Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT Pertamina (Persero)

PT Pertamina (Persero)

BEBAN PERSEROAN BERKURANG

Melonjak 427%, Laba Bersih Pertamina Tembus US$ 753 Juta

Retno Ayuningtyas, Jumat, 8 November 2019 | 19:27 WIB

JAKARTA, investor.id – PT Pertamina (Persero) membukukan laba bersih US$ 753 juta hingga akhir kuartal III-2019, naik 427% dibandingkan periode sama tahun silam sebesar US$ 142 juta. Lonjakan laba bersih terjadi terutama akibat penurunan beban perusahaan.

Laba yang dicetak Pertamina sampai akhir tahun berpotensi jauh lebih tinggi, mencapai US$ 1,7 miliar, jika BUMN migas itu memperoleh kompensasi harga jual bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Keuangan Pertamina Pahala N Mansury mengungkapkan, perseroan berpeluang memperoleh tambahan pendapatan kompensasi dari selisih harga jual BBM sesuai ketetapan dan formula. Pendapatan tersebut bakal memengaruhi besaran laba perseroan pada akhir 2019.

“Hingga kuartal III, laba kami kurang lebih US$ 753 juta. Kalau termasuk potensi pendapatan dari kompensasi, kurang lebih di kisaran US$ 1,7 miliar,” kata Pahala di Jakarta, Kamis (7/11).

Pahala Mansyuri. Foto: IST
Pahala Mansyuri. Foto: IST


Namun, menurut Pahala Mansury, pemberian kompensasi oleh pemerintah biasanya menunggu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan keputusan menteri keuangan.

Alhasil, tambahan potensi pendapatan kompensasi tersebut baru bisa terlihat dalam laporan keuangan perseroan akhir tahun. “Komponen penggantian ataupun kompensasi untuk selisih harga jual itu kurang lebih sekitar US$ 1 miliar,” tutur dia.

Pahala menjelaskan, komponen pendapatan kompensasi itu muncul pertama kali dalam laporan keuangan Pertamina tahun lalu. Mengacu Peraturan Presiden (Perpres) No 43 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Perpres No 191 Tahun 2014 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM, Pertamina saat itu memperoleh penggantian jika menjual BBM penugasan dan subsidi pada harga eceran di bawah harga pokok produksi. “Kami membukukan penggantian atas harga eceran itu tahun lalu,” ujar dia.

Laba bersih Pertamina
Laba bersih Pertamina

Adanya tambahan pendapatan kompensasi, kata Pahala Mansury, juga membuat laba Pertamina melejit, yakni dari Rp 5 triliun pada pertengahan 2018 menjadi Rp 35,99 triliun atau US$ 2,53 miliar pada akhir 2018.

Berdasarkan laporan keuangan Pertamina, pada pos pendapatan usaha dari aktivitas operasi lainnya tercatat adanya penggantian selisih harga BBM ketetapan dan formula sebesar US$ 3,1 miliar. Penggantian ini di luar subsidi BBM yang diterima Pertamina sebesar US$ 5,6 miliar.

Pahala Mansury mengemukakan, dibandingkan periode sama tahun silam, realisasi laba US$ 753 juta itu jauh lebih baik. “Kami tumbuh jauh sekali dibandingkan tahun lalu. Memang kurang fair kalau dibandingkan dengan tahun lalu karena harga minyak dunia lebih tinggi,” tandas dia.

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menambahkan, membaiknya kinerja Peramina tidak serta-merta terjadi akibat turunnya harga minyak mentah. Perseroan juga berupaya menurunkan beban.

“Laba lebih baik dari tahun lalu, cukup besar kenaikannya, sekitar 427%,” tutur dia.

Fajriyah menjelaskan, Pertamina berhasil menurunkan beban pokok penjualan sekitar 5% sehingga laba membaik. Hal tersebut didorong penurunan beban produksi dan keberhasilan perseroan menurunkan nilai impor minyak mentah sebesar 41% dan nilai impor produk BBM sebesar 21%.

Dia mengakui, membaiknya laba Pertamina juga dipengaruhi rata-rata patokan harga minyak mentah nasional (Indonesia crude price/ICP) yang tercatat US$ 62,03 per barel. Sedangkan berdasarkan data Kementerian ESDM, rata-rata ICP sepanjang tahun lalu mencapai US$ 67,5 per barel.

Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id
Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: bumn.go.id


Adanya pelemahan harga ICP, menurut Fajriyah, berdampak langsung terhadap pendapatan perusahaan. Namun, dia tidak bersedia merinci berapa besaran pendapatan perseroan hingga akhir September lalu. “Relatif stabil, turun sedikit. Tetapi yang jelas, darahnya perusahaan, yaitu cash, dalam posisi sangat baik,” tegas dia.

Pahala Mansury sebelumnya sempat menyatakan optimismenya bahwa laba Pertamina pada akhir 2019 bakal menyentuh US$ 2 miliar. Tahun ini, perseroan memasang target laba bersih US$ 1,5-2 miliar, dengan asumsi ICP cukup stabil.

“Kami berupaya terus meningkatkan kinerja. Dengan ICP US$ 63 per barel, mudah-mudahan angka US$ 2 miliar bisa dicapai. Tetapi internally, kami akan pacu terus di atas US$ 2 miliar,” tandas dia.

Realisasi Investasi
Pahala Mansury juga mengungkapkan, tahun ini Pertamina menganggarkan dana investasi sebesar US$ 4,3 miliar. Sekitar US$ 2,5 miliar di antaranya untuk bisnis hulu migas, sisanya untuk sektor lainnya. Hingga akhir September lalu, Pertamina telah mengucurkan investasi sekitar US$ 1,94 miliar atau 45% dari anggaran.

Pahala optimistis realisasi investasi bakal sesuai anggaran yang direncanakan. “Memang biasanya akselerasi daripada capex (capital expenditure/anggaran belanja modal) kami baru mendekati akhir tahun. Total rencana tahun ini kurang lebih US$ 4,3 miliar. Mudah-mudahan ini bisa tercapai pada akhir tahun,” kata dia.

Salah satu alasannya, menurut Pahala, realisasi investasi sektor hulu tahun ini bakal cukup tinggi, yakni mencapai US$ 2,6 miliar. Biasanya, realisasi investasi bisnis hulu berkisar 80-90% dari total anggaran. Faktor pendorongnya adalah adanya investasi pengembangan di Blok Mahakam yang mencapai US$ 900 juta hingga US$ 1 miliar.

Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: IST
Kilang Pertamina. Foto ilustrasi: IST


“Kemudian di hilir, paling besar komponen di kilang, itu total sampai akhir tahun kurang lebih US$ 900 juta. Proyek Kilang Balikpapan kan telah masuk tahap rekayasa dan segera masuk fase konstruksi pada 2020,” tutur dia.

Pahala baru-baru mengatakan, investasi Pertamina akan terus meningkat. Tahun depan, anggaran investasi Pertamina bisa mencapai US$ 8 miliar. Salah satu faktornya adalah Kilang Balikpapan yang mulai konstruksi.

Berdasarkan catatan Investor Daily, realisasi laba bersih Pertamina cukup fluktuatif dalam empat tahun terakhir. Pada 2015, Pertamina membukukan laba bersih US$ 1,41 miliar. Perseroan mendongkrak pencapaian laba bersih menjadi US$ 3,15 miliar pada 2016. Selanjutnya, pada 2017, Pertamina mencatatkan laba bersih US$ 2,54 miliar. Tahun lalu, laba Pertamina turun tipis menjadi US$ 2,53 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA