Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Gubernur BI Perrry Warjiyo. Sumber: BSTV

Masih Undervalued, BI Yakin Rupiah akan Terus Menguat Menuju Fundamentalnya

Triyan Pangastuti, Kamis, 28 Mei 2020 | 16:46 WIB

JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis, nilai tukar rupiah akan bergerak menguat menuju ke arah fundamentalnya. Ini dindikasikan dengan inflasi yang lebih rendah, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) yang juga rendah, serta aliran modal asing masuk (capital inflow) yang terus meningkat.

Ia mengatakan, masuknya aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) dapat memperkuat rupiah dan imbal hasil SBN yang menarik juga turut mendukung stabilitas rupiah ke arah fundamentalnya. “Kami meyakini, rupiah saat ini masih undervalued dan berpeluang terus mengalami penguatan ke arah fundamentalnya,” ujar Perry dalam acara media briefing secara virtual, Kamis (28/5).

Adapun rupiah hari ini, Kamis (28/5), diperdagangkan di kisaran Rp 14.740 – Rp 15.762 per dolar AS. Rupiah siang ini melemah dibandingkan tadi pagi pukul 09.30 WIB yang di level Rp 14.740 per dolar AS.

Sedangkan bila mengacu data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange pada siang ini pukul 12.15 WIB diperdagangkan di level Rp 14.750 per dolar AS atau melemah 40,0 poin (0,27%) dari penutupan sebelumnya.

“Kemarin rupiah ditutup menguat Rp 14.670 rupiah per dolar AS, menguat Rp 60 per dolar. Kemudian mengalami penguatan. Hari ini diperdagangkan stabil Rp 14.700. Itu meyakinkan kami bahwa rupiah ke depan akan terus alami penguatan menuju level atau tingkat fundamentalnya,” tutur dia.

Perry mengakui, posisi rupiah saat ini belum mencerminkan nilai fundamentalnya. Sebab, sebelum pandemi Covid-19, nilai tukar mata uang Garuda ini pernah di kisaran Rp 13.600 hingga Rp 13.800. Namun, setelah pandemi yang memicu ketidakpastian di pasar keuangan global premi risiko atau credit default swap (CDS) meningkat.

CDS adalah indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN. Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya, jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga makin rendah.

“Premi risiko meningkat disebabkan adanya ketidakpastian di pasar keuangan global dan demikian persepsi risiko pasar keuangan global emerging market, termasuk Indonesia,” ujar dia.

Seiring meredanya ketidakpastian pasar keuangan global, ia yakin, CDS dapat kembali ke posisi semula sebelum Covid sebesar 66. “Preminya sekarang ini sudah menurun menjadi 160, sebelum Covid-19 itu 66, dan sempat capai level tertinggi sekitar 245 saat puncak Covid-19 yakni minggu kedua dan ketiga Maret. Ini dikarenakan kepanikan pasar keuangan global,” tutup Perry.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN