market yang dibidik perusahaan rintisan tersebut jelas dengan menyasar target market business to business yang berpotensi memiliki profitabilitas lebih jelas di masa mendatang.

“Investor sekarang lebih selektif. Seperti BCA atau Telkom yang ikut berinvestasi di perusahaan rintisan. Mereka akan sangat berhati-hati dalam berinvestasi di perusahaan rintisan. Ketika mereka akan melakukan investasi tentu melihat resiko dan potensi bisnis yang bisa disinergikan dengan bisnis intinya. Biasanya mereka masuk bertahap.  Kalau mereka confidence, investasi besar baru mereka keluarkan. Jadi wajar saja jika saat ini Telkom, BCA atau BRI berinvestasi di perusahaan rintisan,”terang Alex dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (16/9).

Agar meminimalkan resiko berinvestasi di perusahaan rintisan, biasanya perusahaan besar seperti Telkom, BCA dan BRI tak akan masuk stage awal. Mereka akan masuk di stage tengah. Sedangkan Alex sendiri lebih menyukai untuk masuk di stage awal.

Alex mengakui masuk di stage awal memiliki resiko dan effort yang lebih. Namun dana yang diinvestasikan tidak besar namun potensi keuntungan yang kemungkinan akan diperoleh akan besar. Agar dapat meminimalkan resiko investasinya, Alex harus ikut terlibat langsung di dalam perusahaan rintisan yang dimasukinya.

“Memang ketika masuk di stage awal kita bisa mengatur arah perusahaan. Beda jika kita masuk di stage tengah atau akhir. Akan sulit kita mengatur arah perusahaan. Karena sistim mereka sudah berjalan. Karena sistimnya sudah berjalan dengan baik maka resikonya juga rendah. Karena resiko rendah keuntungan yang didapat juga tak akan eksponensial,”terang Alex.

Alex menceritakan ketika memimpin di perusahaan sebelumnya, ia memutuskan melakukan investasi awal di Grab. Pada saat Alex meninggalkan perusahaan lamanya tersebut, investasi yang ditanamkan di Grab sudah tumbuh 5 kali lipat. Jika investor saat ini ingin berinvestasi di perusahaan yang sudah mature, Alex memperkirakan keuntungannya mungkin tak akan terlalu tinggi lagi.

“Susah saat ini memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh ketika hendak masuk ke perusahan yang sudah mature. Karena valuasi mereka saat ini sudah sangat tinggi. Mencapai US$ 10 miliar. Meski demikian investor masih berpotensi mendapatkan keuntungan jika saat ini mereka ingin masuk ke perusahaan rintisan yang sudah mature,”pungkas Alex.



 

Editor : Imam Suhartadi (imam_suhartadi@investor.co.id)

BAGIKAN