Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menghitung uang dolar AS di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta.  Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Teller menghitung uang dolar AS di sebuah tempat penukaran uang di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

PEMERINTAH TERBITKAN SUN VALAS RP 43 TRILIUN

Memasuki 2020, Tren Capital Inflow Berlanjut

Triyan Pangastuti/Nasori, Senin, 13 Januari 2020 | 13:19 WIB

JAKARTA, investor.id – Aliran modal asing masuk (capital inflow) ke Indonesia menunjukkan tren berlanjut memasuki tahun 2020. Dari awal tahun hingga 9 Januari 2020, modal asing neto yang masuk ke sejumlah instrumen investasi di Tanah Air mencapai Rp 10,1 triliun.

Selama periode itu, Rp 10 triliun modal asing singgah di Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 1,3 triliun masuk ke saham atau total Rp 11,3 triliun. Namun, pada saat bersamaan, sebagian dana asing di instrumen lain justru keluar (outflow), sehingga capital inflow neto Rp 10,1 triliun.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, modal asing itu masuk karena didorong oleh imbal hasil (yield) portofolio di Indonesia yang lebih menarik dibandingkan negara lain. Meski begitu, BI mencatat pula adanya aliran modal asing yang keluar dari Indonesia.

“Ada beberapa penurunan di obligasi koorporasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI),” ujar Perry di Gedung BI, Jakarta, akhir pekan lalu. Kendari demikian, menurut dia, tambahan capital inflow Rp 10,1 triliun pada awal tahun itu akan mendorong penguatan stabilitas eksternal.

Menurut dia, daya tarik yield instrumen investasi di Indonesia tersebut terkonfirmasi dari premi risiko investasi yang semakin rendah. "Credit default swap atau CDS kita tetap rendah yakni 60,13 basis poin," tutur Perry yang juga menjabat sebagi Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI).

Sebelumnya dilaporkan, aliran modal asing yang masuk ke portofolio investasi di dalam negeri pada 2019 menembus Rp 224,2 triliun atau naik 1.512,9% dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 13,9 triliun. BI menilai, lonjakan capital inflow ini didorong oleh stabilitas eksternal Indonesia sepanjang tahun lalu yang terjaga baik, di antaranya tercermin pada penguatan nilai tukar rupiah.

Capital inflow yang mencapai Rp 224,2 triliun itu masuk ke berbagai instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) Rp 168,6 triliun, saham sekitar Rp 50 triliun, obligasi korporasi Rp 3 triliun, dan Rp 2,6 triliun ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Aliran masuk modal asing ke Indonesia yang cukup deras, lanjut dia, juga mendorong penguatan nilai tukar rupiah. Bahkan, BI mencatat, rupiah pada, Jumat (10/1) terus menguat di bawah Rp 13.800 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp 13.750 per dolar AS.

Ia berharap, aliran modal asing masuk itu akan memperkuat stabilitas eksternal, neraca pembayaran Indonesia (NPI), khususnya neraca modal pada kuartal I-2019. “Nilai tukar rupiah yang menunjukkan penguatan menandakan fundamental ekonomi kita yang kuat,” ujar Perry.

Menurut dia, fundamental ekonomi dalam negeri yang kuat tecermin melalui beberapa indikator yakni pertumbuhan ekonomi antara 5,1-5,5%, pergerakan inflasi rendah di kisaran sasaran, stabilitas eksternal terjaga, defisit neraca perdagangan dan defisit transaksi berjalan (CAD) sebesar 2,5-3%, dan pembiayaan CAD diproyeksi akan lebih besar dari surplus neraca modal.

"Penguatan rupiah konsisten dengan kondisi fundamental Indonesia membaik ini konsisten," kata dia. Secara mekanisme pasar, Perry menambahkan, penguatan rupiah juga konsisiten didukung oleh mekanisme pasar yang terus berjalan baik, yakni sisi pasokan valas yang lebih tinggi dari sisi permintaan karena aliran inflow dan eksportir yang menjual devisa.

Terkait tensi ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di Timur Tengah yang meningkat maupun Brexit, kata Perry, tidak berdampak signifikan terhadap kondisi makroekonomi dalam negeri, kecuali untuk jangka pendek saja. "Kami tidak melihat dampak signifikan terhadap kondisi makroekonomi dan terhadap stabilitas eksternal maupun pergerakkan rupiah," ujar Perry

 

Global dan Euro Bonds

Sementara itu, mengawali 2020, pemerintah juga melakukan transaksi penjualan Surat Utang Negara (SUN) dalam dua mata uang asing (dual-currency) yaitu dolar AS (global bonds) dan euro (euro bonds) yang setara dengan Rp 43 triliun. SUN valuta asing (valas) ini diterbitkan melalui SEC-Registered Shelf Take-Down dan memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan dalam pernyataannya pekan lalu menyebutkan, transaksi ini melibatkan SUN valas seri RI0230 sebesar US$ 1,2 miliar (sekitar Rp 16,8 triliun) dengan tenor selama 10 tahun atau tanggal jatuh tempo pada 14 Februari 2030 dan tingkat kupon 2,85%.

Kemudian seri RI0250 sebesar US$ 0,8 miliar (Rp 11,2 triliun) dengan tenor selama 30 tahun atau tanggal jatuh tempo 14 Februari 2050 dan tingkat kupon 3,5%. Selain itu, seri RIEUR0227 senilai EUR 1 miliar (Rp 15 triliun) dengan tenor tujuh tahun atau tanggal jatuh tempo 14 Februari 2027 dan tingkat kupon 0,9%.

Menurut DJPPR, pemerintah juga berhasil memperoleh kupon terendah sepanjang sejarah di pasar penerbitan SUN dalam mata uang dolar AS dan euro tersebut di tengah penguatan suku bunga dan credit spread di AS setelah pengumuman kesepakatan tahap pertama antara AS dan Tiongkok pada Desember 2019.

Penerbitan SUN dual currency pada 14 Januari 2020 itu, lanjut DJPPR, dilakukan dengan memanfaatkan kondisi pasar keuangan yang relatif stabil serta sentimen yang kuat dari investor pada awal tahun.

Penerbitan ketiga seri SUN ini akan dicatatkan pada Singapore Stock Exchange dan Frankfurt Stock Exchange. Joint Bookrunners dalam transaksi ini adalah Citigroup, Deutsche Bank, Goldman Sachs, Mandiri Securities, dan Societe Generale, dengan co-managers PT Danareksa Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA